Fikih

Cara Jitu Menangkal Hoax

Sekedar berbagi info dalam uji validitas informasi tretan, supaya tidak terjebak hoax atau kesimpulan yang terlalu dini.

Yang paling awal tentu kroscek, jangan tergesa-gesa membenarkan karena potensinya besar untuk bisa jadi dosa jariyah yang akan menggerus pahala amalan kita nanti. Firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا 

قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala memerintahkan untuk tatsabbut (meninjau ulang) berita dari orang fasik agar hati-hati menyikapi beritanya.

Kemudian secara umum kita bisa juga mengadopsi 3 kaidah ilmu musthalah hadits, yang dengan ilmu itu sekarang kita bisa menikmati hadits shahih dari jalur berita yang sangat valid dan proses penyaringan yang begitu ketat. Yaitu :

Pertama, pembawa berita dalam rekam jejaknya harus benar-benar tsiqqah (jujur).

Kedua, dia menyampaikan sesuai dengan kapasitasnya (keahliannya, memiliki latar belakang ilmu).

Ketiga, menyampaikan sesuatu dengan bahasa yang dipahami oleh pendengar.

Kemudian selanjutnya kita harus waspada dengan beberapa hal, di antaranya : soal judul berita, berita hoax umumnya provokatif dan kontroversial. Kemudian, cek sumber berita aslinya dan cermati dengan baik. Kemudian cek keaslian foto dan video juga tidak hanya tulisan saja. Kemudian perbanyak wawasan dan bacaan serta lebih kritis membaca.

Dan terpenting, redam sikap reaktif yang selalu ingin memforward berita apapun tanpa disaring terlebih dahulu. 

Lebih baik diam sebelum informasinya lengkap dan valid. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas mengatakan,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta apabila dia mengatakan semua yang didengar.” (HR. Muslim no.7).

Semoga tulisan singkat ini bisa jadi manfaat bagi kita di zaman penuh fitnah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *