Aqidah

Tuhan Maha Esa, Tak Mungkin Berbilang

Manusia memiliki fitrah yang menunjukkan akan adanya Tuhan, pun juga manusia memiliki fitrah yang menunjukkan bahwa Tuhan itu Esa, tak berbilang, bukan dua tiga atau lebih.

Dalam kondisi sangat genting dan terdesak, bisa dipastikan hati manusia akan selalu bergantung kepada satu arah saja, kepada Tuhan yang satu. Hatinya akan mencari dan bergantung kepada satu kekuatan terbesar yang diyakini akan menghilangkan bahaya itu. Firman Allah,

وَإِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فِى ٱلْبَحْرِ ضَلَّ مَن تَدْعُونَ إِلَّآ إِيَّاهُ ۖ

Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru KECUALI DIA … (QS Al Isra’ : 67).

Keesaan Tuhan secara fitrah juga ditunjukkan Nabi Yusuf alaihissalam dalam perkataannya yang diabadikan di dalam Quran,

يَٰصَىٰحِبَىِ ٱلسِّجْنِ ءَأَرْبَابٌ مُّتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ ٱللَّهُ ٱلْوَٰحِدُ ٱلْقَهَّارُ

Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?

مَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِهِۦٓ إِلَّآ أَسْمَآءً سَمَّيْتُمُوهَآ أَنتُمْ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ 

بِهَا مِن سُلْطَٰنٍ ۚ إِنِ ٱلْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ 

ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُوَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Pertanyaan Nabi Yusuf kepada penghuni penjara adalah dalam rangka mengaktifkan kembali fitrah mereka agar mereka berpikir, mana yang lebih baik Tuhan yang Esa atau berbilang.

Kemudian ada دليل اتمانع, sebuah logika yang menunjukkan keesaan tuhan. Yaitu seandainya jika ada dua Tuhan (atau lebih) maka hanya ada 3 kemungkinan.

Pertama, kedua Tuhan itu saling menguasai satu sama lain. Maka ini tidak mungkin, jika menguasai dan dikuasai terkumpul dalam satu waktu, atau dualisme kekuatan besar pasti akan menyebabkan kehancuran.

Kedua, sama-sama tidak saling menguasai, atau menguasai sektor tertentu saja. Maka keduanya tidak pantas menjadi Tuhan karena sama-sama memiliki kelemahan. 

Atau saling bersepakat, maka mereka juga tidak pantas menjadi Tuhan karena keduanya masih saling membutuhkan satu sama lain.

Ketiga, salah satu dari Tuhan tersebut menguasai Tuhan lainnya. Maka yang berhak menjadi Tuhan hanyalah satu yang menguasai itu sedangkan yang lain lemah dan bukan Tuhan.

Inilah mengapa dikatakan Islam adalah monotheisme, sedangkan selain Islam adalah paganisme. Jika kita perhatikan dalam konsep paganisme, maka akan selalu ada satu Tuhan yang paling berkuasa, karena manusia tidak bisa lari dari fitrahnya.

Firman Allah,

مَا ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ مِن وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُۥ مِنْ إِلَٰهٍ ۚ إِذًا لَّذَهَبَ كُلُّ إِلَٰهٍۭ بِمَا خَلَقَ 

وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ سُبْحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ

Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) besertaNya, kalau ada tuhan besertaNya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu. (QS. Al Mu’minun : 91).

لَوْ كَانَ فِيهِمَآ ءَالِهَةٌ إِلَّا ٱللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ رَبِّ ٱلْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. (QS. Al Anbiya’ : 22).

قُل لَّوْ كَانَ مَعَهُۥٓ ءَالِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَّٱبْتَغَوْا۟ إِلَىٰ ذِى ٱلْعَرْشِ سَبِيلً

Katakanlah: “Jikalau ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai ‘Arsy”.

سُبْحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يَقُولُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا

Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya. (QS. Al Isra’ : 42-43).

Begitulah, Tuhan itu satu, tak mungkin berbilang. Maha Suci Allah atas apa yang mereka sifatkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *