Fikih

Fikih Seputar Qurban (bagian 2)

Pembahasan bab tentang :

  1. HADITS YANG MASYHUR DI MASYARAKAT BERKAITAN KURBAN, NAMUN TIDAK SHAHIH
  2. BERKURBAN DENGAN CARA HUTANG ATAU IKUT ARISAN KURBAN
  3. MEWAKILKAN PENYEMBELIHAN KURBAN

HADITS YANG MASYHUR DI MASYARAKAT BERKAITAN KURBAN, NAMUN TIDAK SHAHIH

Diantara hadits hadits yang tidak shahih (lemah) bahkan hadits palsu tentang berkurban yang masyhur di masyarakat :

Hadits pertama :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ :

 اسْتَفْرِهُوا ضَحَايَاكُمْ ، فَإِنَّهَا مَطَايَاكُمْ عَلَى الصِّرَاطِ

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Perbaguslah hewan qurban kalian, karena dia akan menjadi tunggangan kalian melewati shirath‘” (HR Ad Dailami, Musnad Al Firdaus : 268, Silsilah Adh Dha’ifah : 74).

Demikian pula dengan lafadz yang lain yang tidak ada asal usulnya :

«عَظِّمُوا ضَحَايَاكُمْ فَإِنَّهَا عَلَى الصِّرَاطِ مَطَايَاكُمْ» 

“Perbesarlah hewan qurban kalian, karena dia akan menjadi tunggangan kalian melewati shirath”

Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani  setelah membawakan hadits ini beliau berkata,

لَمْ أَرَهُ، وَسَبَقَهُ إلَيْهِ فِي الْوَسِيطِ، وَسَبَقَهُمَا فِي النِّهَايَةِ، وَقَالَ مَعْنَاهُ:

 إنَّهَا تَكُونُ مَرَاكِبَ الْمُضَحِّينَ، وَقِيلَ: إنَّهَا تُسَهِّلُ الْجَوَازَ عَلَى 

الصِّرَاطِ، قَالَابْنُ الصَّلَاحِ: هَذَا الْحَدِيثُ غَيْرُ مَعْرُوفٍ وَلَا ثَابِتٌ فِيمَا عَلِمْنَاهُ

“aku tidak pernah melihat (sanad) nya. Hadits ini ada di Al Wasith (karya Al Ghazali) dan kedua hadits tersebut ada di An Nihayah (karya Al Juwaini). Mereka mengatakan tentang maknanya: ‘bahwa hewan kurban akan menjadi tunggangan bagi orang yang berkurban‘. Juga ada yang mengatakan maknanya, ia akan memudahkan orang yang berkurban untuk melewati shirath. Ibnu Shalah berkata: ‘hadits ini tidak dikenal, dan sepengetahuan saya tidaklah shahih’” (Talkhis Al Habir, 2364).

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani  mengatakan, “tidak ada asal-usulnya dengan lafadz ini” (Silsilah Adh Dha’ifah no 74).

Hadits kedua :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي يَوْمِ أَضْحَى: «

مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ فِي هَذَا الْيَوْمِ، أَفْضَلَ مِنْ دَمٍ يُهَرَاقُ،

 إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَحِمًا مَقْطُوعَةًتُوصَلُ»

“Dari Ibnu Abbas ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda pada hari raya idul adha, ‘Tidaklah anak Adam pada hari ini ( hari raya Adha) mengerjakan (amalan) yang lebih baik dari menumpahka darah (qurban), keculai menyambung persaudaraan yang terputus” (HR Thabrani, al Kabir no : 10948, Silsilah Adh Dha’ifah, no 525)

Hadits ketiga :

عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ 

يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، إِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ 

بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَاوَأَظْلَافِهَا، وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ 

أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ، فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا»

Dari Aisyah, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah seorang manusia mengerjakan satu pekerjaan pada hari qurban yang lebih dicintai oleh Allah Ta’ala  daripada menumpahkan darah (menyembelih qurban). Sesungguhnya qurban itu akan datang pada hari qiyamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya. Dan sesungguhnya darah itu berada di satu tempat disisi Allah sebelum Maka baguskanlah nilainya“. (HR Tirmidzi : 1493, Silsilah Adh Dha’ifah : 526)

Hadits keempat :

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ، قَالَ: قَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ  ﷺ : يَا رَسُولَ اللَّهِ،

 مَا هَذِهِ الْأَضَاحِيُّ؟ قَالَ: “سُنَّةُ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ” قَالُوا: فَمَا لَنَا فِيهَا

 يَا رَسُولَاللَّهِ؟ قَالَ: “بِكُلِّ شَعَرَةٍ حَسَنَةٌ” قَالُوا: فَالصُّوفُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟

 قَالَ: “بِكُلِّ شَعَرَةٍ مِنْ الصُّوفِ حَسَنَةٌ 

“Dari Zaid bin Arqam ia berkata, “Para sahabat Rasulullah ﷺ bertanya, Wahai Rasulullah bagaimana (kedudukan) Qurban ? Maka beliau menjawab, Qurban adalah sunnah Ibrahim bapak kalian, mereka bertanya :” Apakah yang kami dapatkan padanya?” Beliau menjawab :” Pada setiap helai rambut ada satu kebaikan,” mereka bertanya : “ Bagaiaman dengan bulu?” beliau menjawab: “Pada setiap helai rambut dari bulu ada satu kebaikan” (HR Ibnu Majah : 3127, Silsilah Adh Dha’ifah : 527)

Hadits kelima :

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ الْحُصَيْنِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : «يَا فَاطِمَةُ 

قَوْمِي فَاشْهَدَيِ أُضْحِيَّتَكَ، فَإِنَّهُ يُغْفَرُ لَكِ بِكُلِّ قَطْرَةٍ مِنْ دَمِهَا 

كُلُّ ذَنْبٍ عَمِلْتِيهِ،وَقُولِي: إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي 

لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ»

“Dari Imran bin Husain berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, Hai Fathimah, berdirilah , saksikanlah hewan kurbanmu! karena sesungguhnya pada tetesan darahnya yang pertama, seluruh dosa yang telah engkau lakukan akan diampuni lalu bacalah (yang artinya) sesungguhnya shalatku dan kurbanku hidup dan matiku hanyalah milik Allah Rabbul ‘alamin, aku tidak menyekutukan Nya dan terhadap yang demikian akau diperintah, serta aku adalah diantara yang pertama berserah diri.” (HR Thabrani, Al Ausath : 2509, Silsilah Adh Dha’ifah : 528)

Hadits keenam :

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ حَسَنِ بْنِ حَسَنٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، قَالَ: 

قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ : «مَنْ ضَحَّى طَيِّبَةً بِهَا نَفْسُهُ، مُحْتَسِبًا 

لِأُضْحِيَّتِهِ؛ كَانَتْ لَهُ حِجَابًامِنَ النَّارِ»

“Dari Abdullah bin Hasan bin Hasan dari bapaknya dari kakeknya berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa yang menyembelih korban dengan jiwa yang senang terhadap (qurban itu), dan dengan mengarhapkan (pahala)  terhadap hewan qurbannya, maka hewan itu sebagai dinding dari neraka untuknya. (HR Thabrani, al Kabir : 2736, Silsilah Adh Dha’ifah : 529)

Hadits ketujuh :

عَنْ عَلِيٍّ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ، ضَحُّوا وَاحْتَسِبُوا 

بِدِمَائِهَا، فَإِنَّ الدَّمَ وَإِنْ وَقَعَ فِي الْأَرْضِ، فَإِنَّهُ يَقَعُ فِي حِرْزِ اللَّهِ جَلَّ وَعَزَّ»

“Dari Ali dari Nabi ﷺ bersabda, “Wahai manusia, hendaklah kalian menyembelih qurban, dan berharaplah pahala dengan darahnya, karena sesungguhnya walaupun darah itu jatuh di tanah, akan tetapi sesungguhnya darah itu jatuh di dalam wadah milik Allah”. (HR Thabrani, Al Ausath : 8319, Hadist ini palsu, Al-Haitsami berkata : “ Diriwayatkan oleh At-Thabrani di dalam Al-Ausath, dan dalam sanadnya ada ‘Amr bin Hushain Al’Uqaili dan dia adalah orang yang hadistnya di tinggalkan” (Lihat: Silsilah Adh Dha’ifah, No. 530).

Hadits kedelapan :

إِنَّ أَفْضَلَ الضَّحَايَا أَغْلاَهَا وَأَسْمَنُهَا

“…Sesungguhnya hewan qurban yang paling utama adalah yang paling mahal dan paling gemuk…” (HR Ahmad 3/424 no 15494, Silsilah Adh Dha’ifah no 1678). 

Dan masih banyak lagi hadits hadits lemah bahkan palsu lainnya terkait masalah berkurban. Wallahu a’lam.

BERKURBAN DENGAN CARA HUTANG ATAU IKUT ARISAN KURBAN

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berkurban dengan cara hutang, Sebagian para ulama membolehkan berkurban dengan cara berhutang, bahkan menganjurkannya, seperti Abu Hatim rahimahullah, beliau pernah berhutang untuk menyembelih binatang kurban dan ketika beliau ditanya, apakah ia berhutang untuk binatang kurban? Beliau menjawab “Ya, karena aku mendengar Allah ﷻ berfirman :

 لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ

 “Kamu akan memperoleh kebaikan yang banyak di dalamnya.’’ (QS. Al-Haj: 36) (Tafsir al-Qur’anul Adhim, Karya Ibnu Katsir 5/427)

Imam Ahmad  termasuk yang menyarankan berhutang untuk menghidupkan sunnah, seperti aqiqah, ketika beliau ditanya salah satu putranya tentang seorang ayah yang mempunyai anak dan belum diaqiqahi karena tidak mampu, maka beliau menjawab;

أَشَدُّ مَا سَمِعْنَا فِي الْعَقِيقَة حَدِيْثُ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ عَنِ النَّبِيِّ 

صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  كُلُّ غُلَامٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ وَإِنِّي لَأَرْجُوْ إِنِ 

اسْتَقْرِضُ أَنْيُعَجِّلَ اللهُ الْخَلَفَ لِأَنَّهُ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَنِ رَسُوْلِ اللهِ 

صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاتَّبَعَ مَا جَاءَ عَنْهُ

 “(Dalil) paling kuat yang pernah aku dengar tentang aqiqah adalah hadits al-Hasan dari Samurah dari Nabi beliau bersabda, “Setiap anak yang dilahirkan tergadai dengan aqiqahnya”, maka aku berharap jika dia berhutang (untuk aqiqah) Allah segera akan menggantinya, sebab dia telah menghidupkan salah satu sunnah Rasulullah ﷺ dan mengikuti apa yang di bawa (Rasul). (Tuhfatul Maudud hlm. 50-51)

Sebagian ulama yang lain melarang berkurban dengan berhutang, seperti yang difatwakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin , beliau mengatakan, “Jika seseorang punya hutang, maka selayaknya mendahulukan pelunasan hutangnya dari pada berkurban.  (Asy-Syarh al-Mumthi’ 7/455)

Namun dalam hal ini di perinci yakni berkurban dengan cara berhutang itu di bolehkan jika diduga kuat bisa membayarnya karena adanya yang diharapkan seperti gaji tetap dan semisalnya.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah  dalam penjelasan lain mengatakan; 

وَأَمَّا اْلاِسْتِقْرَاضُ مِنْ أَجْلِ الْعَقِيْقَةِ فينظر إِذَا كَانَ يَرْجُوْ الْوَفَاءَ 

كَرَجُلٍ مُوَظَّفٍ، لَكِنَّهُ صَادَفَ وَقْتَ الْعَقِيْقَةِ أَنَّهُ لَيْسَ عِنْدَهُ دَرَاهِمُ،

 فَاسْتَقْرَضَ مِنْشَخْصٍ حَتَّى يَأْتِيَ الرَّاتِبُ، فَهَذَا لَا بَأْسَ بِهِ، وَأَمَّا 

إِذَا كَانَ لَيْسَ لَهُ مَصْدَرٌ يَرْجُوْ الْوَفَاءَ مِنْهُ، فَهَذَا لَا يَنْبَغِيْ لَهُ أَنْ يَسْتَقْرِضَ.

“Adapun berhutang untuk aqiqah maka perlu diperinci, jika ada yang diharapkan untuk melunasinya seperti pegawai (yang punya gaji), tatkala bertepatan dengan waktu aqiqah tidak punya uang, kemudian berhutang kepada orang lain sampai mendapatkan gaji, maka tidak mengapa, adapun jika tidak ada yang diharapkan pemasukannya untuk melunasinya maka tidak sepatutnya berhutang.’’ (Liqa’ al-Bab al-Maftuh 8/36)

Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah juga pernah ditanya: Apakah berkurban wajib bagi mereka yang tidak mampu ?. Apakah boleh berkurban dengan hutang yang ambilkan dari gaji tiap bulannya ? Beliau menjawab:

اَلْأُضْحِيَّةُ سُنَّةٌ وَلَيْسَتْ وَاجِبَةً وَلَا حَرَجَ أَنْ يَسْتَدِيْنَ الْمُسْلِمُ لِيُضَحِّيَّ 

إِذَا كَانَ عِنْدَهُ الْقُدْرَةُ عَلَى الْوَفَاءِ.

“Berkurban itu hukumnya sunnah bukan wajib, tidak masalah jika seorang muslim berhutang untuk berkurban jika ia memiliki kemampuan untuk membayarnya”. (Fatawa Ibnu Baaz : 1/37).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah  pernah ditanya tentang seseorang yang tidak mampu berkurban, apakah perlu berhutang ? Beliau menjawab:

إنْ كَانَ لَهُ وَفَاءٌ فَاسْتَدَانَ مَا يُضَحِّي بِهِ فَحَسَنٌ وَلَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَفْعَلَ ذَلِكَ. 

“Kalau ia berhutang dan merasa mampu untuk melunasinya, maka hal itu adalah baik, namun ia sebenarnya tidak wajib melakukannya”. (Majmu’ Fatawa: 26/305)

Dalam hal ini juga masuk didalamnya masalah arisan kurban, bahwa Arisan ini adalah akad utang piutang.

Arisan adalah istilah yang berlaku di Indonesia. Dalam kamus Bahasa Indonesia disebutkan bahwa arisan adalah pengumpulan uang atau barang-barang yang layak oleh beberapa orang, lalu diundi diantara mereka. Undian tersebut dilaksanakan secara berkala sampai semua anggota memperolehnya. (Kamus Umum Bahasa Indonesia, Wjs. Poerwadarminta, PN Balai Pustaka, 1976 hlm:57)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah  ketika ditanya tentang orang yang berhutang untuk suatu kewajiban seperti ibadah haji, beliau menjawab, “Sebaiknya dia tidak melakukan hal itu, karena manusia tidak wajib menunaikan haji jika memiliki tanggungan hutang, bagaimanakah jika berhutang untuk pergi haji maka aku tidak menyarankan berhutang untuk haji, karena haji tidak wajib jika kondisinya seperti ini (belum mampu), dan oleh karenanya sebaiknya dia menerima keringanan dari Alloh dan keluasan rahmat-Nya, dan tidak boleh membebani diri dengan berhutang padahal dia belum tentu bisa melunasinya, bisa saja dia mati sehingga tidak dapat melunasi tanggungan hutangnya. (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin 21/93) .

Maka kesimpulannya bahwa arisan ini masuk kepada aqad hutang piutang dan hukum berkurban dengan cara hutang telah disebutkan perinciannya, wallahu a’lam.

MEWAKILKAN PENYEMBELIHAN KURBAN

Ibadah kurban adalah bentuk ibadah yang dengannya seseorang bertaqarub kepada Allah ta’ala , maka hukum asalnya lebih utama untuk melakukannya sendiri, termasuk dalam masalah berkurban ini, sebagaimana Rasulullah ﷺ pun menyembelih sendiri, akan tetapi sebagaimana hadits Ali bin Abi Thalib diatas dimana Rasulullah ﷺmewakilkan kepada Ali radhiyallahu anhu , yang menunjukan bolehnya diwakilkan.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu ia berkata :

ضَحَّى النَّبِيُّ ﷺ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى،

 وَكَبَّرَ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا .

“Rasulullah ﷺ berkurban dengan dua ekor kambing kibasy yang putih ada hitamnya, bertanduk, beliau menyembelihnya sendiri menyebut nama Allah dan bertakbir, beliau meletakan kakinya di lambung keduanya” (HR Bukhari Muslim)

Imam Al Bukhari rahimahullah berkata :

وَأَمَرَ أَبُو مُوسَى بَنَاتَهُ أَنْ يُضَحِّينَ بِأَيْدِيهِنَّ

“Abu Musa (Al Asy’ary) memerintahkan putrinya (yang berkurban) untuk menyembelih dengan tangan mereka sendiri” (Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani 10/19)

DR Wahbah Az Zuhaili hafidzahullah berkata :

يُسْتَحَبُّ لِمُرِيْدِ التَّضْحِيَّةِ أَنْ يَذْبَحَ بِنَفْسِهِ إِنْ قَدَرَ عَلَيْهِ؛ لِأَنَّهُ قُرْبَةٌ، 

وَمُبَاشَرَةُ الْقُرْبَةِ أَفْضَلُ مِنْ تَفْوِيْضِ إِنْسَانٍ آخَرَ فِيْهَا،

 فَإِنْ لَمْ يُحْسِنِ الذَّبْحَفَالْأَوْلَى تَوْلِيَتُهُ مُسْلِمًا يُحْسِنُهُ 

“Sangat dianjurkan bagi orang yang ingin berkurban menyembelih sendiri hewan kurbannya jika dia memiliki kemampuan akan hal itu, karena sesungguhnya berkurban itu merupakan ibadah yang mengharap kedekatan kepada Allah ta’ala, maka meniti jalan kedekatan tersebut secara langsung itu lebih utama daripada mewakilkannya kepada orang lain, namun jika tidak memiliki kemampuan yang baik dalam hal menyembelih memang ada baiknya diwakilkan kepada seorang muslim yang memiliki kafaah dibidang tersebut,

وَيُسْتَحَبُّ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ أَنْ يَشْهَدَ الأُضْحِيَّةَ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ 

وَسَلَّمَ لِفَاطِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: يَا فَاطِمَةُ قُومِي إِلَى أُضْحِيَّتِكِ 

فَاشْهَدِيهَا وَقَدِاتَّفَقَتِ الْمَذَاهِبُ عَلَى هَذَا

dan sangat dianjurkan dia menyaksikan saat penyembelihan. Sebagaimana sabda ﷺ kepada Fatimah Radliallahu Anha : Wahai Fatimah bangkitlah dan saksikanlah hewan sembelihanmu. Semua imam madzhab yang empat sepakat akan hal ini“ (Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu” (273/4 ). Demikian wallahu a’lam.

Semua faedah diambil dari ustadzuna Abu Ghozie As Sundawie hafidzahullahu taala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *