Fikih

Fikih Seputar Qurban (bagian 3)

Pembahasan bab tentang :

  1. MEMBERI UPAH TUKANG JAGAL DENGAN DAGING KURBAN
  2. BERKURBAN UNTUK MAYYIT
  3. BERKURBAN ITU KEWAJIBAN PER-KELUARGA BUKAN PER-ORANG
  4. BOLEH BERKURBAN DENGAN HEWAN BETINA 
  5. BATAS MAKSIMAL PATUNGAN KURBAN   

MEMBERI UPAH TUKANG JAGAL DENGAN DAGING KURBAN

Tidak diperbolehkan memberi upah tukang jagal dengan daging kurban jika kita menggunakan jasa mereka dalam menyembelih kurban, karena hal ini termasuk bentuk menjual sesuatu bagian dari binatang kurban yang terlarang.

Oleh karenanya upah harus diambil dari uang kita sendiri bukan diambil dari daging kurban. 

Adapun memberi hadiyah daging kurban sebagai hadiah pemnerian dan bukan sebagai upah kepada tukang jagal maka ini dibolehkan.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata;

أَمَرَنِيْ رَسُوْلُ اللَّهِ ﷺ أَنْ أَقُوْمَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا 

وَجُلُوْدِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لَا أُعْطِىَ الْجَزَّارَ مِنْهَا قَالَ : نَحْنُ نُعْطِيْهِ مِنْ عِنْدِنَا.

“Rasulullah ﷺ memerintahkan kepadaku untuk mengurusi qurbannya, agar aku membagi-bagikan (semua) dagingnya, kulitnya, dan pakaian (unta tersebut) dan aku tidak diperbolehkan memberi suatu apapun dari qurban kepada penyembelihnya.” Lalu Ali radhiyallahu anhu berkata, “Kami memberinya (upah) dari apa yang kami miliki.” (HR. Bukhari: 1621 dan Muslim : 1317)

Demikian dalam hadits diatas bahwa Nabi ﷺ mewakilkan kurbannya kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, dan beliau  ﷺ pernah berkurban dengan unta bukan hanya dengan kambing, dan hadits ini pun menunjukan bahwa daging kurban itu selain dianjurkan untuk di makan oleh si pekurban juga  hendaknya di sedekahkan.

Dan termasuk tidak boleh menjual sesuatupun dari binatang kurban hingga kulitnya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ 

وَسَلَّمَ: مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَّتِهِ فَلَا أُضْحِيَّةَ لَهُ

“Dari Abu Hurairah  ia berkata, “Telah bersabda Rasulullah ﷺ “ Barang siapa yang menjual kulit binatang kurban maka tidak ada kurban baginya” (HR Al Baihaqi, Sunan Al Kubra No : 19233, Di shahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah , Shahih At Targhib Wat Tarhib hal. 455)

Untuk solusi kulit kurban maka caranya tetapkan dulu pembagiannya lalu setelah ditetapkan maka di beri kebebasan bagi yang sudah memiliki untuk di jual, jadi larangan menjual kulit atau daging kurban hanya bagi si pekurban adapun bagi yang di beri daging kurban maka bebas untuk memanfaatkan baik di makan ataupun di jual, wallahu a’lam

BERKURBAN UNTUK MAYYIT

Para ulama telah bersepakat atas bolehnya berkurban untuk orang yang telah meninggal dalam rangka menunaikan wasiatnya atau menunaikan nadzarnya.

Adapun berkurban dari ahli waris atau orang lain diatas namakan untuk orang yang telah meninggal maka dalam hal ini ada khilaf dikalangan para ulama.

Imam Tirmidzi rahimahullah berkata :

وَقَدْ رَخَّصَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنْ يُضَحَّى عَنْ الْمَيِّتِ ، وَلَمْ يَرَ بَعْضُهُمْ 

أَنْ يُضَحَّى عَنْهُ . وقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ : أَحَبُّ إِلَيَّ أَنْ يُتَصَدَّقَ 

عَنْهُ وَلايُضَحَّى عَنْهُ 

“Sungguh sebagian ulama membolehkan berkurban atas nama mayyit, dan sebagian yang lain tidak membolehkan. Imam Ibnul Mubarak rahimahullah mengatakan, Aku lebih suka bersdekah atas nama mayyit daripada berkurban atas namanya”

Pendapat pertama :

Mayoritas para ulama dari kalangan madzhab Hanafi, Maliki dan hanbali membolehkan hal tersebut karena kematian itu tidaklah menghalangi untuk berbuat baik atas nama mayyit sebagaimana dalam bersedekah, dan haji karena ada Riwayat dari nabi ﷺ bahwa beliau berkurban dengan dua ekor kambing Kibasy salah satunya atas nama beliau sendiri dan keluarganya dan yang satunya lagi atasnama umatnya yang tidak mampu berkurban. segi pendalilannya adalah bahwa diantara keluarga atau umat nabi shalallahu alaihi wasallam tersebut ada diantaranya yang sudah meninggal.

Pendapat kedua :

Adapun Madzhab Syafi’I berpendapat tidak boleh berkurban mengatas namakan khsusus untuk mayyit selain wasitanya atau wakaf (lihat pembahasan ini dalam kitab Al Fiqih al Muyassar 4/124)

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah diantara ulama yang merojihkan pendapat Imam Syafi’i  yaitu yang tidak menganjurkan berkurban secara khusus untuk mayyit, kecuali kalau ada wasiat atau nadzar dari Mayyit tersebut.

Beliau rahimahullah mengatakan :

أَنَّ الْأُضْحِيَّةَ عَنِ الْأَمْوَاتِ ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ : 

”Berkurban untuk orang yang sudah meninggal dunia itu terdiri dari tiga macam: 

الْقِسْمُ الْأَوَّلُ : أَنْ تَكُوْنَ تَبَعاً لِلْأَحْيَاءِ كَأَنْ يُضَحِّيَ عَنْ نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ 

وَفِيْهِمْ أَمْوَاتُ كَمَا فَعَلَ النَّبِيُّ ﷺ.

Pertama : Berkurban (dan keluarga) sebagai Penyerta (dalam pahala) misalnya berkurban untuk diri sendiri dan keluarga, yang di antaranya terdapat orang yang sudah meninggal dunia, sebagaimana yang pernah dilakukan olen Rasulullah  ﷺ

الْقِسْمُ الثَّانِيُّ : أَنْ يُضَحِّيَ عَنِ الْمَيِّتِ اسْتِقْلَالاً، فَقَدْ نَصَّ عَلَيْهِ 

فُقَهَاءُ الْحَنَابِلَةِ، وَبَعْضُ الْعُلَمَاءِ لَا يَرَىْ ذَلِكَ إِلَّا أَنْ يُوْصِي الْمَيِّتُ بِذَلِكَ.

Kedua : Berkurban untuk orang yang sudah meninggal dunia secara khusus. Hal ini para ahli fiqih dari madzhab Hanbali menyatakan ada dalilnya. Sebagian ulama tidak melihat hal tersebut kecuali jika orang yang meninggal itu berwasiat agar dilakukan hal tersebut. 

الْقِسْمُ الثَّالِثُ : أَنْ يُضَحِّيَ عَنِ الْمَيِّتِ بمُوْجِبِ وَصِيَّةٍ مِنْهُ فَتَنْفُذُ الْوَصِيَّةَ

Ketiga : Berkurban untuk orang yang sudah meninggal dunia sebagai suatu kewajiban yang didasarkan pada wasiat sehingga wasiatnya itu yang diterapkan”. (Ahkaamul Adhaahii, hlm. 17). 

Syaikhul Islam rahimahullah memilih berpendapat bahwa berkurban bagi orang yang sudah meninggalkan dunia itu lebih baik daripada sedekah dengan harga dari hewan tersebut. (Al-Ikhtiyaaraat, hlm. 118).

Syaikh Muhammad Ibnu Utsaimin menguatkan pendapat tersebut dengan alasan sebagai berikut :

مَشْرُوْعَةٌ عَنِ الْأَحْيَاءِ، إِذْ لَمْ يَرِدْ 

عَنِ النَّبِيِّ a وَلَا عَنِ الصَّحَابَةِ فِيْمَا أَعْلَمْ أَنَّهُمْ ضَحُّوا عَنِ الْأَمْوَاتِ اسْتِقْلَالَاً 

“Berkurban disyari’atkan bagi orang yang hidup karena tidak adanya dalil dari Nabi ﷺ dan para sahabatnya bahwa mereka berkurban mengatasnamakan orang yang telah meninggal secara khusus,

فَإِنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ مَاتَ لَهُ أْوَلَادٌ مِنْ بَنِيْنٍ أَوْ بَنَاتٍ فِيْ حَيَاتِهِ، 

وَمَاتَ لَهُ زَوْجَاتٌ وَأَقَارِبٌ يُحِبُّهُمْ، وَلَمْ يُضَحِّ عَنْ وَاحِدٍ مِنْهُمْ 

Karena sesungguhnya Rasulullah ﷺ memiliki beberapa anak laki-laki dan perempuan, beberapa orang istri, dan kerabat dekat yang beliau cintai, yang meninggal dunia mendahului beliau. Namun Nabi ﷺ tidak pernah berkurban secara khusus atas nama salah satu diantara mereka.

فَلَمْ يُضَحِّ عَنْ عَمِّهِ حَمْزَةَ وَلَا عَنْ زَوْجَتِهِ خَدِيْجَةَ، وَلَا عَنْ زَوْجَتِهِ زَيْنَبْ 

بِنْتِ خُزَيْمَةَ، وَلَا عَنْ بَنَاتِهِ الثَّلاَثِ، وَلَا عَنْ أَوْلَادِهِ ـ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ، 

Beliau tidak pernah berkurban atas nama pamannya Hamzah, atau atas nama istri beliau Khadijah atau istri beliau Zainab binti Khuzaimah, tidak pula untuk tiga putrinya dan anak-anaknya radliallahu ‘anhum.

وَلَوْ كَانَ هَذَا مِنَ الْأُمُوْرِ الْمَشْرُوْعَةِ لِبَيَّنِهِ الْرَّسُوْلُ ﷺ فِيْ سُنَّتِهِ قَوْلاً 

أَوْ فِعْلاً، وَإِنَّمَا يُضَحِّي الْإِنْسَانُ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ.

Andaikan ini disyariatkan, tentu akan dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ baik dalam bentuk perbuatan maupun ucapan. Oleh Karena itu, hendaknya seseorang berkurban atas nama dirinya dan keluarganya. (Syarhul Mumthi’, 7/287).

Meskipun demikian, Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah tidaklah menganggap bentuk berkurban secara khusus atas nama mayit sebagai perbuatan bid’ah. Beliau mengatakan, 

وَلِهَذَا قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ : إِنَّ الْأُضْحِيَّةَ عَنْهُمُ اسْتِقْلَالاً بِدْعَةٌ يُنْهَى 

عَنْهَا، وَلَكِنَّ الْقَوْلَ بِالْبِدْعَةِ قَوْلٌ صَعْبٌ؛ لِأَنَّ أَدْنَى مَا نَقُوْلُ فِيْهَا: إِنَّهَا 

مِنْ جِنْسِالصَّدَقَةِ، وَقَدْ ثَبَتَ جَوَازُ الصَّدَقَةِ عَنِ الْمَيِّتِ 

“Oleh karena itu sebagian ulama mengatakan, berqurban secara khusus atas nama mayit adalah bid’ah yang terlarang. Namun vonis bid’ah di sini terlalu berat, karena keadaan minimal yang bisa dikatakan bahwa kurban atas nama orang yang sudah meninggal termasuk sedekah. Dan terdapat dalil yang shahih tentang bolehnya bersedekah atas nama mayit”

وَإِنْ كَانَتِ الْأُضْحِيَةُ فِيْ الْوَاقِعِ لَا يُرَادُ بِهَا مُجَرَّدُ الصَّدَقَةِ بِلَحْمِهَا، 

أَوِ الْاِنْتِفَاعِ بِهِ لِقَوْلِ اللهِ تَعَالَى : {لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا 

وَلَكِن يَنَالُهُالتَّقْوَى مِنكُمْ} [الحج: 37]، وَلَكِنْ أَهَمُّ شَيْءٍ فِيْهَا 

هُوَ التَّقَرَّبُ إِلَى اللهِ بِالذَّبْحِ.

Walaupun pada dasarnya berkurban itu bukan sekedar sedekah dengan daging atau memanfaatkannya, karena Allah  berfirman, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” Akan tetapi yang paling penting adalah taqarrub kepada Allah dengan menyembelih. (Syarhul Mumthi’, 7/287)

Kesimpulannya : 

Kita harus berlapang dada dalam mensikapi khilafiyyah ijtihadiyyah dalam permasalahan seperti ini, namun yang menarik adalah bahwa madzhab syafi’iyyah sangat tegas dalam masalah hukum meniatkan beribadah untuk mayyit atau menghadiyahkan pahala untuk mayyit seperti dalam masalah kurban ini, termasuk juga dalam masalah mengirimkan hadiyah pahala bacaan al Quran untuk mayyit dimana dalam madzhab  syafi’iyyah menyatakan  tidak sampainya pahala bacaan al Quran yang dihadiyyahkan untuk mayyit, hal ini  berbeda dengan madzhab Hanbali yang justru mengatakan sampainya pahala bacaan al Quran untuk mayyit.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah seorang ulama besar dari kalangan madzhab syafi’i mengatakan :

وَأَمَّا قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ وَجَعْلُ ثَوَابِهَا لِلْمَيِّتِ وَالصَّلَاةُ عَنْهُ وَنَحْوُهُمَا 

فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَالْجُمْهُورِ أَنَّهَا لَا تَلْحَقُ الْمَيِّتَ وَفِيهَا خِلَافٌ

“Adapun membaca Al-Qur’an dan menjadikan pahalanya untuk mayat, sholat atas mayat dan juga yang semisal keduanya maka madzhab Asy-Syafi’i dan mayoritas ulama berpendapat bahwasanya hal-hal tersebut tidak akan sampai kepada mayyit dan masalah ini ada perbedaan pendapat” (Al-Minhaaj syarh Shahih Muslim 11/58).

Demikian juga Ketika menafsirkan firman Allah 

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QS. An-Najm: 39).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah seorang ulama ahli tafsir yang juga bermadzhab syafi’i menjelaskan :

وَمِنْ هَذِهِ الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ اسْتَنْبَطَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَمَنِ اتَّبَعَهُ،

 أَنَّ الْقِرَاءَةَ لَا يَصِلُ إِهْدَاءُ ثَوَابِهَا إِلَى الْمَوْتَى، لِأَنَّهُ لَيْسَ 

مِنْ عَمَلِهِمْ وَلَا كَسْبِهِمْ

Dari ayat ini Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah berkesimpulan bahwa bacaan Al-Qur’an tidak sampai pahalanya pada mayit karena bacaan tersebut bukan amalan si mayit dan bukan usahanya. 

 وَلِهَذَا لَمْ يَنْدُبْ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أُمَّتَهُ وَلَا حَثَّهُمْ عَلَيْهِ 

وَلَا أَرْشَدَهُمْ إِلَيْهِ بِنَصٍّ وَلَا إِيمَاءٍ، 

Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ tidak menganjurkan umatnya dan tidak memotivasi mereka untuk melakukan hal tersebut. Tidak ada nash (dalil) dan tidak ada bukti otentik yang memuat anjuran tersebut. 

وَلَمْ يُنْقَلْ ذَلِكَ عَنْ أَحَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، وَلَوْ كَانَ 

خَيْرًا لَسَبَقُونَا إِلَيْهِ، وَبَابُ الْقُرُبَاتِ يُقْتَصَرُ فِيهِ عَلَى النُّصُوصِ 

وَلَا يُتَصَرَّفُ فِيهِبِأَنْوَاعِ الْأَقْيِسَةِ وَالْآرَاءِ، 

Dan tidak dinukil pula dari seorangpun dari kalangan para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum tentang masalah ini.  Jika amalan tersebut baik, tentu para sahabat lebih dahulu melakukannya. Dalam masalah ibadah  hanya terbatas pada dalil, tidak bisa dipakai analogi dan pendapat (seseorang) 

فَأَمَّا الدُّعَاءُ وَالصَّدَقَةُ فَذَاكَ مُجْمَعٌ عَلَى وُصُولِهِمَا وَمَنْصُوصٌ 

مِنَ الشَّارِعِ عَلَيْهِمَا.

Adapun amalan do’a dan sedekah, maka para ulama sepakat akan sampainya (bermanfaatnya) amalan tersebut dan didukung pula dengan dalil (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir, 7/465). 

Demikian semoga hal ini jadi pelajaran bagi kita dan khususnya yang mengaku bermadzhab syafi’i namun sangat gigih dalam mempertahankan amaliyah yang justru bertentangan dengan pendapat imam syafi’i sendiri, padahal pendapat Syafi’i dalam masalah ini nampak kuat,  wallahu a’lam.

BERKURBAN ITU KEWAJIBAN PER-KELUARGA BUKAN PER-ORANG

Kewajiban berkurban itu adalah satu ekor unta atau sapi atau kambing itu untuk mewakili satu keluarga, bukan kewajiban atas tiap tiap anggota keluarga. 

Diriwayatkan dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu anhu, ia berkata;

كَانَ الرَّجُلُ فِيْ عَهْدِ النَّبِيِّ ﷺ  يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ 

أَهِلِ بَيْتِهِ، فَيَأْكُلُوْنَ وَيُطْعِمُوْنَ.

”Pada zaman Rasulullah ﷺ ada seseorang yang berqurban seekor kambing untuk dirinya dan keluarganya. Mereka memakan (daging qurban mereka) dan mereka memberi makan (orang lain).” (HR. Tirmidzi : 1505, Ibnu Majah : 3147. Hadits ini derajatnya hasan shahih).

Rasulullah ﷺ juga bersabda :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ عَلَى أَهْلِ كُلِّ بَيْتٍ فِي كُلِّ عَامٍ أُضْحِيَّةٌ

“Wahai sekalian manusia sesungguhnya atas tiap satu keluarga dalam tiap tahunnya wajib berkurban” (HR Abu Dawud, Shahih Abu Dawud : 3487)

Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata :

“Dan diantara bentuk petunjuk Nabi ﷺ (dalam berkurban) adalah bahwa satu kambing mencukupi untuk seseorang dan Keluarganya walaupun jumlah anggota keluarganya banyak sebagaimana Atho bin Yasaar telah berkata, “Aku bertanya kepada Abu Ayyub Al Anshari , bagaimana berkurban pada zaman Rasulullah ﷺ ? maka dia menjawab ”Dahulu jika  seseorang berqurban seekor kambing maka mencukupi untuk dirinya dan keluarganya. Mereka memakan (daging qurban mereka) dan mereka memberi makan (orang lain).” (Zaadul Ma’aad, Ibnu Qoyyim 2/295)

Namun bagi yang mampu tentunya boleh berkurban lebih dari satu ekor, wallahu a’lam.

BOLEH BERKURBAN DENGAN HEWAN BETINA 

Diantara kesalahan sebagian kaum muslimin adalah merasa tidak enak, merasa bersalah apalagi merasa tidak sah jikalau berkurban atau aqiqah dengan binatang yang betina, padahal yang benar dalam masalah ini dibolehkan berkurban ataupun aqiqah baik betina ataupun jantan, bahkan mungkin hewan betina yang gemuk lebih afdhal daripada hewan jantan yang kurus.

Diriwayatkan dari Ummu Kurzin radhiyallahu anha , Rasulullah ﷺ bersabda;

عَنِ الْغُلَامِ شَاتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ لَا يَضُرُّكُمْ ذُكْرَانًا كُنَّ أَمْ إِنَاثًا.

“Aqiqah untuk anak laki-laki dua ekor kambing dan anak perempuan satu ekor kambing. Tidak masalah jantan maupun betina.” (HR. Ahmad : 27900. Hadits ini dishahihkan Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ : 4106). 

Walaupun didalam hadits diatas berkaitan tentang masalah aqiqah akan tetapi jenis dan kriteria binatang untuk berkurban adalah sama dengan binatang untuk aqiqah.

Kesimpulannya : 

Boleh berkurban dengan hewan betina termasuk dengan hewan yang sedang buting hanya saja yang jantan tentu lebih baik karena biasanya yang betina itu lebih murah dan yang jantan lebih mahal harganya dan juga karena Rasulullah ﷺ berkurban dengan kambing jantan yang bertanduk Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu ia berkata :

ضَحَّى النَّبِيُّ ﷺ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى،

 وَكَبَّرَ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا .

“Rasulullah ﷺ berkurban dengan dua ekor kambing kibasy yang putih ada hitamnya, bertanduk, beliau menyembelihnya sendiri menyebut nama Allah dan bertakbir, beliau meletakan kakinya di lambung keduanya” (HR Bukhari Muslim) (Ad Durar Al Bahiyyah, hal. 11).

BATAS MAKSIMAL PATUNGAN KURBAN   

Seekor unta boleh patungan untuk tujuh orang dan maksimal untuk sepuluh orang. 

Sedangkan seekor sapi dapat digunakan patungan untuk tujuh orang. 

Dari Jabir bin ’Abdillah radhiyallahu anhu berkata;

نَحَرْنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ عَامَ الْحُدَيْبِيَةِ : اَلْبَدَنَةُ عَنْ سَبْعَةٍ, وَالْبَقَرَةُ عَنْ سَبْعَةٍ.

”Kami pernah menyembelih bersama Rasulullah ﷺ pada tahun Hudaibiyyah seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang.” (HR. Muslim : 1318).

Diriwayatkan dari Ibnu ’Abbas , ia berkata;

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ فِيْ سَفَرٍ فَحَضَرَ الْأَضْحَى فَاشْتَرَكْنَا فِي الْبَقَرَةِ 

سَبْعَةٌ وَفِي الْجُزُوْرِ عَشْرَةٌ.

”Kami pernah bepergian bersama Nabi ﷺ. Lalu tibalah hari raya qurban, kemudian kami berpatungan (berserikat); seekor sapi untuk tujuh orang dan seekor unta untuk sepuluh orang.” (HR. Tirmidzi : 905, Ibnu Majah : 3131).

Maka diantara kekeliruan dalam masalah patungan kurban adalah apa yang dilakukan di sebagian sekolah sekolah dimana para siswa yang jumlahnya puluhan bahkan ratusan orang berpatungan atau urunan untuk membeli hewan kurban lalu menyembelih dengan niat berkurban, terkadang sebagian mereka beralasan untuk melatih berderma dan berkurban, maka hal ini keliru karena berkurban adalah ibadah yang ada ketentuannya, bukan sekedar makan daging saja atau membagikan daging saja, akan tetapi perkara ibadah yang suadh ditetapkan tatacarnya dan batasan batasannya.

Oleh karena itu Nabi ﷺ menghukumi tidak sah kurbannya sahabat Abu Burdah bin Niyar radhiyallahu anhu, yang merupakan paman dari al-Barra bin Azib , yang telah menyembelih hewan kurbannya diluarnketentuan waktunya yaitu menyembelih sebelum berangkat shalat ‘Id, dengan harapan bisa segera sarapan dengan daging kurban tersebut. Setelah mendengarnkhutbah Nabi ﷺ bahwa tidak sah berkurban sebelum shalat ied, akhirnya dia menghadap kepada Rasulullah ﷺ seraya berkata :

 يا رَسولَ اللَّهِ، فإنِّي نَسَكْتُ شاتي قَبْلَ الصَّلاةِ، وعَرَفْتُ أنَّ اليومَ يَوْمُ 

أكْلٍ وشُرْبٍ، وأَحْبَبْتُ أنْ تَكُونَ شاتي أوَّلَ ما يُذْبَحُ في بَيْتِي، 

فَذَبَحْتُشاتي وتَغَدَّيْتُ قَبْلَ أنْ آتِيَ الصَّلاةَ، قالَ: شاتُكَ شاةُ لَحْمٍ

 Ya Rasulullah, aku menyembelih kambingku sebelum shalat. Karena aku tahu ini hari makan dan minum. Aku ingin agar kambingku pertama kali disembelih di rumahku. Maka aku pun menyembelih kambingku, dan  sarapan dengannnya sebelum berangkat shalat. Rasulullah ﷺ pun berkata, Kambingmu hanya sembelihan biasa (bukan kurban). (HR Bukhari dan Muslim).

Dari hadits diatas mengandung pelajaran bahwa berkurban bukan sekedar menyembelih hewan atau membagikan daging saja, akan tetapi ada ketentuan waktunya, jenis hewannya, caranya, termasuk dalam masalah patungan pun ada batasannya, yang telah diatur oleh syari’at, wallahu a’lam.

Seluruh faedah diambil dari ustadzuna Abu Ghozie As Sundawie hafidzahullahu taala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *