Fikih

Hadits Palsu Puasa Tarwiyah & Sunnah Puasa Arafah

Hampir setiap menjelang 8 dzulhijjah selalu muncul broadcast tentang hadits maudlu’ yang mengkhususkan puasa tarwiyah beserta keutamaannya,

مَنْ صَامَ الْعَشْرَ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَوْمُ شَهْرٍ ، وَلَهُ بِصَوْمِ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ سَنَةٌ ،

 وَلَهُ بِصَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ سَنَتَانِ

“Siapa yang puasa 10 hari, maka untuk setiap harinya seperti puasa sebulan. Dan untuk puasa pada hari tarwiyah seperti puasa setahun, sedangkan untuk puasa hari arafah, seperti puasa dua tahun.”

Salah seorang perawinya kaddzab, Muhammad bin Saaib Al-Kalbiy bisa kita temukan dalam kitab-kitab Jarh wa Ta’dil, dia juga pernah mengatakan kepada Sufyan Ats-Tsauri, “Apa-apa hadits yang engkau dengar dariku dari jalan Abi Shaalih dari Ibnu Abbas, maka hadits ini dusta” (Sedangkan hadits di atas Kalbiy meriwayatkan dari jalan Abi Shaalih dari Ibnu Abbas). 

Imam Hakim berkata : “Ia meriwayatkan dari Abi Shaalih hadits maudlu’ (palsu)”.

As-Syaukani dalam Fawaid Majmu’ah mengatakan,

رواه ابن عدي عن عائشة مرفوعاً ولا يصح وفي إسناده : الكلبي كذاب

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibn Adi dari A’isyah secara marfu’. Dan ini tidak shahih, dalam sanadnya terdapat perawi Al Kalby, seorang pendusta.

Ibnul Jauzi dalam Al Maudhu’at juga mengatakan,

وهذا حديث لا يصح . قَالَ سُلَيْمَان التَّيْمِيّ : الطبي كذاب .

 وَقَالَ ابْن حِبَّانَ : وضوح الكذب فِيهِ أظهر من أن يحتاج إِلَى وصفه

Hadits ini tidak shahih. Berkata Sulaiman at-Taimi, ’at-Thibbi pendusta.’ Ibnu Hibban menilai, ’at-Thibbi jelas-jelas pendusta. Sangat jelas sehingga tidak perlu dijelaskan lagi’.

Maka dari keterangan di atas bisa kita simpulkan bahwa tidak ada keutamaan khusus hari tarwiyah. Sedangkan keutamaan hari arafah, ada.

Kesimpulannya intinya kita tetap disunnahkan melaksanakan puasa pada hari tarwiyah, karena termasuk anjuran memperbanyak puasa selama 9 hari pertama Dzulhijjah, namun kita tidak boleh meyakini ada keutamaan khusus untuk puasa di tanggal 8 Dzulhijjah saja.

Adapun puasa Arafah 9 Dzulhijjah disunnahkan sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ اَحْتَسِبُ عَلَى اللّهِ اَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ

 الَّتِيْ بَعْدَهُ، وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ اَحتَسِبُ عَلَى اللّهِ اَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْقَبْلَهُ 

“Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162).

Imam Nawawi menambahkan keterangan hadits ini dalam Al Majmu’ bahwa puasa arafah berdasarkan pendapat ulama syafi’iyyah disunnahkan bagi yang tidak berhaji, sedangkan bagi yang berhaji disunnahkan untun tidak puasa.

Tentang dosa yang diampuni, para ulama mengatakan dosa-dosa kecil saja. Imam Nawawi rahimahullah mengatakan dalam Syarh Shahih Muslim, Jika bukan dosa kecil yang diampuni, moga dosa besar yang diperingan. Jika tidak, semoga ditinggikan derajatnya”.

Demikian disimpulkan dari penjelasan ustadzuna Abdul Hakim Amir Abdat dan ustadzuna Ammi Nur Baits, ditambah keterangan dari kitab-kitab para ulama.

Semoga Allah memberikan kita hidayah untuk terus beramal shalih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *