Fikih

Fikih Seputar Qurban (bagian 1)

Pembahasan bab tentang :

  1. SEPULUH HARI YANG ISTIMEWA 
  2. TIGA JENIS NIAT DALAM BERKURBAN 
  3. HUKUM BERKURBAN DI TEMPAT LAIN

SEPULUH HARI YANG ISTIMEWA 


Diantara keistimewaan bulan Dzulhijjah adalah keutamaan beramal shalih di sepuluh hari pertama. 

Allah ﷻ berfirman,

{وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ}

“Demi waktu fajar. Dan demi malam yang sepuluh.” [Al-Fajr: 1-2]

Banyak ahli tafsir menjelaskan bahwa makna “malam yang sepuluh” dalam ayat diatas adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dan Allah ta’ala bersumpah dengannya menunjukkan bahwa ia memiliki keutamaan. 

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan dalam Tafsir beliau,

وَاللَّيَالِي الْعَشْرُ الْمُرَادُ بِهَا عَشَرُ ذِي الْحِجَّةِ كَمَا قَالَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ 

وَابْنُ الزُّبَيْرِ وَمُجَاهِدٌ وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ.

“Sepuluh malam yang dimaksud dalam ayat ini adalah sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Ibnuz Zubair, Mujahid dan banyak lagi ulama dari kalangan Salaf dan Khalaf yang berpendapat demikian.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/390)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhuma  ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda :

مَا مِنْ أَيَّامٍ العَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ 

العَشْرِ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلَا الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ فَقَالَ 

رَسُولُ اللَّهِ ﷺ  : وَلَاالجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ 

بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ 

“Tidaklah ada hari hari yang amal shalaih pada hari hari tersebut lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari pertama dibulan dzulhijjah. Maka para sahabat bertanya, “wahai Rasulullah apakah (amal shalih tersebut) lebih Allah cintai dari pada jihad fi sabilillah ?”. beliau menjawab, “iya walupun dengan jihad fi sabilillah, kecuali sesorang yang keluar (berjihad) dengan diri dan hartanya lalu tidak kembali setelah itu selamanya (syahid)” (HR Bukhari : 926, Abu Dawud : 2438, Ahmad : 1968)

Dalam lafadz yang lain :

مَا مِنْ عَمَلٍ أَزْكَى عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا أَعْظَمَ أَجْرًا مِنْ خَيْرٍ يَعْمَلُهُ

 فِي عَشْرِ الْأَضْحَى

“tidak ada amalan yang paling utama disisi Allah ‘Azza wajalla, tidak juga lebih agung pahalanya daripada amalan yang dilakukan pada sepuluh hari (pertama) bulan dzulhijjah” (HR Ad-Darimi, Irwaul Ghalil 3/398)

Dalam riwayat Imam Ahmad rahimahullah ada tambahan :

فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

“Maka perbanyaklah padanya tahlil (mengucapkan laa ilaaha illallah), Takbir (mengucapkan Allahu Akbar), dan tahmid (mengucapkan Al Hamdulillah)” (HR Ahmad : 6154)

Rahasia dibalik keagungan sepuluh hari pertama dibulan Dzulhijjah adalah terkumpulnya inti ibadah pada hari hari tersebut.

Al Hafidz Ibnu hajar Al ‘Asqalani rahimahullah berkata :

وَالَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ السَّبَبَ فِي امْتِيَازِ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ لِمَكَانِ اجْتِمَاعِ 

أُمَّهَاتِ الْعِبَادَةِ فِيهِ وَهِيَ الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَالْحَجُّ 

وَلَا يَتَأَتَّى ذَلِكَ فِيغَيْرِهِ

“Yang Nampak bahwasanya sebab istimewanya sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah karena terkumpulnya induk induk ibadah didalamnya, yaitu shalat, puasa, sedekah, haji yang tidak terkumpul pada hari hari yang lainnya” (Fathul bari 2/460)

Para ulama salaf yang shalih semoga Allah merahmati mereka pada 10 hari awal Dzulhijjah ini begitu sangat bersemangat dan bersungguh-sungguh melakukan berbagai amal ketaatan.  Mereka memuliakan momen ini dengan penghormatan yang paling tinggi.

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan :

وَكَانَ سَعِيْدُ بْنُ جُبَيْرٍ  إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ اجْتَهَدَ اجْتِهَادًا حَتَّى مَا يَكَادُ

 يَقْدِرُ عَلَيْهِ وَرُوِيَ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: لَا تُطْفِئُوْا سُرُجَكُمْ لَيَالِي الْعَشَرِ

Sa’id bin Jubair rahimahullahu saat memasuki sepuluh  hari pertama Dzulhijjah, beliau bersungguh-sungguh (beribadah), sampai-sampai beliau nyaris tidak mampu lagi (beribadah)  Dan diriwayatkan darinya ia berkata : “Janganlah kalian mematikan lentera lentera rumah kalian saat 10 malam pertama Dzulhijjah” (Lathoiful Ma’arif, Ibnu Rajab, hal. 263)

Abu ‘Utsman An Nahdi rahimahullah berkata :

كَانُوْا يُعَظِّمُوْنَ ثَلَاثَ عَشَرَاتٍ الْعشْرُ الأَوَّلُ مِنَ الْمُحَرَّمِ وَالْعَشْرُ الْأَوَّلُ 

مِنْ ذِيْ الْحِجَّةِ وَالْعَشْرُ الْأَخِيْرُ مِنْ رَمَضَانَ

“Mereka (salafus shalih) mengagungkan sepuluh hari yang tiga, yaitu sepuluh hari pertama dibulan muharram, sepuluh hari pertama dibulan Dzulhijjah dan sepuluh malam yang akhir di bulan Ramadhan” (Ad Durul Mantsur Fit Tafsiril Ma’tsur 8/502).

TIGA JENIS NIAT DALAM BERKURBAN 

Niat yang ada kaitannya dengan hukum dalam berkurban itu ada 3 katagori : 

[1] Niat Shugra atau niat berupa Azam atau tekad (rencana). 

Maksudnya seseorang menurut dugaan kuatnya berencana mau melakukan sesuatu maka ini azam atau tekad belum disebut niat, misalnya dia mau umrah dibulan romadhan mendatang atau mau berkurban tahun ini

Hukum yang berkiatan dengan niat shughra atau azam ini :

1. Jika masuk bulan dzulhijjah maka tidak boleh memotong rambut atau kuku

2. Boleh membatalakan niatnya tanpa ada konsekwensi atau hukuman apapun

[2] Niat Ibadah Udhiyyah (niat berkurban)

Yaitu niat mau menyembelih kurban dalam rangka taqarrub kepada Allah ﷻ dan niat ini sebagai syarat sah dan diterimanya sebuah amalan ibadah. 

Sebagai contoh : Jika seseorang menyembelih hewan berupa kambing misalnya, yang dilakukan pada tanggal 10 dzulhijjah namun tidak ada niat berkurban maka tidaklah dianggap atau tidak sah berkurban.

Namun jika seseorang sudah niat berkurban dan dihadapannya ada beberapa ekor kambing lalu disembelih salah satu kambing yang mana saja maka sah dianggap sebagai kurban karena sebelumnya sudah niat untuk berkurban.

[3] Niat Ta’yin.

Yaitu menetapkan hewan tertentu untuk berkurban, dan niat ta’yin ini bukan sekedar niat mau berkurban tapi diringi dengan lafadz pernyataan bahwa ini adalah hewan kurban.

Jika seseorang sudah menta’yin (menetapkan) hewan kurbannya, maka berlaku padanya beberapa hukum, diantaranya :

1. Diharuskan menyembelih hewan tersebut dan tidak boleh membatalkannya karena dalam hal ini seperti nadzar.

2. Jika hewan kurban itu melahirkan anak misalnya maka wajib disembelih juga anaknya karena dalam kaedah fikih disebutkan, “Tambahan itu hukum bagi yang pokoknya” 

3. Jika hewan kurban yang sudah ditentukan (dita’yin) ini cacat atau mati karena sendirinya maka tidak ada kewajiban untuk mengganti, hanya saja bagi yang cacat lebih utama untuk diganti yang lebih baik, dan jika mati maka tidak perlu diganti kecuali jika nadzar atau wasiat. 

Namun jika sakit atau cacat itu karena kecerobohan dan disebabkan oleh sipekurban maka wajib diganti dengan yang serupa atau yang lebih baik.

4. Hewan kurban yang ditentukan (dita’yin) maka tidak cukup hanya dengan niat tapi harus dilafadzkan. (Ahkamul Udhiyyah, hal. 18-19)

5. Hilang kepemilikan hewan itu darinya sehingga dia tidak boleh menjual, menghibahkan, atau menggantinya dengan yang lain kecuali dengan yang lebih baik darinya karena dia telah mempersembahkannya untuk Allah ﷻ

6. Dia tidak mempunyai hak mutlak terhadap hewan kurbannya sehingga tidak boleh menggunakannya untuk membajak, tidak juga memerah susunya, yang dapat menjadikannya berkurang untuk dikonsumsi untuk dirinya sendiri atau untuk anaknya yang akan lahir. Tidak boleh juga dia memotong sedikitpun dari bulu atau yang semisalnya kecuali yang akan mendatangkan manfaat baginya. 

7. Jika hewan yang akan dikurbankan itu hilang atau dicuri bukan karena kelengahannya, dia tidak berkewajiban menggantinya kecuali jika hewan itu sudah berada di dalam tanggung jawabnya sebelum dita’yin (ditentukan). 

Hal itu dikarenakan hewan itu merupakan amanat yang diserahkan kepadanya, dan orang yang diberi kepercayaan tidaklah bertanggung jawab selama dia tidak lengah menjaganya, tetapi kapan pun dia menemukannya atau menyelematkannya dari pencuri, dia tetap harus menyembelihnya meskipun waktu penyembelihannya telah berlalu. 

Sebaliknya, jika hewan itu hilang atau dicuri karena kelengahannya, dia harus menggantinya dengan yang semisalnya atau yang lebih baik. Wallaahu a’lam.” (Poin 5-7 dari kitab shalatul mu’min, hal 916)

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan :

يَقُوْلُ الْعُلَمَاءُ رَحِمَهُمُ اللهُ: إِنْ عَيَّنْتَهَا وَقُلْتَ: هَذِهِ أُضْحِيَةٌ صَارَتْ 

أُضْحِيَةً، فَإِذَا أَصَابَهَا مَرَضٌ أَوْ كَسْرٌ فَإِنْ كُنْتَ أَنْتَ السَّبَبُ فَإِنَّهَا 

لَا تُجْزِئُوَيَجِبُ عَلَيْكَ أَنْ تَشْتَرِيَ بَدَلَهَا مِثْلَهَا أَوْ أَحْسَنَ مِنْهَا، 

Para ulama berkata: “Apabila engkau telah menentukan hewan tersebut akan dikurbankan dan mengatakan, “Hewan ini merupakan hewan kurban”, maka berlakulah bahwa hewan tersebut hewan kurban, maka jika hewan tersebut sakit, atau ada yang patah, dan jika engkau yang menjadi sebab cacat tersebut, maka hewan tersebut tidak boleh dikurbankan, wajib engkau membeli ganti yang sama atau yang lebih baik dari hewan tadi.

وَإِنْ لَمْ تَكُنْ أَنْتَ السَّبَبُ فَإِنَّهَا تُجْزِئُ؛ وَلِهَذَا نَقُوْلُ: اَلْأَوْلَى 

أَنَّ الْإِنْسَانَ يَصْبِرُ فِيْ تَعْيِيْنِهَا

Adapun jika bukan engkau yang jadi penyebab cacatnya, maka hewan tersebut sah untuk dikurbankan. Oleh karena itu kami katakan: Hendaknya seseorang bersabar untuk menta’yin  (menentukan) hewan nya menjadi hewan kurban.

يَشْتَرِيْهَا مَثَلاً مُبَكِّراً مِنْ أَجْلِ أَنْ يُغَذِّيَهَا بِغِذَاءٍ أَطْيَبَ وَلَكِنْ لَا يُعَيِّنُهَا،

 فَإِذَا كَانَ عِنْدَ الذَّبْحِ عَيَّنَهَا وَقَالَ: اَللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ عَنِّي وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِي، 

Ia boleh saja membelinya lebih awal untuk diberikan makan dan nutrisi yang baik, tapi jangan katakan dulu “ini hewan kurban”, kemudian saat hendak menyembelih baru katakan “ini hewan kurban”. dan katakan ketika menyembelih:“Ya Allah hewan kurban ini dari karunia-Mu, dan untuk Mu dari ku dan dari keluarga ku”

وَهُوَ إِذَا لَمْ يُعَيِّنْ يَسْتَفِيْدُ فَائِدَةً مُهِمَّةً وَهِيَ: لَوْ طَرَأَ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا 

وَيَشْتَرِي غَيْرَهَا فَلَهُ ذَلِكَ؛ لِأَنَّهُ لَمْ يُعَيِّنْهَا 

Apabila Ia belum menyatakan bahwa hewan tersebut sebagai hewan kurban, ia akan mendapatkan faedah penting yaitu seandainya ia berubah pikiran untuk membatalkannya dan ingin mengganti hewan tersebut dengan yang lainnya, maka masih diperbolehkan baginya, karena memang hewan tersebut belum ditunjuk sebagai hewan kurban (secara ta’yin). (Silsilah al Liqaa-i As Syahri, Al Liqa-u As Syahri : 43), Demikian tiga jenis niat dalam berkurban.

HUKUM BERKURBAN DI TEMPAT LAIN

Berkurban ditempat lain, atau didaerah lain, atau mengirimkan uang untuk membeli hewan kurban di tempat lain lalu disembelih hewan kurban tersebut bukan dikampunya sendiri, maka dalam hal ini Para ulama berbeda pendapat kepada beberapa pendapat.

Syaikh DR Wahbah Az Zuhaili hafidzahullah mengatakan :

أَمَّا نَقْلُهَا إِلَى بِلَدٍ آخَرَ : فَقَالَ الْحَنَفِيَّةُ : يُكْرَهُ نَقْلُهَا كَالزَّكَاةِ مِنْ بَلَدٍ 

إِلَى بَلَدٍ، إِلَّا أَنْ يَنْقُلَهَا إِلَى قَرَابَتِهِ، أَوْ إِلَى قَوْمٍ هُمْ أَحْوَجُ إِلَيْهَا مِنْ أَهْلِ 

بَلَدِهِ ،وَلَوْ نُقِلَ إِلَى غَيْرِهِمْ : أَجْزَأَهُ مَعَ الْكَرَاهَةِ.

“Adapun penyembelihannya di negara lain, maka Al Hanafiyyah  berkata : Makruh hukumnya mengirim hewan sembelihan keluar negara, kecuali jika mengirimkan kepada kerabatnya, atau kepada sekelompok komunitas orang yang sangat membutuhkan dibanding orang yang tinggal di negara itu, walau  tidak bisa tidak dan harus dikirim ke negara lain, hal ini tetap diperbolehkan dan mendapatakan pahala meskipun makruh hukumnya.

وَقَالَ الْمَالِكِيَّةُ : وَلَا يَجُوْزُ نَقْلُهَا إِلَى مَسَافَةِ قَصْرٍ فَأَكْثَرَ، إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ 

أَهْلُ ذَلِكَ الْمَوْضِعِ أَشَدَّ حَاجَةٍ مِنْ أَهْلِ مَحَلِ الْوُجُوْبِ، فَيَجِبُ 

نَقْلُ الْأَكْثَرِ لَهُمْ،وَتفَرَقَةُ الْأَقَلِّ عَلَى أَهْلِهِ. 

Al Malikiyyah berpendapat : tidak boleh mengirimkannya ke daerah yang melebihi batas diperbolehkannya mengqashar shalat, melainkan jika penduduk daerah tersebut sangat membutuhkan dari pada penduduk daerah atau negara yang berkurban, maka wajib mengirimkan hewan kurban ke daerah atau negara yang membutuhkan tersebut lebih banyak, dan menyisakan sedikit bagi penduduk negara atau daerah yang berkurban.

وَقَالَ الْحَنَابِلَةُ وَالشَّافِعِيَّةُ كَالْمَالِكِيَّةِ : يَجُوْزُ نَقْلُهَا لِأَقَلَّ مِنْ مَسَافَةِ 

الْقَصْرِ، مِنَ الْبَلَدِ الَّذِيْ فِيْهِ الْمَالُ، وَيُحْرَمُ نَقْلُهَا كَالزَّكَاةِ 

إِلَى مَسَافَةِ الْقَصْرِوَتُجْزِئِهِ.

Al Hanabilah dan As Syafi’iyyah berpendapat sama dengan pendapat Al Malikiyyah : Diperbolehkan mengirimkannya ke negara atau daerah yang jaraknya kurang dari jarak diperbolehkannya mengqashar shalat, dari negara yang terdapat harta atau hewan kurban, dan diharamkan mengirimkan binatang sembelihan sebagaimana zakat, ke negara yang jaraknya sepadan dengan jarak diperbolehkannya mengqashar shalat atau melampaui batas tersebut..”. (Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu 4/282) 

Sebagian lain melarang, seperti Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dan Syaikh Shalih al-Fauzan, Alasan pendapat ini, berkurban adalah syari’at yang telah ditentukan tata caranya, bukan hanya masalah membagi daging semata, (sebagaimana QS. al-Hajj 37), berkurban di negeri lain menyelisihi sunnah, pemiliknya tidak dapat melaksanakan sunnah memakan Sebagian dagingnya, dan syi’ar islam berupa kurban akan hilang di negara- negara yang penduduknya banyak yang kaya. (Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin, Majalah ad-Da’wah no.1878).

Syaikh Shalih al ‘Ushaimi hafidzahullah  mengatakan : Hakekat berkurban itu bukan membagikan atau menyedekahkan daging atau makan makan daging qurban, namun hakekat dan inti berkurban adalah mengalirkan darah hewan dalam rangka taqarrub kepada allah. 

Maka urutan Pelaksanaan Qurban yang afdhal ada 3 tingkatan: 

[1] Menyembelih hewan kurban dengan tangannya sendiri 

[2] Mewakilkan menyembelih kepada orang lain sementara ia menyaksikan penyembelihan 

[3] Mewakilkan menyembelih kepada orang lain dan dia tidak menyaksikannya namun penyembelihan dilakukan di kampungnya. 

Inilah ketentuan dalam berkurban, maka jika tidak mampu, gugurlah kewajiban. Adapun yang dilakukan dengan mengirim uang atau membeli hewan untuk dikirim ke luar kota atau kampung lain atau luar negeri untuk di belikan hewan kurban maka ini namanya sedekah daging bukan berkurban”  (Al Khuthab Al Mimbariyyah, Syaikh Shalih al ‘Ushaimi, hal. 9-10)

Maka dalam hal ini sebagai bentuk menyatukan pendapat, Hendaknya seorang muslim berkurban ditempat tinggalnya, inilah yang lebih utama, karena itulah yang biasa dilakukan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, akan tetapi dibolehkan (wallahu a’lam) berkurban di tempat lain atau negeri lain dengan syarat jika tempat lain itu lebih membutuhkan, dan di negeri asalnya tetap dilaksanakan ibadah kurban, sehingga syi’ar islam tetap hidup. Adapun masalah perintah bagi pemilik hewan kurban untuk makan sebagian dagingnya, maka perintah ini tidak wajib tetapi hukumnya sunnah. Wallahu waliyyut Taufiiq

Seluruh faedah diambil dari ustadzuna Abu Ghozie As Sundawie hafidzahullahu taala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *