Fikih

Shalat Berjemaah Virtual?

Shalat berjemaah dalam hal ini shalat ied, terlebih shalat jumat secara online, sudah difatwakan tidak sah oleh MUI, juga oleh ormas besar seperti Muhammadiyah maupun NU. Namun ternyata masih ada saja yang ngeyel.

Kita tahu bahwa shalat berjemaah virtual tidak akan bisa ittihad almakan dan ittishal. Dan kita tahu juga bahwa kaidah fiqh mengatakan,

الأصل في العبادات التحريم حتى يقوم دليل على أنها عبادة مشروعة

“Secara asas ibadah terlarang dilakukan kecuali ada dalil yang menunjukkannya sebagai ibadah yang masyruk.”

Juga ada kaidah,

الأصل في العبادات التوقيف فلا يشرع منها إلا ما شرعه

 “Secara asas ibadah bersifat tauqif, sehingga tidak sah dilakukan, kecuali disyariatkan.”

Juga dengan kaidah,

الإصل في العبادات البطلان إلا ما شرعه الله ورسوله

Secara asas ibadah batal kecuali yang disyariatkan Allah dan RasulNya.”

Maka soal shalat yang sifatnya taabudi dan merupakan ibadah mahdah, sedangkan prinsip asalnya terlarang kecuali ada dalil,  karena detailnya telah ditetapkan Allah dan RasulNya.

Sedemikian hingga, tanpa perlu fatwa para ulama pun sebenarnya, orang awam pun akan dengan mudah sepakat bahwa meng’online’ kan shalat jamaah sejatinya tidak diperkenankan karena banyak hal yang secara jelas membatalkan keabsahannya.

Apalagi syariat sudah memiliki solusi penggantinya jika ada udzur.

Dan yang terpenting, shalat jamaah online ini masalah ijtihadi, namun secara realitas menimbulkan kontroversi. Maka jika kita muslim yang baik tentu akan meninggalkan kontroversi, sebagaimana kaidah fiqh,

الخروج من الخلاف مستحب

Keluar dari khilaf (kontroversi) itu yang lebih ditekankan.

Adapun jalan keluar yang paling ideal dari sebuah kontroversi adalah kembali kepada nash. Semoga Allah senantiasa menuntun kita dalam jalan kebenaran dan ketaatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *