Fikih,  Tazkiyah

Sabar Itu Wajib, Ridha adalah sunnah

Firman Allah dalam Al Quran dikatakan,

وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. Hud: 115).

Jika kita perhatikan, perintah sabar dalam ayat ini, juga beberapa ayat lainnya dalam Al Quran hampir selalu menggunakan fi’il amr, kata kerja perintah. 

Maka bersabar dalam menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan Allah, pun juga bersabar dalam menghadapi takdir Allah adalah wajib. Karena kaidah fiqh mengatakan,

الأصل في الأمر للوجوب

Secara asas, kata kerja perintah menghasilkan perintah kewajiban.

Maka berdosa jika kita tidak sabar atas takdir, karena seakan dia mengatakan : “saya tidak mau lagi melakukan kewajiban”. 

Ditambah lagi bahwa Nabi ﷺ bersabda,

اَلصَّبْرُ نِصْفُ الْإِيْمَانِ   

Sabar adalah separuh dari iman.

(HR. Abu Na’im dan al-Khatib).

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan bahwa sabar dengan iman itu seperti kepala dengan badan, jika kepalanya terpotong maka binasalah badannya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin pernah berkata,

فيجب على الإنسان أن يصبر على المصيبة, و ألا يحدث 

قولا محرما و لا فعلا محرما

Maka wajib atas setiap insan bersabar terhadap musibah, serta tidak mengucapkan perkataan haram maupun melakukan perbuatan haram.

والفرق بين الرضا والصبر : أن الراضي لم يتألم قلبه بذلك أبدا ، 

فهو يسير مع القضاء

Dan perbedaan antara ridha dan sabar adalah : ridha tidak merasakan sakit hatinya sama sekali atas musibahnya, maka dia dengan mudahnya berjalan bersama dengan takdir Allah.

Juga dalam Majmu’ Fatawa wa Ar Rasail beliau mengatakan,

فما يقع من المصائب يستحب الرضا به عند أكثر أهل العلم 

ولا يجب ، لكن يجب الصبر عليه

Ketika terjadi musibah, dianjurkan agar ridha atas musibahnya, berdasar jumhur ulama, tidak wajib (sunnah). Namun yang wajib adalah sabar atasnya.

Maka sabar dalam musibah adalah wajib, yaitu ketika bisa menahan lisan dan perbuatan agar tidak terjerumus pada hal yang haram, walaupun berat dan menyesakkan.

Sedangkan ridha disunnahkan, yaitu menerima dengan sepenuh hati dan penuh tulus takdir Allah. Bahkan justru dia senang dan senantiasa bersyukur atas musibahnya. Ini yang lebih utama. 

Wallahul musta’an.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *