Aqidah,  Tazkiyah

Dibersihkan Dengan Salju

Salju adalah serapan bahasa arab, الثلج (ats tsalju), yaitu kristal uap air putih yang jatuh ke bumi karena temperatur di bawah titik beku, sedangkan jika di atas titik beku maka disebut hujan. Proses detailnya Allah jabarkan dalam Al Quran jauh sebelum iptek kita menjangkaunya,

أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُزْجِى سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُۥ ثُمَّ يَجْعَلُهُۥ رُكَامًا فَتَرَى 

ٱلْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَٰلِهِۦ وَيُنَزِّلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن جِبَالٍ فِيهَا مِنۢ بَرَدٍ

 فَيُصِيبُ بِهِۦمَن يَشَآءُ وَيَصْرِفُهُۥ عَن مَّن يَشَآءُ ۖ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِۦ 

يَذْهَبُ بِٱلْأَبْصَٰرِ

Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antaranya, menjadikannya bertindih-tindih, maka terlihat olehmu hujan keluar dari celahnya dan Allah menurunkan es dari langit, dari (gumpalan awan seperti) gunung, maka ditimpakanNya (butiran) es itu kepada siapa yang dikehendakiNya dan dipalingkanNya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir menghilangkan penglihatan. (QS An Nur : 43).

Salju yang putih bersifat dingin, sering kita pakai dalam ungkapan doa memohon ampunan yang dicontohkan Nabi, seperti doa untuk orang yang sudah meninggal, juga satu di antara 12 macam riwayat shahih doa istiftah/iftitah,

اللَّهُمَّ بَاعدْ بيني وبين خطاياي، كما باعدت بين المشرق والمغرب،

 اللَّهُمَّ نقِّني مِن خطاياي كما يُنقَّى الثوبُ الأبيضُ مِن الدَّنسِ،

 اللَّهُمَّ اغسلنيمِن خَطَايَاي بالماءِ والثَّلجِ والبَرَدِ

Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan butiran es” (Muttafaqun ‘alaih, dari  Al-Bukhari).

Maka inilah ketinggian dan keindahan doa istiftah ini. Pertama, permintaan ‘jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat’. 

Ibnu Hajar Al Atsqalani dalam fathul bari mengatakan,

وموقع التشبيه أن التقاء المشرق والمغرب مستحيل فكأنه أراد أنه 

لا يبقى لها منه اقتراب بالكلية

Pertemuan timur barat adalah mustahil sehingga seolah-olah orang yang berdo’a dengan do’a ini menginginkan agar tidak tersisa baginya kedekatan dirinya dengan kesalahan, sama sekali.

Syaikh Al Utsaimin dalam Syarh Mumti’ mengatakan,

والمباعدة بين المشرق والمغرب هو غاية ما يبالغ فيه النَّاسُ، 

فالنَّاسُ يبالغون في الشيئين المتباعدين إمَّا بما بين السماء والأرض، 

وإما بما بينالمشرقِ والمغربِ، ومعنى «باعِدْ بيني وبين خَطَاياي»

 أي: باعِدْ بيني وبين فِعلِها بحيث لا أَفْعَلُها، وباعِدْ بيني وبين عقوبِتها.

Penjauhan  timur dan barat adalah ungkapan jarak terjauh yang biasa diungkapkan manusia, karena manusia mengungkapkan jarak terjauh dengan dua model, antara langit bumi atau antara timur barat. Sehingga makna‘Jauhkanlah antara aku dan kesalahanku’ maksudnya jauhkan antara aku dan perbuatan salah, sehingga aku tidak melakukannya, pun juga jauhkan antara aku dan siksa yang diakibatkannya.

Kedua, ungkapan doa “Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran.”

Dalam syarh Mumti’ disebutkan,

كما يُغسل الثوبُ الأبيضُ إذا أصابه الدَّنس فيرجع أبيض، وإنما 

ذَكَرَ الأبيضَ؛ لأن الأبيض هو أشدُّ ما يؤثِّر فيه الوسخ؛ بخلاف

 الأسود، ولهذافي أيام الشتاء الثياب السوداء تبقى شهراً أو أكثر،

 لكن الأبيض لا يبقى أسبوعاً إلا وقد تدنَّسَ، فلهذا قال: 

«كما يُنقَّى الثوبُ الأبيضُمِن الدَّنَسِ» وهذا ظاهرٌ أنه في 

الذُّنوب التي فَعَلَهَا يُنقَّى منها

Sebagaimana pakaian putih dicuci jika kotor, sehingga kembali putih. Disebutkan putih karena warna putih paling mudah nampak jika ada kotoran, berbeda dengan hitam, maka pada musim dingin baju hitam meskipun sebulan bisa tetap terlihat bersih, sedangkan baju putih tidak sampai sepekan sudah kelihatan kotor. 

Sedemikian hingga dalam Sabda Rasulullah,

كما يُنقَّى الثوبُ الأبيضُ مِن الدَّنَسِ

‘Sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran’. Maknanya jelas bahwa ini berkaitan dengan dosa yang terlanjur dilakukan, lalu disucikan.

Ketiga, setelah permohonan pensucian pada kalimat kedua tadi, Rasulullah mencontohkan doa,

«اللَّهُمَّ اغسلني مِن خَطَايَاي بالماءِ والثَّلجِ والبَرَدِ»

‘Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan butiran es’. 

Syarahnya Syaikh Al Utsaimin,

إذاً؛ فالذي يظهر: أنَّ الجملةَ الأُولى في المباعدة، أي: أن لا 

أفعلَ الخطايا، ثم إن فَعلتُها فنقِّني منها، ثم أزِلْ آثارَها بزيادة 

التطهير بالماءوالثَّلجِ والبَرَدِ، فالماء لا شَكَّ أنه مطهِّرٌ، لكن الثَّلجُ 

والبَرَدُ مناسبته هنا أنَّ الذُّنوب آثارها العذابُ بالنَّارِ، والنَّارُ حارَّة،

 والحرارةُ يناسبها فيالتنقية منها الشيء البارد، فالماء

 فيه التنظيف، والثَّلجُ والبَرَدُ فيهما التبريدُ.

Maka terlihat, kalimat pertama berisi permohonan penjauhan, yaitu agar tidak melakukan kesalahan, kemudian jika terlanjur melakukan maka sucikanlah, lalu hilangkanlah dampak buruknya dengan tambahan pensucian, dengan air, salju, dan butiran es.

Tidak diragukan lagi bahwa air adalah sesuatu yang mensucikan, namun salju dan butiran es sisi korelasinya adalah bahwa dosa, dampak buruknya adzab Neraka, sedangkan api Neraka panas, dan sesuatu yang dingin adalah yang paling ampuh membersihkan sesuatu yang panas. Maka di dalam air terdapat fungsi pembersihan, sedangkan salju dan butiran es ada fungsi mendinginkan.

Dalam fathul Bari, dinukilkan beberapa pendapat ulama,

قال الخطابي: ذكر الثلج والبرد تأكيد، أو لأنهما ماءان لم تمسهما 

الأيدي ولم يمتهنهما الاستعمال. وقال ابن دقيق العيد : عبر بذلك 

عن غايةالمحو ، فإن الثوب الذي يتكرر عليه ثلاثة أشياء منقية يكون 

في غاية النقاء، قال: ويحتمل أن يكون المراد أن كل واحد من هذه 

الأشياء مجازعن صفة يقع بها المحو وكأنه كقوله تعالى: 

{وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا} وأشار الطيبي إلى هذا بحثا 

فقال: يمكن أن يكون المطلوب منذكر الثلج والبرد بعد الماء شمول 

أنواع الرحمة والمغفرة بعد العفو لإطفاء حرارة عذاب النار التي 

هي في غاية الحرارة .

Al-Khaththabi mengatakan penyebutan salju dan butiran es adalah bentuk penegasan karena keduanya merupakan air murni yang tidak pernah tersentuh tangan manusia dan belum terkontaminasi.

Kemudian juga Ibnu Daqiqil ‘Iid berkata bahwa itu disebutkan untuk mengungkapkan puncak penghapusan dosa, karena pakaian yang disucikan berulang dengan ketiga pembersih tersebut, maka sucinya maksimal. Beliau juga berkata ada kemungkinan maknanya bahwa masing-masing dari ketiga pembersih ini adalah kata kiasan untuk mengungkapkan suatu sifat penghapusan dosa. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

{وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا}

Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. (QS. Al Baqarah : 286).

Ath-Thibi mengisyaratkan bahwa sangat mungkin yang dimaksud penyebutan secara bertingkat, salju dan butiran es setelah penyebutan air adalah mencakup berbagai macam rahmat dan ampunan setelah ma’af untuk memadamkan adzab Neraka yang begitu sangat-sangat panas. 

Semoga sedikit tadabbur ini bisa mengasah agar kita bisa lebih menghadirkan hati dalam sebuah doa serta pengharapan kita kepada Allah. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *