Aqidah,  Fikih,  Tazkiyah

7 Adab Berziarah Kubur

Salah satu ayat yang ketika membacanya kemudian langsung hapal saat masa remaja dulu adalah ayat kullu nafsin dza’iqatul maut.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ 

عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS. Ali ‘Imran : 185).

Pesan Rasulullah kepada kita,

أكثروا ذكر هازم اللذات” يعني : الموت.

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian”.

Maka di antara cara mengingat kematian adalah dengan ziarah kubur. Ziarah kubur tentu disyari’atkan. Hadits dari Ibnul Hushaib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 كنت نهيتكم عن زيارة القبور، فزوروها

“Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah”. (HR Muslim 977)

Ziarah kubur dapat mengingatkan kepada kematian, melembutkan hati, membuat air mata menetes, mengambil pelajaran, dan membuat zuhud terhadap dunia. 

Ziarah kubur juga bermanfaat bagi mayit muslim yang diziarahi karena kita diperintahkan mengucapkan salam, mendo’akannya, dan memohonkan ampun untuk penghuni kubur.

أن النبي كان يخرج إلى البقيع، فيدعو لهم، فسألته عائشة 

عن ذلك؟ فقال: إني أمرت أن أدعو لهم

“Nabi pernah ke Baqi’, lalu beliau mendo’akan mereka. ‘Aisyah menanyakan hal tersebut kepada beliau. Lalu beliau jawab : “Sesungguhnya aku diperintahkan mendo’akan mereka”” (HR Ahmad 6/252).

Agar bernilai pahala maka tentu kita harus memperhatikan adab-adab yang telah ditetapkan syariat.

Pertama, meluruskan niat tujuan berziarah tidak lain hanya dua hal, mengambil pelajaran dan mengingat kematian serta mendoakan bagi ahlu diyyar.

Kedua, mengucap salam ketika masuk ke kompeks pemakaman. Terdapat doa shahih,

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ 

لَلاَحِقُوْنَ نَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

“Salam keselamatan atas penghuni rumah-rumah (kuburan) dan kaum mu’minin dan muslimin, mudah-mudahan Allah merahmati orang-orang yang terdahulu dari kita dan orang-orang yang belakangan, dan kami Insya Allah akan menyusul kalian, kami memohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan bagi kalian” (HR Muslim 974).

Ketiga, tidak memakai sandal ketika memasuki komplek pemakaman. Terdapat silang pendapat, namun kami mengikuti pendapat yang dipilih Imam Ahmad, Ibnu Qudamah, Ibnul Qayyim, Ibnu Baz, Ibnu ‘Utsaimin dan ulama lainnya yang menilai ini disunnahkan.

Berdasarkan hadits shahih dari Basyir Ibnu Khashashiyah tatkala beliau berjalan bersama Rasulullah, kemudian Rasulullah melihat orang berjalan di pekuburan memakai sendal, maka beliau menegurnya,

يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ وَيْحَكَ أَلْقِ سِبْتِيَّتَيْكَ فَنَظَرَ الرَّجُلُ فَلَمَّا عَرَفَ 

رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ خَلَعَهُمَا فَرَمَى بِهِمَا

“Wahai orang yang memakai sendal, celaka engkau, lepas sendalmu!”. Lalu orang itu melihat, ketika dia tahu itu Rasulullah, maka dia melepas dan melempar sendalnya. (HR. Abu Daud: 2/72).

Maka jika memungkinkan sebisa mungkin kita menghidupkan sunnah yang banyak dilupakan ini.

Keempat, Tidak duduk di atas kuburan dan menginjaknya. 

لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ، فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ، خَيْرٌ لَهُ 

مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ

“Sungguh jika salah seorang dari kalian duduk di atas bara api sehingga membakar bajunya dan menembus kulitnya, itu lebih baik daripada duduk di atas kubur” (HR Muslim).

Kelima, mendoakan yang sudah meninggal jika dia muslim. Dan ketika berdoa, hendaknya tidak menghadap kubur, afdhalnya menghadap kiblat karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat menghadap kuburan, sedangkan do’a adalah intisari sholat.

Keenam, jangan hujr, jangan tabarruk. Imam An Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa al hujr adalah ucapan bathil.

Syaikh Al Albani mengatakan, “Jelas bahwa yang orang awam lakukan ketika berziarah seperti berdo’a pada mayit, istighatsah kepadanya, meminta sesuatu kepada Allah dengan perantaranya, adalah al hujr paling berat dan ucapan bathil paling besar. Maka wajib bagi ulama menjelaskan tentang hukum Allah dalam hal itu. Dan memahamkan mereka tentang ziarah yang disyari’atkan dan tujuan syar’i dari ziarah”.

Ketujuh, tidak perlu mengkhususkan di waktu tertentu, juga tidak perlu menabur bunga.

Dalam Ta’liq Matan Al Ghayah wat Taqrib fi Fiqhis Syafi’I dikatakan bahwa diantara bid’ah haram adalah menaburkan bunga di atas kubur karena hanya buang-buang harta.

Memang ada pendapat ulama mengatakan menabur bunga disunnahkan karena ada hadits shahih yang menyebutkan bahwa Rasulullah meletakkan dahan hijau setelah membelahnya menjadi dua bagian di atas dua makam yang ahli kuburnya sedang disiksa. 

Namun yang lebih rajih menurut kami adalah pendapat ulama bahwa sebab diringankannya adzab itu adalah syafa’at dan do’a dari Nabi, bukan pelepahnya. Karena pelepah basah itu hanya penanda batas waktu diterimanya syafa’at Nabi bagi kedua penghuni kubur itu.

Dalam hadits dikatakan,

إِنِّي مَرَرْتُ بِقَبْرَيْنِ يُعَذَّبَانِ، فَأَحْبَبْتُ بِشَفَاعَتِيْ أَنْ يُرَفَّهَ عَنْهُمَا 

مَا دَامَ الْغُصْنَانِ رَطْبَيْنِ

“Sesungguhnya aku melewati dua kuburan yang sedang disiksa. Maka dengan SYAFA’ATKU, aku ingin agar adzabnya diringankan dari keduanya selama kedua pelepah itu masih basah.” (HR Muslim, no. 3012).

Dalam penjelasan Fathul Bari, Syaikh Ibnu Bazz mengatakan, “Pendapat yang lebih tepat adalah pendapat yang mengatakan itu merupakan kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Rasulullah tidak pernah menanamkan pelepah, kecuali di atas kuburan yang beliau tahu penghuninya sedang disiksa. Dan beliau tidak melakukan kepada semua kuburan. Seandainya perbuatan ini Sunnah, maka Rasulullah akan melakukannya ke semua kuburan. 

Ini kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Khulafa’ur Rasyidin dan sahabat tidak pernah melakukan hal itu. Karena jika itu diperintahkan, tentu mereka akan segera melakukannya.

Demikian kira-kira soal adab berziarah kubur, semoga bermanfaat dan bisa menjadi wasilah meningkatkan iman kita. Allahu ta’ala a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *