Fikih,  Tazkiyah

6 Ghibah Yang Dibolehkan

Kita tentu tahu dzalim atau dosa adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Kedzaliman terbesar adalah syirik, setelah itu dosa besar, lalu dosa kecil.

Di antara dosa besar adalah zina, namun ada yang lebih besar lagi, yaitu riba. 

درهم ربا يأكله الرجل وهو يعلم أشد من ستة وثلاثين زنية

“Satu dirham riba yang dimakan seseorang dan dia tahu itu, lebih besar dosanya daripada berzina 36 kali.” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi Syu’abul Iman. Shahih).

Namun ada yang lebih berat dari riba, yaitu ghibah, merusak kehormatan saudaranya.

الرِّبَا اثنان وسبعون بابًا، أدناها مثل إتيان الرجل أمَّه،

 وإن أرْبَى الربا استطالة الرجل في عرض أخيه

“Riba ada tujuh puluh dua pintu, yang paling rendah seperti menzinahi ibu kandungnya. Dan sesungguhnya riba yang paling riba adalah merusak kehormatan saudaranya.” (HR.  Ath-Thabrani. silsilah shahihah 1871).

Kehormatan muslim sangat mulia di sisi Allah. Membicarakan keburukan muslim itu bagai memakan bangkai saudaranya sendiri, maka jangan sampai bangkrut di hari kiamat akibat lisan yang tak dijaga.

Namun ada kondisi kita boleh menempuh jalan tersebut karena kepentingan tertentu. Disebutkan Imam An-Nawawi dalam Al Adzkar, dari berbagai hadist terangkum enam kondisi dibolehkan ghibah,

اعلم أن الغيبة وإن كانت محرمة فإنها تباح في أحوال للمصلحة.

 والمجوز لها غرض صحيح شرعي لا يمكن الوصول إليه إلا بها ،

“Ketahuilah, ghibah meskipun haram namun dibolehkan dalam beberapa kondisi untuk kemaslahatan. Dan yang dibolehkan hanya yang tujuannya dibenarkan secara syar’i dimana tujuan itu tidak bisa tercapai tanpa ghibah tersebut”.

Pertama, ketika sidang di depan hakim. Seseorang boleh menceritakan penganiaya yang memperlakukannya secara zalim.

Kedua, ketika lapor pelanggaran hukum kepada aparat dengan niat mengubah kemungkaran. 

Ketiga, ketika meminta fatwa. Untuk memberikan gambaran jelas bagi ulama yang mengeluarkan fatwa. Namun jika penyebutan personal tidak dibutuhkan, maka tidak perlu ghibah.

Keempat, ketika mengingatkan publik agar terhindar dari kejahatan suatu pihak. Hal ini juga dilakukan para ahli hadits terhadap perawi syadz atau bermasalah.

Kelima, ketika pihak tertentu melakukan kejahatan terang-terangan seperti menentang Allah, minum khamr, mengambil harta secara zalim, memalak/rampok, mengambil kebijakan bathil, dll. 

Kita boleh ghibah sesuai dengan kejahatan yang diperlihatkannya, namun haram menyebutkan aib lain yang tidak dilakukan terang-terangan. 

Keenam, menandai seseorang dengan kekurangan fisik atau gelar buruknya karena ciri khususnya hanya itu, dengan tanpa bermaksud merendahkan.

Demikian, ghibah dibolehkan untuk kepentingan umum & hukum, atau maslahat yang dibolehkan menurut syar’i. Semoga kita terhindar dari kebangkrutan akibat ghibah yang terlarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *