Aqidah

Hati-hati Riddah

Seperti yang kita tahu, riddah adalah perbuatan yang menyebabkan murtad. Murtad dari kata irtadda, raja’a (kembali), sehingga irtadda ‘an diinihi artinya kafir kembali setelah Islam.

Prinsip awal yang harus kita pegang betul : jangan sampai merasa aman dari kekufuran. Karena Nabi Ibrahim sang panglima tauhid saja takut atas itu. Doa beliau dalam Al Quran,

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Jauhkanlah diriku dan anak keturunanku dari mennyembah berhala”. (QS. Ibrahim: 35).

Ibrahim at-Taimi menuturkan,

ومن يأمن البلاء بعد إبراهيم؟

“Siapa yang merasa aman dari bala’ setelah Ibrahim?”. Maka siapakah kita dibandingkan Nabi Ibrahim? Sedangkan mungkin sebagian kita bahkan tidak pernah memohon perlindungan seperti itu.

Banyak yang sudah tahu macam riddah, namun ternyata banyak juga yang berani melangkahinya. Layaknya zindiq, mereka mengaku muslim namun perilakunya sendiri yang mengeluarkan dia dari Islam.

Secara garis besar, para ulama membagi riddah karena empat sebab. 

Pertama, riddah dengan sebab ucapan. Misalnya, mencela Allah dan RasulNya, menjelek-jelekkan malaikat atau salah satu Nabi, mengaku tahu ilmu ghaib, mengaku Nabi atau membenarkan Nabi palsu. Berdoa kepada selain Allah, beristighotsah di kuburan atau meminta kepada selain Allah dalam urusan yang hanya dikuasai Allah dan semacam itu.

Kedua, riddah dengan sebab perbuatan. Misalnya, sujud kepada patung, pohon, batu, kuburan, menyembelih hewan untuk tumbal, dan semacamnya. Melempar mushaf di tempat kotor, praktek sihir, atau memutuskan hukum dengan bukan hukum Allah dan meyakini kebolehannya.

Ketiga, riddah dengan sebab keyakinan. Misalnya, meyakini Allah punya anak, meyakini khamr zina riba itu halal, meyakini shalat tidak wajib, dan sebagainya. Meyakini keharaman sesuatu yang jelas disepakati kehalalannya, atau meyakini kehalalan sesuatu yang jelas disepakati keharamannya.

Keempat, riddah dengan sebab keraguan. Misalnya, meragukan sesuatu yang telah jelas perkaranya dalam agama. Seperti meragukan haramnya syirik, khamr, zina, atau meragukan hadits dan risalah Nabi yang telah shahih dan sharih, meragukan ajaran Islam, atau juga meragukan kecocokan Islam untuk diterapkan pada zaman sekarang.

Dalam Raudhatu At Thalibin, Imam Nawawi  memaparkan beberapa contoh, seperti orang yang berkata “Yahudi lebih baik daripada Muslim”, orang minum khamr membaca bismillah, Orang yg terkena musibah lalu berkata “sudah Engkau ambil anak dan hartaku, banyak musibah menimpaku, apalagi yang belum Engkau timpakan padaku?”, dan seterusnya.

Kemudian beliau jelaskan,

وهذه الصور تتبعوا فيها الألفاظ الواقعة في كلام الناس وأجابوا

 فيها اتفاقا أو اختلافا بما ذكر، ومذهبنا يقتضي موافقتهم 

في بعضها، وفيبعضها يشترط وقوع اللفظ في معرض الاستهزاء.

“Beberapa contoh tadi yang diperhatikan, dari ucapan itu ada yg disepakati dan diperselisihkan hukum murtadnya. Adapun menurut mazhab kami, sebagian kami sepakati, sebagian lainnya kami syaratkan harus mengandung pelecehan di dalamnya.”

Dengan merinci sebab riddah kita menjadi tahu bahwa begitu berbahayanya perbuatan riddah meskipun dalam candaan. Maka kita berharap jangan sampai kita terjatuh sedikitpun didalamnya.

Alangkah baiknya jika kita memperbanyak doa yang Nabi ajarkan tatkala menyebutkan tentang bahaya syirik yang bahkan lebih samar dari jejak kaki semut,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu, jangan sampai aku menyekutukanMu sementara aku menyadarinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu untuk yang tidak aku sadari”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *