Aqidah,  Tazkiyah

7 Nasehat Soal Childfree, Ditinjau dari Segi Aqidah & Syariat

Ternyata benar cerita lama bisa bersemi kembali. Dari polling sederhana di instagram story @fahminurulakbar soal childfree, 86 % responden berpendapat “tidak boleh” rerata berusia dewasa, 14 % yang berkata “boleh” berusia muda. Maka penting mengulang ilmu meskipun sudah umum, karena tidak semua orang mendapatkan input knowledge yang sama.

Pertama, Semua yang beriman kepada Allah dan hari akhir wajib meyakini bahwa syariat Islam adalah pedoman yang diturunkan Allah ta’ala untuk kebaikan dan kebahagiaan manusia. Dia yang paling tahu atas ilmuNya yang maha tinggi dan hikmahNya yang maha sempurna.

Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan RasulNya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan/kebaikan) hidup bagimu.” (QS. al-Anfaal: 24).

Kedua, masalah childfree atau Tahdid An Nasl ini perkara final. Telah difatwakan para ulama, termasuk MUI dan ormas Islam. Jika tanpa illat, semua sepakat memutus garis keturunan mutlak haram, shahih dan sharih bertentangan dengan fitrah dan maqasid syariah.

Ketiga, childfree digagas St. augustine, teolog kristen, pengikut gnotisisme. Sebuah aliran sesat berbau poison ivy yang memang jauh dari agama.

Keempat, fitrah menikah itu untuk memiliki keturunan. Firman Allah,

فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ

Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.” (QS. Al Baqarah: 187).

Abu Hurairah, Ibnu ‘Abbas, dan semua mufassir menafsirkan ماكتب الله لكم adalah anak (keturunan).

Kelima, terlalu banyak sabda Nabi soal anjuran memiliki banyak keturunan. Diantaranya,

تزوّجوا الودود الولود فإنّى مكاثرٌ بكم الأمم

“Nikahilah wanita yang penyayang yang subur punya banyak keturunan karena aku bangga dengan banyaknya umatku pada hari kiamat.”

Bahkan beliau melarang seorang sahabat menikahi wanita cantik dan terhormat namun mandul.

Keenam, Nabi membenci Azl.

 عزل عن المرأة واعتزلها : لم يرد ولدها .

“‘Azl dari wanita, maksudnya adalah menghindarkan diri dari adanya anak (hamil).”

Bahkan Rasulullah mengatakan,

ذلك الوأد الخفىّ

“(Azl) itu pembunuhan tersembunyi” 

(HR. Muslim no. 1442).

Ketujuh, jika muslim yang memutuskan childfree karena pertimbangan duniawi seperti finansial, pendidikan, orientasi karir dan semacamnya maka ini menandakan penyakit ghurur dan lemahnya tauhid. Karena mereka terpedaya oleh akal mereka yang terbatas, dan sedang berburuk sangka kepada Allah.

Syaikh Al ‘Utsaimin berkata bahwa jika karena khawatir kurang rezeki, jelas termasuk berburuk sangka kepada Allah ta’ala.

“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri, Allahlah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” 

(QS. Al-‘Ankabuut: 60).

Dan jika pendorong childfree karena khawatir susahnya mendidik anak, maka ini keliru, banyak yang anaknya  sedikit namun sangat menyusahkan, dan banyak yang anaknya banyak malah sangat mudah untuk dididik. Maka yang menentukan adalah taufiq Allah ta’ala. Jika dia bertakwa kepada Allah serta menempuh metode yang sesuai dengan syariat Islam, maka Allah akan memudahkan urusannya.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya.” 

(QS. ath-Thalaaq: 4)

Maka perlu kita ingat bahwa menikah dan memiliki keturunan itu ibadah. Ditinjau dari empat sisi,

وفى التواصل الى الولد قربة من اربعة وجوه هي الاصل فى الترغيب 

فيه عند امن من غوائل الشهوة حتى لم يحب احد ان يلقي الله 

عزباالاول موافقة الله بالسعي فى تحصيل الولد الثانى طلب 

محبة الرسول صلى الله عليه وسلم في تكثير من به مباهته الثالث 

طلب التبرك بدعاءولد الصالح بعده الرابع طلب الشفاعة بموت 

الولد الصغير اذا مات قبله

“Upaya untuk memiliki keturunan menjadi ibadah dari empat sisi, dan menjadi alasan utama dianjurkannya menikah ketika seseorang aman dari gangguan syahwat sehingga tidak ada seseorang yang senang bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak menikah. Pertama, mencari ridha Allah dengan menghasilkan keturunan. Kedua, mencari cinta Nabi dengan memperbanyak populasi manusia yang dibanggakan. Ketiga, berharap berkah dari doa anak saleh setelah dirinya meninggal. Keempat, mengharap syafaat sebab meninggalnya anak kecil yang mendahuluinya.” (Ihya Ulumuddin).

Pada akhirnya, syariat Allah mengatur ini semua semata untuk keuntungan bagi manusia baik di dunia dan di akhirat. Maka jangan ikuti akal kita yang terbatas, apalagi dengan gagasan menyimpang bahkan bertentangan dengan fitrah yang bisa dipastikan akan mendatangkan kerusakan.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، 

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *