Aqidah,  Fikih

Catatan Tentang Gambar Bernyawa (Tashwir & Iqtina’ as Shurah)

Islam agama sempurna untuk kemaslahatan manusia dan mencegah keburukan bagi mereka. Diantara sarana keburukan adalah menggambar makhluk bernyawa. Maka Islam mengaturnya.

Islam melarang ash shurahyaitu gambar makhluk bernyawa. Adapun gambar tidak bernyawa, seperti pohon misalnya, tidak apa-apa. Di antara dalilnya HR Bukhari 2225. Juga hadits,

قال اللهُ عزَّ وجلَّ : ومن أظلم ممن ذهبَ يخلقُ كخَلْقي ،

 فلْيَخْلُقوا ذرَّةً ، أو : لِيخْلُقوا حبَّةً ، أو شعيرةً

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mencipta seperti ciptaanKu?’. Maka buatlah gambar biji, atau bibit tanaman atau gandum”.

(HR. Bukhari 5953 dan Muslim 2111).

Pertama, Kita bahas tentang tashwir, atau membuat gambar bernyawa disepakati ini haram dan dosa besar.

إنَّ الَّذينَ يصنَعونَ هذِه الصُّوَرَ يعذَّبونَ يومَ القيامةِ ، يقالُ لَهم : 

أحيوا ما خلقتُمْ

“orang yang menggambar makhluk bernyawa akan diadzab di hari kiamat, dan dikatakan kepada mereka: ‘hidupkanlah apa yang kalian buat ini’”. (HR. Bukhari 5951, Muslim 2108).

Dari Aisyah radhiallahu’anha,

أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ، وَأُمَّ سَلَمَةَ ذَكَرَتَا كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِالحَبَشَةِ فِيهَا

 تَصَاوِيرُ، فَذَكَرَتَا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «إِنَّ أُولَئِكَ إِذَا 

كَانَ فِيهِمُ الرَّجُلُالصَّالِحُ فَمَاتَ، بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا، وَصَوَّرُوا

 فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ، فَأُولَئِكَ شِرَارُ الخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ القِيَامَةِ»].

“Bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah menceritakan ada gereja di Habasyah, di dalamnya terdapat gambar (makhluk bernyawa). Mereka ceritakan pada Rasulullah. Beliau bersabda, “Gambar itu adalah gambar orang shalih terdahulu lalu meninggal. Lalu dibangunkan tempat ibadah di atas kuburan mereka, dan digambarlah gambar tersebut. Orang yang menggambar itu adalah orang paling bejat di sisi Allah di hari kiamat”” (HR. Bukhari no.3873, Muslim no. 528).

Al imam An Nawawi menjelaskan,

قال أصحابنا وغيرهم من العلماء: تصوير صورة الحيوان حرام 

شديد التحريم، وهو من الكبائر لأنه متوعد عليه بهذا الوعيد 

الشديد المذكورفي الأحاديث وسواء صنعه بما يمتهن أو بغيره 

فصنعته حرام بكل حال لأن فيه مضاهاة لخلق الله تعالى، وسواء ما 

كان في ثوب أو بساط أودرهم أو دينار أو فلس أو إناء أو حائط 

أو غيرها وأما تصوير صورة الشجر ورحال الإبل وغير ذلك مما ليس 

فيه صورة حيوان فليس بحرام

“Ulama madzhab kami dan ulama lain mengatakan: menggambar hewan hukumnya haram dengan keharaman sangat berat. Itu dosa besar, karena termasuk dosa diancam dengan ancaman berat, yang disebutkan dalam hadits. Baik gambar yang dihinakan atau bukan. Maka membuatnya hukumnya haram dalam hal apapun. Karena terdapat unsur menandingi ciptaan Allah ta’ala.

Baik itu di baju, di karpet, uang dirham dinar, uang sen, mangkuk, tembok, atau di tempat lain. Adapun menggambar pohon atau pelana unta, atau benda lain yang bukan gambar hewan maka tidak haram” (Syarah Shahih Muslim).

Maka kita dapati faedah, bahaa ‘illah dilarangnya tashwir adalah karena menandingi ciptaan Allah, menyerupai perbuatan kaum Ahlul Kitab, serta merupakan sarana menuju kesyirikan. 

Namun terkadang gambar makhluk bernyawa boleh digunakan tetapi yang menggambarnya tetap berdosa. Ini juga menunjukkan dosa menggambar makhluk bernyawa (tashwir) lebih berat daripada sekedar menggunakannya (iqtina’ as shurah).

Bagaimana dengan fotografi? Ada dua pendapat dari para ulama. Pertama, haram. Kedua, tidak haram karena tidak termasuk tashwir, melainkan tangkapan bayangan seperti cermin. Disyaratkan tidak ada pengeditan dan tidak ada unsur keharaman.

Ulama yang membolehkan fotografi pun tetap menganggap hasilnya sebagai shurah sehingga terikat ketentuan penggunaannya.

Lalu, Bolehkah Menggambar shurah yang Tidak Sempurna?

الصُّورَةُ الرَّأْسُ، فَإِذَا قُطِعَ الرَّأْسُ فَلَيْسَ بِصُورَةٍ

“Inti dari shurah adalah kepalanya, jika kepalanya dipotong, maka ia bukan shurah” (HR. Al Baihaqi no.14580 ; Dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 1921).

Hadits ini termasuk mauquf, namun dihukumi marfu‘. Maka inti dari ash shurah adalah kepala. Oleh karena itu, sebagian ulama memberikan kelonggaran menggambar makhluk bernyawa jika tidak ada kepalanya, atau ada kepalanya namun tidak sempurna wajahnya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan,

إذا لم تكن الصورة واضحة، أي: ليس فيها عين، ولا أنف، ولا فم،

 ولا أصابع: فهذه ليست صورة كاملة، ولا مضاهية لخلق الله عز وجل

“Jika gambar makhluk bernyawa tersebut tidak jelas, yaitu tidak ada matanya, tidak ada hidungnya, tidak ada mulutnya, dan tidak ada jari-jarinya, maka ini bukan gambar makhluk bernyawa yang sempurna dan tidak termasuk menandingi ciptaan Allah” (Majmu’ Fatawa war Rasail).

Kemudian kita bahas yang kedua, iqtina’ ash shurah, menggunakan gambar bernyawa, pada asalnya adalah terlarang.

لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةٌ

“Malaikat tidak masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar makhluk bernyawa” 

(HR. Bukhari no.3225, Muslim no.2106).

Ada dua jenis shurah. Pertama, shurah mujassamah yaitu gambar yang anggota badannya lengkap, seperti patung, maka tidak boleh menggunakannya. 

وهذا الإجماع محله في غير لعب البنات كما سأذكره

 في باب من صور صورة

“Ini (haramnya menggambar makhluk bernyawa) adalah ijma ulama, kecuali mainan anak”. (Fathul Baari).

Kedua, ghairu mujassamah, yaitu gambar yang berupa raqam (bagian dari anggota badan). Maka dirinci : 

Satu, gambar yang dipajang untuk diagungkan, haram karena ghuluw. Dua, dipajang untuk kenangan, juga diharamkan karena akan timbul cinta yang bisa melebihi cintanya kepada Allah dan ada hadits, malaikat tidak mau masuk ke rumah yang di dalamnya ada anjing dan makhluk bernyawa. Tiga, Untuk hiasan, haram, sebagaimana Rasulullah mengharamkan qaram (tirai) ibunda Aisyah yang bergambar makhluk bernyawa dalam HR. Bukhari 5954 dan Muslim 2107.

Empat, gambar yang dihinakan. Maka jumhur ulama membolehkan untuk dipakai, seperti di karpet misalnya. Lima, gambar pada mainan anak. Para ulama memberikan kelonggaran untuk hal ini.

Enam, gambar yang termasuk ‘umumul balwa yaitu perkara yang sulit berlepas diri darinya. Seperti gambar di majalah, koran, dan sebagian buku, juga untuk identitas, maka tidak apa-apa dimanfaatkan.

Tujuh, gambar di komputer atau gadget. boleh dimanfaatkan selama tidak dicetak dan selama bukan gambar yang mengandung keharaman. karena ia hanya ada dan terlihat ketika komputer / HP dinyalakan. Ketika dimatikan, ia tidak ada. 

Walhamdulillah. Sebagai penutup ijinkan kami mengutip sebuah hadits,

فَضْلُ الْعِلْمِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ، وَخَيْرُ دِينِكُمُ الْوَرَعُ

“Keutamaan dalam ilmu lebih disukai daripada keutamaan dalam ibadah. Dan keislaman kalian yang paling baik adalah sifat wara’” 

(HR. Al Hakim 314, Dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib no.1740).

Allahu a’lam. Hanya kepada Allah kita memohon taufiqNya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *