Fikih

Sutrah Shalat

Di antara sunnah yang mulai banyak ditinggalkan adalah menghadap sutrah ketika shalat. Dalam terminologi fiqih, sutrah artinya segala sesuatu yang berdiri di depan orang shalat, berupa tongkat, atau tanah yang disusun, atau semacamnya untuk mencegah orang lewat di depannya.

Di antara dalil disyariatkannya sutrah,

إذا صلَّى أحدُكم فلْيُصلِّ إلى سُترةٍ ولْيدنُ منها

Jika seseorang mengerjakan shalat maka shalatlah dengan menghadap sutrah dan mendekatlah padanya” (HR. Abu Daud 698 : shahih)

Terdapat ikhtilaf dalam hukum sutrah. Ada yang mengatakan wajib, sunnah secara mutlak, sunnah jika khawatir ada yang lewat, dan sunnah bagi imam dan munfarid. 

Jumhur pendapat mengatakan sunnah. Karena dalam hadits, digunakan lafadz perintah فلْيُصلِّ إلى سُترةٍ (shalatlah menghadap sutrah), maka secara asal menghasilkan hukum wajib kecuali terdapat qarinah (tanda) yang memalingkannya dari hukum wajib. Namun terdapat Hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu,

اذا صلَّى أحدُكُم إلى شيءٍ يستُرُهُ من الناسِ،فأرادَ أحَدٌ أنْ يَجتازَ

 بين يديْهِ، فليدفَعْهُ، فإنْ أبى فَليُقاتِلهُ، فإنما هو شيطانٌ

Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di antara ia dengan sutrah, maka cegahlah. jika ia enggan dicegah maka perangilah ia, karena sesungguhnya ia adalah setan” (HR. Al Bukhari 509)

Perkataan Nabi ‘jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah‘ menunjukkan bahwa orang shalat terkadang menghadap sesuatu dan terkadang tidak.

Juga terdapat hadits pendukung lain bahwa Nabi pernah shalat tidak menghadap sutrah, dan seterusnya sehingga jumhur ulama berpendapat sutrah adalah sunnah, tidak sampai wajib.

Dan sutrah shalat bagi munfarid (shalat sendiri) adalah tempat sujudnya, dan jika berjemaah sutrahnya cukup pada imam.

Terdapat banyak benda yang tercantum dalam hadist secara spesifik untuk sutrah. Di antaranya adalah anak panah,

سُتْرَةُ الرَّجُلِ فِي الصَّلَاةِ السَّهْمُ ، وَإِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ ، فَلْيَسْتَتِرْ بِسَهْمٍ

“Sutrah seseorang ketika shalat adalah anak panah. Jika seseorang diantara kalian shalat, hendaknya menjadikan anak panah sebagai sutrah” (HR. Ahmad 15042).

Juga hewan tunggangan, tiang, pohon, tongkat yang ditancapkan, dinding, dan benda apapun yang meninggi. 

يَقْطَعُ الصَّلَاةَ، الْمَرْأَةُ، وَالْحِمَارُ، وَالْكَلْبُ، وَيَقِي ذَلِكَ مِثْلُ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ

“Lewatnya wanita, keledai dan anjing membatalkan shalat. Itu dapat dicegah dengan menghadap pada benda yang setinggi mu’khiratur rahl (seperti sandaran pelana unta)” (HR. Muslim 511).

Dari sini An Nawawi menyatakan bahwa sutrah itu minimal setinggi mu’khiratur rahl, yaitu sekitar 2/3 hasta, namun dapat digantikan dengan apa saja yang berdiri di depannya”. 

Sebagian pendapat membolehkan menggunakan garis atau sajadah. Namun yang lebih rajih menurut para ulama, tidak boleh bersutrah dengan garis jika masih ada benda lain untuk sutrah. Jika tidak ada, baru boleh dengan sajadah. Jika tidak ada juga, maka dengan membuat garis.

Di antara yang terlarang untuk jadi sutrah adalah benda yang menyerupai berhala dan segala benda yang membuat tidak khusyu’.

Tentang jarak orang shalat dengan sutrahnya, terdapat beberapa hadits. Di antaranya,

كان بين مُصلَّى رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ وبين الجدارِ ممرُّ الشاةِ

“Biasanya antara tempat shalat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan dinding ada jarak yang cukup untuk domba lewat” (HR. Al Bukhari 496).

Dalam riwayat lain dinyatakan jaraknya tiga hasta. Maka para ulama mengkompromikan bahwa jaraknya : sejarak domba lewat jika dihitung dalam keadaan sujud dan rukuk, dan tiga hasta jika dihitung dalam keadaan berdiri.

Bagaimana jika seseorang kehilangan sutrah di tengah shalat? Maka tidak mengapa dan tidak membatalkan shalatnya jika merasa perlu bergerak melangkah sedikit untuk menghindari orang lalu lalang, namun secara asal, diam lebih baik. 

Jika ada yang lewat di depannya cukup dihalau dengan tangan, sebagaimana hadits,

إذا صلَّى أحدُكُم إلى شيءٍ يستُرُهُ من الناسِ،فأرادَ أحَدٌ أنْ يَجتازَ

 بين يديْهِ، فليدفَعْهُ، فإنْ أبى فَليُقاتِلهُ، فإنما هو شيطانٌ

“Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di antara ia dengan sutrah, maka cegahlah. jika ia enggan dicegah maka perangilah ia, karena sesungguhnya ia adalah setan” (HR. Al Bukhari 509)

Ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga shalat agar tidak dilewati orang lain, karena bahkan bisa membatalkan shalat. 

Maka jika kita berjalan dan mendapati orang shalat dengan sutrahnya, hendaknya mencari jalan di luar sutrahnya. Jika lewat di depan orang shalat yang tidak menggunakan sutrah hendaknya lewat diluar jarak sujudnya. Dan jika melewati orang berjemaah, yang dihindari adalah antara imam dengan sutrahnya, karena sutrahnya shalat berjemaah pada imam bukan pada setiap makmum.

Demikian semoga risalah singkat ini bisa menjaga dan meningkatkan kualitas shalat kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *