Aqidah,  Tazkiyah

Mengapa Bunuh Diri Itu Dosa Yang Sangat Besar?

Sebagian orang putus asa mengambil “jalan pintas” dengan bunuh diri. Padahal ini justru akan menambah masalah besar dalam perjalanan panjangnya nanti. Sabda Rasulullah,

من قتلَ نفسَهُ بحديدةٍ فحديدتُهُ في يدهِ يتوجَّأُ بها في بطنِهِ في نارِ 

جهنَّمَ خالدًا مُخلَّدًا فيها أبدًا ومن قتَلَ نفسَهُ بسَمٍّ فسَمُّهُ في 

يدهِ يتحسَّاهُفي نارِ جهنَّمَ خالدًا مُخلَّدًا فيها أبدًا من تردَّى من جبلٍ

 فقتلَ نفسَهُ فَهوَ يتردَّى في نارِ جَهنَّمَ خالدًا مخلَّدًا فيها أبدًا

“Siapa membunuh dirinya dengan besi, maka besi itu nanti di tangannya dan akan dia gunakan menikam perutnya sendiri di neraka Jahannam, kekal di sana selamanya. Siapa bunuh diri dengan minum racun, maka nanti dia meminumnya pelan-pelan di neraka Jahannam, kekal di sana selamanya. Siapa bunuh diri dengan menjatuhkan dirinya dari atas gunung, maka dia akan dijatuhkan dari tempat yang tinggi di neraka Jahannam, kekal di sana selamanya” (HR. Bukhari 5778, Muslim 109).

Sebagian orang mengatakan, bunuh diri itu tidak ada yang disakiti selain dirinya sendiri, kan terserah dia, namun mengapa dosanya malah sangat besar?

Maka disinilah keangkuhan mereka, karena mereka merasa tubuh ini miliknya. Padahal sama sekali tidak. Tubuh kita milik Allah. Firman Allah,

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Orang yang beriman adalah orang yang ketika ditimpa musibah mereka mengatakan: kami adalah milik Allah dan kami akan kembali kepada Allah” (QS. Al Baqarah: 156).

Syaikh As Sa’di menjelaskan,

أي: مملوكون لله, مدبرون تحت أمره وتصريفه, فليس لنا

 من أنفسنا وأموالنا شيء

“Maksudnya: kita adalah budak milik Allah, dan berada di bawah perintah Allah dan kehendakNya. Maka apa pun dari diri kita maupun harta kita, tidak ada yang milik kita” (Tafsir As Sa’di).

Jika seluruh bagian tubuh kita adalah milik Allah, maka kita tidak bisa berbuat seenaknya pada tubuh kita, kecuali yang dibolehkan Allah.

Itulah mengapa Allah menegaskan bunuh diri dan niyahah (meratapi kematian) adalah dosa besar. Karena dia ‘nglamak’. Bayangkan betapa angkuhnya, dipinjami tubuh dan jiwa sempurna, tidak pernah bersyukur, malah digunakan sembarangan, dirusak, protes pula.

Tubuh kita ciptaan Allah, maka hak Allah mengatur tubuh kita sepenuhnya dengan syariatnya. Sehingga kita wajib taat dalam semua syariat tentang tubuh kita, termasuk larangan tato, qaza’, mencukur jenggot, membiarkan kumis dan kuku panjang, mencukur habis alis, menyambung rambut, menampakkan aurat, mengebiri, dan lainnya.

Semua itu hak Allah, kita adalah milikNya, ditambah pula hakikat semua larangan ini adalah untuk kebaikan diri kita sendiri.

Sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam,

فإنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وإنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وإنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

“Sesungguhnya badanmu punya hak yang harus kau tunaikan, matamu punya hak yang harus kau tunaikan, istrimu punya hak yang harus kau tunaikan” (HR. Bukhari no. 5199, Muslim no.1159).

Lihat, jika badan ini milik kita, maka seharusnya tidak ada yang wajib kita tunaikan, namun ternyata tidak.

Maka kita harus jaga tubuh ini sebaik-baiknya agar selalu taat kepada Allah ta’ala, kita jaga agar sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pemiliknya. Dengan taat atas semua perintah dan laranganNya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *