Tazkiyah

Janji Suci


Keluarga Sakinah

Keluarga sakinah, nampaknya sederhana, padahal bahasan ini penting untuk perjalanan dunia akhirat kita. Di antara ladang pahala besar adalah keluarga, maka menjadi suami terbaik di sisi Allah adalah dengan menjadi suami terbaik bagi keluarganya. Sabda Nabi,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi keluarganya, dan aku adalah yang terbaik bagi keluargaku”.

Begitupun wanita terbaik adalah yang terbaik dalam taat dan bakti terhadap suaminya dalam hal yang diridhai Allah. Sabda Nabi,

فَأَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ؟ فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ

“Di manakah posisimu darinya? Sesungguhnya dia adalah surga dan nerakamu.”

Saking agungnya pernikahan Allah namakan akad nikah dengan مِّيثَاقًا غَلِيظًا ‘perjanjian yang berat’. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

وَأَخَذْنَ مِنكُم مِّيثَاقًا غَلِيظًا

“… Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang berat.” 

(QS. An-Nisa’: 21).

Ini menunjukkan pernikahan adalah amanah berat, karena tentang surga atau ke neraka. Bahkan jumhur ulama berpendapat, orang menikah dan sibuk dengan rumah tangganya sehingga ibadah mahdhahnya kurang, lebih utama daripada yang tidak menikah untuk memperbanyak ibadah. 

Tujuan Pernikahan

Keluarga sakinah adalah di antara ‘bonus’ yang Allah berikan bagi mereka yang menikah dalam rangka ibadah. 

Maka inilah pentingnya pemahaman maqashid az-zawwaj, tujuan pernikahan. Karena dengannya segala kegiatan yang mengarah kepada tujuan pernikahan tersebut akan berpahala di sisi Allah ﷻ. 

Ada sebuah kaidah,

ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب، ما لا يتم المستحب 

إلا به فحو مستحب.

“Perkara wajib yang tidak bisa sempurna kecuali dengan sesuatu itu, maka sesuatu itu hukumnya juga wajib. Perkara sunnah yang tidak bisa sempurna kecuali dengan sesuatu itu, maka sesuatu itu hukumnya juga sunnah.”

Misalnya, shalat Jumat wajib bagi laki-laki. Jika shalat Jumat hanya bisa di masjid, maka pergi ke masjid juga menjadi wajib. Pun juga pula pada perkara sunnah, jika seseorang tahu memakai minyak wangi sunnah, dan tidak bisa memakai minyak wangi kecuali dengan membeli, maka membeli minyak wangi juga sunnah. Maka kaidah umumnya,

الوسائلة لها أحكام المقاصد

“Hukum wasilah sama dengan hukum tujuan.”

Sedemikian hingga, apa saja yang kita kerjakan untuk menuju tujuan pernikahan, semuanya merupakan ibadah.

Terdapat tiga tujuan utama pernikahan. Pertama, menjaga kehormatan diri. Agar seseorang tidak terjerumus dalam zina dan lainnya. Dalam hadits disebutkan,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ 

لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai pemuda, siapa di antara kalian mampu menikah, maka menikahlah. Sungguh pernikahan itu lebih menundukkan pandangan mata dan lebih menjaga kemaluan. Siapa belum mampu, berpuasalah karena itu akan meredakan syahwat”.

Ini dalil bahwa tujuan pernikahan adalah untuk menundukkan pandangan dan menjaga menjaga kehormatan diri. Dan di antara usaha utamanya adalah saling memenuhi kebutuhan psikologis dan biologis pasangannya.

Sebagaimana kaidah tadi, bahwa segala usaha untuk tujuan ini (menjaga kehormatan), akan berpahala di sisi Allah ﷻ. Maka jika mereka saling menjaga pandangan dari lelaki/wanita yang haram baginya, berhias hanya untuk suami/istrinya, bahkan menjaga tubuh untuk menjaga penampilan di depan pasangan akan menjadi bagian ibadah yang mulia.

Kedua, meraih ketenangan, cinta dan kasih sayang. Suami bahagia adalah yang terkumpul pada dirinya tiga perkara ini. Maka kebahagiaan lelaki adalah ketika ia bisa berbahagia dengan istrinya. Ketika dia tidak bahagia di rumah, lalu mencari kebahagiaan di luar rumahnya maka sungguh kebahagiaan itu adalah kebahagiaan semu.

﴿هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا﴾

“Dialah (Allah) Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya.” (QS. Al-A’raf: 189)

Maka sebagaimana kaidah tadi, bahwa segala hal yang bisa menumbuhkan cinta kasih antara seorang suami dan istri, itu disyariatkan dan akan berpahala di sisi Allah ﷻ. 

Di antara cinta kasih yang ditunjukkan Rasulullah dalam berbagai hadits, bahwa beliau pernah mandi bersama istrinya, terbiasa berbincang sejenak sebelum tidur, memanggil dengan panggilan sayang, sabar dan memberi udzur bagi istrinya, bahkan Rasulullah juga pernah menjadikan pahanya sebagai pijakan kaki bagi istrinya Shafiyah yang hendak naik ke untanya.

Ketiga, mendapatkan keturunan shalih. Firman Allah ﷻ,

﴿وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً﴾

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.” (QS. Ar-Ra’d: 38).

Sabda Nabi Muhammad ﷺ,

تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ

“Nikahkanlah wanita-wanita yang penyayang dan subur, karena aku akan berbangga kepada umat yang lain dengan banyaknya kalian (pada hari kiamat).”

Sebagaimana kaidah awal, maka segala hal yang bisa membantu mewujudkan anak shalih shalihat, semuanya berpahala. 

Mencari nafkah untuk sekolah/pesantren anak yang terbaik, membangunkan anaknya untuk shalat, mendidik dan mengajari anak, membantu menjaga hafalan Al-Qur’annya, dan seterusnya maka beratus-ratus jam yang kita pakai untuk itu semuanya berpahala. 

Pada akhirnya, tanamkan dalam jiwa kita bahwa segala urusan yang kita lakukan karena pernikahan dan keluarga kita, akan berpahala selama diniatkan ibadah. Maka jangan sampai meremehkan apapun yang kita lakukan dalam urusan keluarga kita. Sabda Nabi,

وَلَسْتَ تُنْفِقُ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللهِ إِلاَّ أُجِرْتَ 

بِهَا حَتَّى اللُّقْمَةَ تَجْعَلُهَا فِي فِي امْرَأَتِكَ

“Dan tidaklah engkau memberi nafkah dengan mengharapkan wajah Allah kecuali engkau mendapatkan pahala, bahkan sampai sesuap makanan yang engkau letakkan di mulut istrimu.”

Dosa Selingkuh

Di antara kelalaian pasangan menjaga maqashid az-zawwaj adalah pengkhianatan pernikahan.

Pengkhianatan besar umumnya diawali dari pengkhianatan kecil. Ketika suami atau istri mulai membuka pandangan ajnabi, ke teman, atau gegara drakor, lalu berkhayal, sampai akhirnya terjadilah pengkhianatan besar, selingkuh.

Selingkuh adalah dosa besar, bahkan dosa besarnya berlipat-lipat dan terdapat banyak maksiat di dalamnya. Di antara rinciannya.

Pertama, dosa khianat. Ini dosa besar. Firman Allah,

وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي كَيْدَ الْخَائِنِينَ

“Allah tidak akan memberi hidayah terhadap tipu daya orang-orang yang berkhianat” (QS. Yusuf: 52).

Mujahid berkata,

المكر والخديعة والخيانة في النار،

 وليس من أخلاق المؤمن المكر ولا الخيانة

“Makar, penipuan dan khianat, pelakunya diancam neraka. Makar dan khianat bukanlah akhlak seorang Mukmin”.

Bahkan Anas bin Malik mengatakan,

إذا كانت في البيت خيانة ذهبت منه البركة

“Ketika khianat terjadi di suatu rumah, akan hilanglah keberkahan”

Kedua, dosa curang (al ghisy). Orang yang selingkuh pasti melakukan al ghisy, main belakang. Sedangkan al ghisy juga dosa besar bukan dosa kecil. Sabda Nabi,

ما مِن عبدٍ يسترعيه اللهُ رعيَّةً يموتُ يومَ يموتُ 

وهو غاشٌّ لرعيَّتِه إلَّا حرَّم اللهُ عليه الجنَّةَ

“Siapapun yang Allah takdirkan ia menjadi pemimpin bagi rakyatnya, kemudian ia mati dalam keadaan berbuat ghisy (tidak jujur) kepada rakyatnya. Pasti Allah akan haramkan ia surga” (HR. Al Bukhari 7150, Muslim 142).

Ketiga, dusta, ini juga dosa besar. Firman Allah,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ

“Sesungguhnya Allah tidak akan memberi hidayah kepada orang yang melebihi batas lagi pendusta” (QS. Ghafir: 28).

Dusta akan menyeret seseorang menuju neraka. Dalam hadits,

وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ؛ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَالْفُجُورَ يَهْدِي 

إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكتب عند الله كذاباً

“Dan jauhilah dusta, karena dusta itu membawa kepada perbuatan fajir (maksiat) dan perbuatan fajir membawa ke neraka. Seseorang yang sering berdusta, akan di tulis di sisi Allah sebagai kadzab (pendusta)” (HR. Muslim no. 2607).

Ini shigah mubalaghah, seseorang tidak dikatakan pendusta kecuali karena saking seringnya dia berdusta.

Keempat, akibat selingkuh biasanya akan membawa kepada banyak maksiat, misalnya zina. Tentu ini dosa besar. 

Kelima, dosa berdua-duaan dengan bukan mahramnya. Keenam, dosa bersentuhan dengan lawan jenis. Sedangkan sabda Nabi,

لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ 

مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya”.

Bahkan ketika dia safar dengan selingkuhannya juga dosa tersendiri, ini dosa ketujuh.

لا تُسافِرُ المرأةُ ثلاثةَ أيامٍ إلا مع ذِي لا يخلوَنَّ رجلٌ بامرأةٍ 

إلا ومعها ذو محرمٍ . ولا تسافرُ المرأةُ إلا مع ذي محرمٍ

“Tidak boleh lelaki berduaan dengan perempuan kecuali dengan ditemani mahramnya, dan tidak boleh seorang wanita bersafar kecuali bersama mahramnya” (HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341).

Kedelapan, orang yang selingkuh tidak akan bisa terhindar dari dosa zina hati. Kesembilan, juga dosa tabdzir (mengeluarkan harta untuk perkara tak layak). Kesepuluh, dosa menyia-nyiakan keluarganya. Sabda Nabi,

كفى بالمرء إثما أن يضيع من يقوت

“Cukuplah seseorang itu berdosa bila ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.”

Maka jelas selingkuh itu maksiatnya maksiat. Belum lagi dosa lainnya yang tak dibahas di sini. Dan sangat mungkin hukuman dosa berlipat itu bisa disegerakan di dunia, tidak hanya di akhirat.

Bagi yang diselingkuhi, mungkin ini kesempatan dari Allah untuk introspeksi diri, bisa jadi karena dosa, atau kurangnya perhatian terhadap pasangan. Namun juga bisa jadi ini sebagai ujian untuk meningkatkan derajat kita di sisi Allah.

Semoga kita terjaga dari berbagai macam dosa dan maksiat dan bisa menggapai keluarga sakinah mawaddah warahmah. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *