Fikih

Mengkompromikan Hadits Yang Seakan Bertentangan

Di antara kasus yang sering dipersoalkan adalah shalat sunnah di waktu terlarang.

Misalnya, seseorang yang safar, dia sudah shalat shubuh, kemudian mampir ke masjid di waktu antara setelah shalat shubuh dan terbit matahari. Ada riwayat hadits mengatakan,

إذا دخل أحد المسجد فلا يجلس حتى يصلي ركعتين

“Jika masuk masjid, maka jangan duduk sampai shalat dua rakaat terlebih dahulu”.

Sementara kita tahu ada tiga waktu terlarang untuk shalat, di antaranya adalah setelah shubuh sampai terbit matahari. Sebagaimana hadits,

لا صلاة بعد الصبح حتى تطلع الشمس

“Tidak ada shalat setelah subuh sampai terbit matahari”

Manakah hadits yang harus kita amalkan? Hadits tahiyatul masjid atau larangan shalat?

Maka para ulama melihat mana dalil yang umum dan dalil yang khusus. 

Ternyata kedua redaksi haditsnya bersifat umum. Dalil pertama umum bagi semua waktu, sedangkan dalil kedua umum bagi semua shalat.

Maka dipilah lagi, mana hadits yang dianggap lebih khusus. Dalil kedua memiliki lebih banyak pengecualian daripada dalil pertama, karena ternyata ada shalat lain yang boleh dilakukan di waktu terlarang, misalnya shalat qadha’, shalat jenazah, shalat khusuf, dan lain-lain.

Sedemikian hingga dalil pertama lebih umum daripada dalil kedua.

Maka kesimpulannya, tetap shalat tahiyatul masjid meskipun di waktu terlarang. Karena dikuatkan pula pada hadits kedua, para ulama menyimpulkan yang terlarang adalah shalat sunnah mutlak (tanpa sebab).

Demikian kira-kira, dengan pemahaman ushul fikih yang matang maka kita akan mudah mengamalkan sekaligus kedua hadits yang sebelumnya seakan bertentangan. Allahul musta’an.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *