Fikih,  Tazkiyah

Sedikit Namun Sesuai Sunnah Lebih Utama

Secara asal semakin sulit amalan dan semakin banyak dikerjakan semakin besar pula ganjarannya. Karena ada sebuah kaidah bahwa,

أجرك على قدر نصبك

“Pahalamu sejalan dengan kadar kesusahanmu (dalam melakukannya).”

Namun dalam keadaan tertentu, amalan yang lebih sedikit justru lebih utama dan bernilai daripada yang banyak, karena lebih sesuai sunnah. Di antaranya,

Shalat qabliyah shubuh / sunnah fajr yang ringkas lebih utama daripada yang panjang.

Qashar shalat menjadi 2 rakaat lebih utama bagi yang safar daripada menyempurnakan 4 rakaat.

Shalat berjamaah satu kali lebih utama daripada sholat sendiri sekalipun dilakukan 25 kali.

Shalat dhuha 8 rakaat lebih utama daripada 12 rakaat. Karena mencontoh Nabi ﷺ .

Membaca surat pendek dalam shalat namun tuntas lebih utama daripada membaca surat yang panjang namun terpotong, terlebih lagi berurutan, sebagaimana yang biasa dilakukan Nabi.

Shalat di belakang maqam Ibrahim setelah thawaf dengan surat Al-Kafirun rakaat pertama dan Al-Ikhlas rakaat kedua, serta shalatnya ringkas lebih utama daripada shalat dengan memperpanjang bacaan, rukuk, dan sujudnya sekalipun.

Menggabungkan madmadhah (berkumur) dan istinsyaq (menghirup air ke hidung) saat wudhu dengan 3 kali ambil air lebih utama daripada memisahkannya menjadi 6 kali ambil air.

Sedekah daging qurban setelah memakan sebagian dagingnya lebih utama daripada menyedekahkan semuanya.

Dan lain-lain. Maka terdapat kaidah lain yang harus kita pegang bahwa,

إصابة السنة أفضل من كثرة العمل

“Mengikuti sunah itu lebih utama daripada memperbanyak amal.”

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk : 2).

Allah Ta’ala tidak mengatakan yang lebih banyak amalnya, namun yang lebih baik amalnya.

Fudhail bin ‘Iyadh menjelaskan tentang amalan yang lebih baik, yakni,

أخلصُه وأصوبُه . وقال : إنَّ العملَ إذا كان خالصاً ، ولم يكن صواباً ،

 لم يقبل ، وإذا كان صواباً ، ولم يكن خالصاً ،

 لم يقبل حتّى يكونَخالصاً صواباً ، 

قال : والخالصُ إذا كان لله عز وجل ، والصَّوابُ إذا كان على السُّنَّة

“(Yaitu amal) yang paling ikhlas dan paling benar.

Sungguh jika suatu amalan dilakukan ikhlas, namun tidak benar, maka amalan itu tidak diterima. 

Dan jika amalan itu sudah benar, namun tidak ikhlas, maka amalan itu juga tidak diterima, sampai amalan tersebut ikhlas dan benar. 

Ikhlas jika ditujukan kepada Allah Ta’ala, dan benar jika sesuai dengan sunnah (tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).”

Maka hendaknya kita senantiasa menjaga hati dan keikhlasan kita, juga hendaknya semua ibadah yang kita lakukan dibangun di atas ilmu, sehingga dapat mencocoki sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

زادنا الله علما وحرصا

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *