Fikih

5 Hal Tentang Shalat Sunnah Fajr

Di antara shalat sunnah yang saking utamanya sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya, yakni shalat sunnah qabliyah shubuh.

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dua rakaat shalat sunnah fajr lebih baik daripada dunia dan isinya.”(HR. Muslim 725).

Ada hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ 

مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْر

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melakukan satu shalat sunnah pun yang lebih beliau jaga dalam melaksanakannya melebihi dua rakaat shalat sunnah subuh.” (HR. Bukhari 1093 dan Muslim 1191)

Saking pentingnya, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam Zaadul Ma’ad, bahwa Ketika safar Nabi tetap shalat sunnah fajar dan witir melebihi shalat-shalat sunnah lainnya. Sedangkan tidak ada nukilan dari Nabi bahwa beliau shalat sunnah rawatib selain dua shalat tersebut ketika beliau safar.

Pertama, dilakukan dengan ringkas, ringan, dan tidak dengan bacaan surat yang panjang. 

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ

 بَيْنَ النِّدَاءِ وَالْإِقَامَةِ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ

“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua rakaat ringan antara adzan dan iqamat shalat subuh.”(HR. Bukhari 584)

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَفِّفُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ

 قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ حَتىَّ إِنِّيْ لأَقُوْلُ : هَلْ قَرَأَ بِأُمِّ الْكِتَابِ؟

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meringankan dua rakaat shalat sunnah subuh sebelum shalat fardhu Subuh, sampai-sampai aku bertanya : “Apakah beliau membaca surat Al-Fatihah?” (HR Bukhari 1095 dan Muslim 1189)

Kedua, ada tiga sunnah bacaan surat dalam sunnah fajr di rakaat pertama dan kedua. Yaitu Surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas (HR Muslim 726), atau Al Baqarah 136 dan Ali Imran 52 (HR. Muslim 727), atau Al Baqarah 136 dan Ali Imran 64 (HR. Muslim 728).

Ketiga, berbaring sejenak setelahnya. Sebagaimana hadits,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا سَكَتَ اْلمُؤَذّنُ بِاْلأُوْلَى مِنْ صَلاَةِ اْلفَجْرِ 

قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ اْلفَجْرِ بَعْدَ اَنْ يَسْتَبِيْنَ اْلفَجْرُ 

ثُمَّ اضْطَجَعَعَلَى شِقّهِ اْلاَيْمَنِ حَتَّى يَأْتِيَهُ اْلمُؤَذّنُ لِلإِقَامَةِ

“Jika muadzin selesai adzan shalat subuh, maka Rasulullah sebelum shalat subuh, beliau shalat ringan lebih dahulu dua rakaat sesudah terbit fajar. Setelah itu berbaring pada sisi lambung kanan beliau sampai datang muadzin untuk iqamat shalat subuh.” (HR. Bukhari 590).

Dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat dalam menghukuminya. Yang kami condong kepada pendapat bahwa hukumnya mustahab (dianjurkan) jika dilakukan di rumah dan bukan di masjid (karena tidak pernah dinukil bahwa Nabi melakukannya di dalam masjid), dan mampu untuk bangun kembali/tidak tertidur sehingga tidak terlambat shalat subuh berjamaah.

Keempat, secara asal lebih afdhal dilakukan di rumah sebagaimana shalat sunnah lainnya.

أَفْضَلُ صَلاَةِ الْمَرْءِ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةَ

“Sebaik-baik shalat seseorang adalah shalat di rumahnya kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari 731).

Namun jika tidak memungkinkan maka tidak masalah.

Kelima, jika terluput maka bisa diqadha’. Baik setelah matahari terbit sebagaimana qaul Nabi dalam hadits Abu Hurairah, atau jika khawatir lupa atau sibuk maka lakukan setelah shalat shubuh langsung sebagaimana takrir Nabi dalam hadits Qais Bin Qahd.

Pada akhirnya, amalan yang dicintai Allah adalah amalan yang kontinyu walaupun sedikit. Dan tidaklah amalan itu sesedikit apapun bisa kontinyu, kecuali karena taufiqNya. Maka semoga Allah senantiasa memberikan taufiqNya kepada kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *