Tazkiyah

Maksiat Sekecil Apapun Akan Mengganggu Ibadah & Hapalan Kita

Imam Syafi’i pernah dalam I’anah at Thalibinnya berkata,

شكوت إلى وكيع سوء حفظي فأرشدني إلى ترك المعا صي وأخبرني 

بأنّ العلم نور ونور الله لا يحدى لعاصي

Aku pernah mengatakan kepada Waki’ tentang buruknya hapalanku, lalu beliau menasehatiku agar meninggalkan maksiat. Dan beliau menyampaikan kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan kepada ahli maksiat. 

Telah ma’ruf kisah Al Imam As Syafi’i bahwa beliau dulu pernah terganggu hapalannya hanya gegara tak sengaja melihat kaki wanita yang tersingkap ketika menaiki kendaraannya.

Padahal beliau bukan orang sembarangan, hapalannya luar biasa, hapal Quran usia 7 tahun, menguasai Al Muwatha’ 10 tahun, bahkan 15 tahun sudah dipercaya untuk berfatwa.

Sungguh semua maksiat itu menutupi hati sehingga kita malas ibadah, sulit taat, sulit menerima kebenaran, apalagi hapalan ilmu dan Quran.

Bagi yang hatinya bersih akan mengerti jika para hafidz Quran menutup kuping milik mereka sendiri, dari musik yang mengganggu mereka, karena kenikmatan menghapal Quran bisa rusak karena musik. Keduanya ibarat cahaya rembulan dan awan yang meredupkannya. Firman Allah,

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.

(QS. Al Muthafifin : 14).

Mujahid berkata bahwa hati itu seperti telapak tangan. Awalnya terbuka, dan jika berbuat dosa maka telapak tangan itu tergenggam.  Ketika berbuat dosa maka jemari akan menutupnya sedikit demi sedikit. Jika berbuat dosa lagi jari lainnya menutupinya lagi. Sampai akhirnya seluruh telapak tangan tertutup oleh jemari.

Maka penting kita senantiasa introspeksi dan mengingat perkataan Fudhail bin Iyadh bahwa,

بقدر ما يصغر الذنب عندك يعظم عند الله 

و بقدر ما يعظم عندك يصغر عند الله.

“Jika engkau menganggap dosa itu kecil maka itu sudah dianggap besar di sisi Allah. Dan jika engkau menganggap setiap dosa itu besar maka itu akan dianggap ringan di sisi Allah”.

Terbukti setiap maksiat sekecil apapun bisa menjadi malapetaka bagi kita. Maka jangan melihat pada kecilnya maksiat, namun lihatlah kepada siapa engkau maksiati, Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *