Fikih

13 Sunnah & Adab Safar

Safar, rihlah berekreasi bersama keluarga adalah hal yang menyenangkan. Beruntung kita yang muslim, hal yang menyenangkan bisa menjadi ibadah jika memperhatikan adab dan sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Pertama, Hendaknya bertaubat kepada Allah dari segala macam kemaksiatan yang telah diperbuatnya dan beristighfar dari setiap dosa yang dilakukannya, karena dia tidak mengetahui apa yang akan terjadi setelah ia melakukan safar dan tidak mengetahui pula takdir yang menimpanya.

Kedua, jangan safar sendirian. Makruh. Hikmahnya, agar lebih aman dan bisa saling mengingatkan kebaikan dan melarang kemungkaran.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

الرَّاكِبُ شَيْطَانٌ، وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ، وَالثَّلَاثَةُ رَكْبٌ

orang yang berkendaraan sendirian adalah setan, orang yang berkendaraan berdua adalah dua setan, orang yang berkendaraan bertiga maka itulah orang yang berkendaraan yang benar.

Ketiga, mencari teman safar yang shalih. Agar perjalanannya penuh manfaat dan jauh dari hal sia-sia serta maksiat.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

Keadaan agama seseorang dilihat dari keadaan agama teman dekatnya. Maka hendaklah kalian lihat siapa teman dekatnya.

Keempat, mengangkat pemimpin atau ketua rombongan.

إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِيْ سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوْا أَحَدَكُمْ. 

“Jika tiga orang (keluar) untuk bepergian, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai ketua rombongan.”

Kelima, Disunnahkan untuk melakukan safar (perjalanan) pada hari Kamis dan berangkat pagi-pagi ketika akan melakukan perjalanan.

لَقَلَّمَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ 

إِذَا خَرَجَ فِيْ سَفَرٍ إلاَّ يَوْمَ الْخَمِيْسِ. 

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila bepergian senantiasa melakukannya pada hari Kamis.” (HR. Al-Bukhari 2949).

Keenam, lebih utama tidak menjamak shalat selagi memungkinkan. Namun dibolehkan menjamak shalat ketika ada masyaqah (kesulitan). 

Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan,

وله الجمع يجوز له الجمع بين الظهر والعصر، بين المغرب والعشاء، 

لكن تركه أفضل إذا كان نازلًا ليس عليه مشقة تركه أفضل

“Orang yang safar dibolehkan menjamak salat Zuhur dan Asar, salat Magrib dan Isya, namun meninggalkannya itu lebih utama, jika ia singgah di suatu tempat dan tidak ada kesulitan, maka meninggalkan jamak itu lebih utama”

Ketujuh, yang lebih sesuai sunnah bahkan ditekankan adalah mengqashar shalat. Ibnu Umar radhiallahu’anhumengatakan,

صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ لَا يَزِيدُ فِي السَّفَرِ 

عَلَى رَكْعَتَيْنِ ، وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَذَلِكَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ

“Aku biasa menemani Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan beliau tidak pernah menambah salat lebih dari dua rakaat dalam safar. Demikian juga Abu Bakar, Umar dan Utsman, radhiallahu’anhum.” (HR. Bukhari 1102, Muslim 689)

Namun jika ikut shalat berjamaah bersama penduduk setempat maka yang lebih utama adalah tidak diqashar (mengikuti jamaah penduduk setempat).

Kedelapan, dalam shalat maktubah (lima waktu) maka secara asal wajib untuk shalat di darat.

Seperti yang pernah kita bahas sebelumnya, bahwa salat wajib tidak boleh kecuali menghadap kiblat, dan tidak boleh di atas kendaraan, ini berdasarkan kesepakatan (ijma) kaum Muslimin, dan dilakukan dengan berdiri gerakan sempurna, kecuali dalam keadaan sangat terpaksa atau adanya rasa takut yang besar.

Sedangkan untuk shalat sunnah lebih longgar, boleh menghadap kemanapun arah tunggangan/kendaraan dan bisa sambil duduk, bahkan sambil menyetir.

Kesembilan, membaca doa keluar rumah. Berdasarkan hadits shahih,

إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ 

إِلَّا بِاللَّهِ، قَالَ: يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ، وَكُفِيتَ، وَوُقِيتَ، فَتَتَنَحَّى 

لَهُ الشَّيَاطِينُ،فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ؟

“Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian dia membaca doa: bismillaahi tawakkaltu ‘alallahi laa haula walaa quwwata illaa billah (dengan menyebut nama Allah, yang tidak ada daya tidak ada kekuatan kecuali atas izin Allah), maka dikatakan kepadanya, ‘Kamu akan diberi petunjuk, kamu akan dicukupi kebutuhannya, dan kamu akan dilindungi’. Seketika itu setan-setan pun menjauh darinya. Lalu salah satu setan berkata kepada temannya, ’Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi (oleh Allah)’” (HR. Abu Daud 5095, At Tirmidzi 3426; dishahihkan Al-Albani)

Juga membaca doa berkendara yang shahih,

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ . وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

“Maha Suci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami”.

Sebagaimana tertuang dalam QS. Az Zukhruf : 12-14. Juga hadits Ibnu Umar dalam riwayat muslim 1342,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اسْتَوَى عَلَى بَعِيرِهِ خَارِجًا 

إِلَى سَفَرٍ، كَبَّرَ ثَلَاثًا، ثُمَّ قَالَ: «سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا، وَمَا 

كُنَّا لَهُمُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ، اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا 

الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا، 

وَاطْوِ عَنَّابُعْدَهُ، اللهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ،

 اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، 

وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ»

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam ketika naik ke untanya untuk pergi safar, beliau bertakbir 3x kemudian mengucapkan:

Maha Suci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah kami memohon kebaikan dan ketaqwaan dalam safar kami dan keridhaan dalam amalan kami. Ya Allah mudahkanlah safar kami ini. Lipatlah jauhnya jarak safar ini. Ya Allah Engkaulah yang menyertai kami dalam safar ini, dan pengganti yang menjaga keluarga kami. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan safar ini, dari pemandangan yang menyedihkan, serta dari tempat kembali yang buruk baik dalam perkara harta dan perkara keluarga”.

Adapun doa “Bismillah majreha wamursaha” yang ternukil dalam QS. Hud : 41, dalam tafsir Ibnu Katsir dan At Thabari  maksudnya adalah anjuran membaca “bismillah” ketika berlayar dan berlabuh atau berkendaraan secara umum saja.

Memang ada hadits Ibnu Abbas radhiallahu’anhu,

أَمانٌ لأمَّتِي منَ الغرَقِ إذا رَكِبُوا البَحرَ أن يقولُوا : ( بِسْمِ اللَّهِ 

مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا ) الآية ( وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ )

“Umatku akan aman dari tenggelam jika mereka ketika berlayar di laut mengucapkan: ‘Bismillahi majreha wamursaha’ dan ‘Wa maa qadarullaha haqqa qadrih‘”

Namun riwayatnya maudhu‘ (palsu). Juga sanad lain, dari Al Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhuma,

أَمَانُ أُمَّتِي مِنَ الْغَرَقِ إِذَا رَكِبُوا أَنْ يَقُولُوا : بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا 

إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ

“Umatku akan aman dari tenggelam jika mereka ketika berlayar, mereka membaca: ‘Bismillahi majreha wamursaha’ dan ‘Wa maa qadarullaha haqqa qadrih’”.

Riwayat ini juga sangat lemah bahkan maudhu’, sebagaimana dijelaskan Al Albani dalam Silsilah Adh Dha’ifah(2932). Sehingga kurang tepat jika diamalkan.

Kesepuluh, berpamitan kepada keluarga. Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhu, beliau berkata,

كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ يُوَدِّعُنا فيقول :

 أَستودِعُ اللهَ دِينَك وأمانتَك وخواتيمَ عملِك

“Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berpamitan kepada kami (sebelum safar) kemudian membaca doa: astaudi’ullah diinaka wa amaanataka wa khowaatima amalika (aku titipkan kepada Allah, agamamu, amanatmu, dan penutup amalanmu)” (HR. Ahmad, 6/242, Abu Daud 2600, At Tirmidzi 3443).

Dan orang yang ditinggalkan membaca doa sebagaimana yang ada dalam hadis ini,

النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ودَّع رجلًا فقال : 

زوَّدكَ اللهُ التقوى , وغفَر لكَ ذنبَكَ , ويسَّر لكَ الخيرَ مِن حيثُما كنتَ

“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika memberi pesan kepergian kepada seseorang, beliau mengucapkanzawwadakallahut taqwaa wa ghafara laka zambaka wa yassara lakal khayra min haitsumaa kunta (semoga Allah memberimu bekal taqwa, dan mengampuni dosamu, dan memudahkan kebaikan untukmu dimanapun berada)”

Kesebelas, memperbanyak dzikir dan doa di jalan. Karena ketika safar adalah waktu terkabulnya doa. Juga bisa diisi dengan obrolan bermanfaat, atau mendengarkan kajian dan lain sebagainya.

Ketika mendapati jalanan naik bertakbirlah, dan ketika mendapati jalanan turun maka bertasbihlah. Sebagaimana hadits,

كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا

“Kami ketika melewati jalanan yang naik, kami bertakbir. Dan ketika melewati jalanan yang turun, kami bertasbih. (HR. Bukhari 2993).

Faedah dari syaikh Al Utsaimin,

 كان النبي صلى الله عليه وسلم في أسفاره إذا علا صَعداً كبر، 

وإذا نزل وادياً سبح، وذلك أن العالي على الشيء قد يتعاظم 

في نفسه،فيرى أنه كبير، فكان من المناسب أن يكبر الله عز 

وجل فيقول: الله أكبر، وأما إذا نزل فالنزول سفول فناسب 

أن يسبح الله عز وجل عندالسفول، هذه هي المناسبة

“Nabi ﷺ ketika beliau safar, jika beliau melewati jalanan yang naik, maka beliau bertakbir. Dan jika menuruni lembah, beliau bertasbih. Karena ketika seseorang berada di posisi yang tinggi, terkadang orang merasa tinggi jiwanya, sehingga dia merasa besar. Karena itu, dzikir yang sesuai adalah mengagungkan Allah dengan membaca Allahu akbar. Sementara ketika turun, maka dia merendah, sehingga dzikir yang lebih sesuai adalah bertasbih”.

Kedua belas, ketika pulang safar shalat sunnah dua rakaat sebelum menuju rumah.

Dari Ka’ab bin Malik radhiallahu’anhu, ia berkata,

أَنَّ النَّبيَّ صلَّى الله عليه وسَلَّم كان إذا قَدِمَ من سفر بدأ بالمسجِدِ 

فركع فيه ركعتين ثُمَّ جلس

“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika beliau pulang dari safar, beliau mendahulukan masuk masjid kemudian salat dua rakaat di masjid kemudian duduk.” (HR Bukhari 3088, Muslim 2769).

Ketiga belas, makan bersama setelah safar. Dibolehkan membuat acara an naqi’ah, yaitu makan-makan ketika seseorang datang dari safar. 

An-naqi’ah dari kata dasar an -naq’u yang artinya debu. Karena orang safar biasanya terkena debu di perjalanan. 

أَنَّهُ لَمَّا قَدِمَ المَدِينَةَ نَحَرَ جَزُورًا أَوْ بَقَرَةً

“Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam datang ke Madinah, beliau menyembelih unta atau sapi betina.” (HR. Bukhari 2923).

Nomor berapa saja yang sudah kita lakukan? Semoga Allah senantiasa memberi taufiq agar kita mudah menjalani kehidupan sesuai sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *