Aqidah,  Tazkiyah

Semakin Bertauhid Semakin Dirinya Takut Akan Syirik

Dua di antara lima dalil yang dibawakan Syaikh Muhammad dalam bab اخوف من الشرك kitab At Tauhid adalah ketakutan para Nabi akan terjatuhnya mereka dalam kesyirikan.

Dalil pertama, firman Allah dalam QS. Ibrahim : 35, dimana Nabi Ibrahim Al Khalil, yang telah memurnikan tauhid justru memohon kepada Allah agar dia dan keturunannya dijauhkan dari syirik.

Ibrahim At Taimi berkata,

من يأمن من البلاء بعد خليل الله إبراهيم، حين يقول : 

ربّ واجنبني وبني أن نعبد الأصنام.

“Siapa yang bisa merasa aman dari bencana kesyirikan kalau Ibrahim sang kekasih Allah saja berdoa : Ya Rabbi, jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari menyembah berhala”.

Dikatakan الأصنام ketika sesembahan itu berupa patung. Sedangkan الأوثان adalah sesembahan non patung atau secara umum, yakni kuburan, pohon, kubah, dan lain-lain.

Nabi Ibrahim begitu takutnya terhadap kesyirikan sementara beliau lah yang dengan gagah berani menghancurkan الأصنام. Lalu bagaimana dengan nasib kita?

Syaikh Shalih Alu Syaikh pernah mengatakan bahwa realitanya kebanyakan orang tidak takut kepada dosa syirik. Maka yang takut terhadap syirik hanyalah yang berusaha memurnikan tauhidnya.

Bukankah sekarang banyak umat muslim justru bermudah-mudah menetap di tengah orang kafir tanpa ada kondisi darurat, tanpa takut bahwa perlahan tapi pasti keselamatan aqidahnya akan terancam.

Kalaupun dirinya selamat, bagaimana dengan keturunannya?. Bagaimana bisa dirinya bisa tenang sementara hidayah dan taufiq itu dari Allah?. Kalau Allah tidak selamatkan kita, maka kita tidak akan selamat. 

Kemudian dalil kedua, hadits Rasulullah tentang kekhawatirannya kepada para shahabat yang begitu mulia,

أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر.

“Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik asghar”.

Jika Rasulullah khawatir sebegitunya kepada para shahabat, lalu bagaimana lagi dengan kita?

Taruhlah Allah selamatkan kita dari syirik akbar, namun berapa banyak yang terjerumus dalam syirik asgharu wal khafiy, bergantung kepada makhluk, mengatakan ‘kalau bukan karena fulan saya tidak akan begini dan begini’. Banyak pula ahli ilmu dan ahli ibadah terjatuh dalam riya’ dan ghurur. 

Maka ini menyiratkan bahwa tidak berarti semakin berilmu seseorang semakin tinggi pula tauhidnya. 

Belum tentu dia lebih mulia di sisi Allah daripada orang yang kurang berilmu. Bisa jadi seseorang kurang ilmu namun dia meraih kedudukan yang tinggi di sisi Allah karena amalan lain, karena ibadah hati misalnya. 

Sebagaimana Uwais Al-Qoroni, beliau bukan tabi’in yang masyhur dengan ilmu sebagaimana Ibnul Musayyib, atau Umar bin Abdul Aziz. Namun baktinya kepada ibunya, keikhlasannya yang selalu menyembunyikan amalan shalihnya serta benci akan popularitas menjadikan beliau sebagai tabi’in paling baik di sisi Allah.

Maka dua dalil ini menegaskan, jangan sampai kita mengaku paling bertauhid sementara kita tak pernah takut akan kesyirikan.

Seorang ahli ilmu atau ahli ibadah jangan sampai tertipu diri sendiri. Bukankah tiga orang yang pertama kali dilempar ke neraka adalah orang berilmu dan terpandang?

Abu Hazim Salamah bin Dinar pernah berkata,

أَخْفِ حَسَنَتَكَ كَمَا تُخْفِي سَيِّئَتَكَ, وَلاَ تَكُنَنَّ مُعْجَبًا بِعَمَلِكَ,

 فَلاَ تَدْرِي أَشَقِيٌّ أَنْتَ أَمْ سَعِيْدٌ

“Sembunyikanlah kebaikanmu seperti engkau menyembunyikan keburukanmu, dan janganlah kau kagum dengan amalanmu, karena kau tidak tahu apakah engkau termasuk orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang bahagia (masuk surga).”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *