Aqidah

Makna Tauhid dan Penyimpangan Tafsirnya

Sebagian orang jahil mengatakan bahwa belajar tauhid cukup 10 menit selesai. Maka ini tidak mungkin, karena tauhid itu melazimkan anti syirik, sedangkan kita tidak akan bisa menjauhi kesyirikan jika kita tidak tahu seluk beluk syirik itu seperti apa. 

Sedangkan jebakan penyimpangan, kesyirikan, dan kebid’ahan selalu berkembang dan diperbaharui di setiap zaman. Maka di antara urgensi paling pertama tauhid adalah mengaplikasikannya sesuai dengan makna yang benar. 

Secara umum, لا إله إلا الله dapat dimaknai dengan “laa ma’bud bi haqqin illa Allah”, tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah semata. Kalimat ini terdiri dari 4 kata :

Pertama, لا (tidak ada), merupakan laa an nafiyah lil jins, fungsinya menafikan seluruh jenis apa yang ia tiadakan, yaitu ilaah (tuhan yang disembah).

Kedua, إله (sesembahan), ini wazan fi’aal bil ma’na maf’uul, maka ilaah berarti yang disembah. Sebagaimana kitaab bermakna maktuub (yang ditulis).

Ketiga, إلا adalah huruf al istitsnaa’ yaitu pengecualian.

Keempat, الله adalah salah satu nama Allah, maknanya “Yang Disembah”.

Para ulama mentaqdirkan khobar laa an nafiyah li al jins dalam kalimat ini dengan بحقٍّ (yang benar), sehingga maknanya laa ilaah / ma’buud bi haqqin illa Allah.

Dari sini kita akan mengerti beberapa penyimpangan makna لا إله إلا الله.

Pertama, ketika pendapat mu’tamad para ulama asya’irah yang menafsirkannya dengan لاقادر على الاختراع إلا الله(tidak ada yang mampu menciptakan kecuali Allah), sehingga membatasi pada tafsiran rububiyyah saja.

Maka ketika membatasi tafsir kalimat laa ilaaha illallah dengan makna tauhid rububiyyah saja, tanpa disadari membuka pintu kesyirikan pada tauhid al uluhiyah.

Penafsiran ini mengesankan awam bahwa yang disebut kesyirikan hanya jika meyakini adanya pencipta selain Allah, sedangkan menyerahkan sebagian bentuk peribadatan kepada selain Allah bukanlah kesyirikan.

Dan inilah kesalahan fatal yang tersebar di banyak masyarakat, bahwa selama meyakini pencipta adalah Allah semata, meskipun berdoa dan beristighasah kepada kuburan, pohon, laut, itu sekedar wasilah dan bukan bentuk kesyirikan.

Kedua, tauhid menurut muktazilah. Sebagaimana kemarin videonya sempat viral, penjelasan seorang kiyai besar di Indonesia yang mengucapkan banyak sekali kosakata “ada”. 

Pendapat muktazilah yakni, tauhid adalah mengesakan Allah dari segala yang menyamainya. Hal ini melazimkan harus menolak seluruh sifat, karena ciri utama pada Allah adalah keazalian wujudNya. Menurut mereka dalam syarah Ushul Khamsah mereka, jika kita menetapkan sifat lainnya yang juga azali bagi Allah berarti kita menetapkan sekutu bagi Allah.

Maka di sini kesalahannya. Karena sifat utama Allah bukan hanya keazalian wujudNya saja, melainkan juga semua sifat yang tidak bisa dimiliki oleh selainNya, menciptakan segala sesuatu secara mutlak mendetail, dan menyeluruh, serta statusNya sebagai sembahan yang maha Esa. 

Syubhat ini terjadi karena mereka terjebak paham filsafat yang dibangun di atas khayalan bahwa ada suatu zat yang bisa tegak tanpa sifat (mujarradah). 

Padahal, zat tanpa sifat hakikatnya tidak ada wujudnya, apalagi memiliki sifat khusus azali. Jadi keazalian bukanlah sifat khusus zat mujarradah, melainkan salah satu sifat khusus zat yang bersifat.

Demikian pula ketika kita menetapkan sifat-sifat Allah yang azali, bukan berarti sifat tersebut azali tanpa zat, karena sifat tidak bisa berdiri sendiri, melainkan azali bersama zatnya. Dan telah kita ketahui bahwa zat dari sifat-sifat Allah adalah Allah itu sendiri.

Ketiga, sebagian terjebak pula pada penyimpangan pemahaman sebagaimana sufi yang membagi tauhid menjadi tiga. 

Pertama, tauhid al aammah (orang awam). Kedua, tauhid al khaashshah (orang spesial), yaitu tauhid yang tak butuh dalil, bersih dari pertentangan batin dan logika, tak butuh sebab apapun. Ketiga, tauhid khaashshatil khaashshah, yakni tauhid yang asalnya Allah khususkan untuk diriNya sendiri, namun terkadang Allah menampakkan secercah dariNya ke orang terpilih, kemudian menjadikan mereka seakan bisu. Inilah paham yang akan mengantarkan ke kesesatan selanjutnya yaitu wihdatul wujud.

Kelima, tauhid ala Al Ittihadiyah (wihdatul wujud) dimana mereka meyakini apa yang terlihat seluruhnya adalah tuhan. Berlandaskan kesesatan inilah Ibnu Arabi pernah menyatakan bahwa Fir’aun adalah ahli tauhid nomor satu. Allahul musta’an.

Keenam, satu lagi penyimpangan makna laa ilaaha illa Allah menurut takfiri dan haraki yang mereka maknai bahwa “tidak ada hakim kecuali Allah”. Mereka anggap ini sebagai risalah utama para nabi Rasul, dan yang menyebabkan terjadinya pertikaian antara Nabi dan ummatnya.

Penafsiran keliru ini mengakibatkan penyimpangan metode dakwah seperti minimnya kepedulian terhadap pemberantasan kesyirikan, mudahnya vonis kafir terhadap pemerintah, meremehkan dai yang menyerukan tauhid uluhiyah.

Memang benar bahwa hukum adalah milik Allah, dan manusia wajib berhukum dengan hukum Allah, namun menjadikan ini sebagai prioritas utama sehingga mengesampingkan makna tauhid uluhiyah adalah hal yang berbahaya.

Demikianlah penjelasan yang ringkas tentang makna لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ dan beberapa kesalahan dalam memaknainya. Semoga menambah ilmu dan iman kita. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *