Aqidah,  Tazkiyah

Rindu Berjumpa Dengan Allah

Menengadah sejenak ke langit, menatap semburat mentari pagi, kicauan burung pun mewarnai hari. Lalu teringat sabda Nabi,

من أحب لقاء الله أحب الله لقاءه ومن كره لقاء الله كره الله لقاءه.

“Siapa yang mencintai perjumpaan dengan Allah maka Allah mencintai perjumpaan dengannya, dan siapa yang benci bertemu dengan Allah maka Allah benci bertemu dengannya” (HR Muslim).

Diantara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ

“Dan aku memohon kepadaMu kelezatan memandang wajahMu, dan kerinduan berjumpa denganMu” (HR An Nasaai, shahih : Al-Albani).

Pesan syaikh Al-‘Utsaimiin dalam syarahnya bahwa, seorang mukmin akan yakin apa yang Allah janjikan di surga bagi hambaNya yang beriman berupa balasan besar dan karunia luas, maka dia mencintai itu, jadilah dunia terasa ringan dan dia tak peduli dunia karena akan menuju surga yang jauh lebih baik. Saat itulah dia rindu bertemu dengan Allah, terutama tatkala ajal datang, mendapat kabar gembira atas ridha dan rahmat Allah, dia rindu berjumpa dengan Allah.

Firman Allah yang mungkin sering kita baca dalam shalat,

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ، إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, (karena) memandang Tuhannya.” (QS. Al-Qiyamah : 22-23).

Ini dalil ulama Ahlussunnah bahwa orang beriman kelak akan melihat Rabb mereka. Maka Allah katakan bahwa kelak ada wajah yang ceria berseri karena memandang wajahNya. 

Ijma’ ulama ahlussunnah bahwa puncak nikmat pada hari itu adalah melihat wajah Allah, dan mereka sepakat bahwa sifat wajah Allah jelas berbeda dengan makhlukNya. Sebagaimana kaidah,

الاتفاق في الأسماء لا يستلزم الاتفاق في المسميات

“kesamaan nama tak melazimkan kesamaan hakikat sesuatu yg dinamai”.

Dalam ayat lain,

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

“Bagi orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (QS.Yunus : 26).

Tambahan ini yaitu tambahan nikmat di surga berupa melihat wajah Allah. Jika penduduk surga masuk, Allah akan berfirman,

تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا؟

 أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ، وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ 

قَالَ: فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ

 إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ. ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ: لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

“Apakah kalian ingin sesuatu Aku tambahkan?” Mereka menjawab, ‘Bukankah Engkau telah membuat wajah kami putih? Bukankah Engkau telah masukkan kami ke surga dan selamatkan kami dari neraka?’ 

Rasulullah bersabda: ‘Lalu Allah bukakan hijab pembatas (wajahNya), dan tak ada satu pun yang dianugerahkan kepada mereka yang lebih dicintai daripada anugerah memandang Rabb mereka. Kemudian beliau membaca Firman Allah: ‘Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya’ (QS. Yunus: 26).” 

(HR. Muslim 181).

Hadits ini mutawattir, sekitar 20 sahabat yang meriwayatkannya. Dalam hadits lain,

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ (وفي رواية أخرى: عِيَانًا)، كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القَمَرَ، 

لاَ تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوا 

عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوعِالشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا

“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian (dalam riwayat lain: dengan mata telanjang (HR. Bukhari 7435)) sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini. Dan kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihatNya.”(HR. Bukhari 554).

Sebagian orang mentakwil ayat ini, bahwa maksud kata نَاظِرَةٌ adalah menunggu, sehingga menurut mereka artinya : berseri-seri karena ‘menunggu’ balasan dari Tuhannya. Maka ini dibantah Al Qurthubi dan para ulama ahlus sunnah dalam tafsir Thabari dan Ar Razi bahwa ketika masuk surga, tidak ada lagi yang namanya menunggu. Firman Allah,

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ 

وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ 

الْكَبِيرُ، جَنَّاتُعَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ

 مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu karunia besar. (Untuk mereka) surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan gelang emas dan mutiara, dan pakaian sutra.”

Kata يُحَلَّوْنَ jika di i’rab adalah حَالٌ yang maknanya ketika mereka masuk surga maka mereka akan langsung mendapat kenikmatan seketika itu juga, tanpa harus menunggu atau melihat-lihat dulu, karena menunggu adalah siksaan tersendiri.

Maka ini dalil kuat sebagaimana dikatakan Imam Syafi’i dan ulama Ahlussunnah bahwa di hari kiamat orang beriman akan melihat Allah Subhanahu wa ta’ala.

Kerinduan itu, tidak akan tergugah kecuali dengan taat atas perintah dan laranganNya.

Sungguh berbahagia bagi kita yang rindu berjumpa denganNya. Dan semoga kita termasuk dari orang yang mendapatkan kenikmatan berjumpa denganNya, memandang wajah Allah Subhanahu wa ta’ala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *