Aqidah,  Tazkiyah

Ini Bukti Cintaku

Tiga perkara yang mendatangkan manisnya iman : Allah dan RasulNya lebih dicintainya dari selainnya, mencintai saudaranya karena Allah, dan benci kembali kufur sebagaimana benci dilemparkan dalam api. Begitu dawuh Nabi pada kita.

Bahkan tatkala seorang sahabat mengakui bahwa dirinya cinta Allah dan RasulNya, maka jawab Nabi,

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”

Maka benar sabda Nabi lainnya,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidaklah beriman sempurna hingga aku lebih dicintainya dari anak dan orang tuanya serta manusia seluruhnya.”

Semua muslim mengaku cinta Nabi. Mencintai Allah dan Rasulullah ﷺ adalah sebab keselamatan. Namun lebih penting bukan sekedar bagaimana mencintai, melainkan bagaimana kita juga dicintai Nabi. Sebagaimana perkataan Ibnu Katsir,

«ليس الشأنُ أن تحبَّ، إنَّما الشأنُ أن تُحَبَّ»،

Yang jadi masalah bukan engkau mencintai, tapi apakah engkau dicintai?

Betapa banyak yang mengaku mencintai namun salah dalam mengumbar cintanya. Sedangkan antara cinta dan nafsu itu sangat tipis bedanya. 

Maka sejatinya cinta Rasul itu dengan mengikuti apa yang diminta bukan memaksa keinginan kita menjadi keinginan untuknya. Cinta kita kepada baginda Rasulullah ﷺ bukan cinta yang egois melainkan cinta dengan ikut titahnya. 

Di antara bukti cinta Rasul ﷺ yang sesungguhnya adalah dengan bershalawat, mengagungkannya, ittiba’ kepada petunjuknya, bangga membela ajaran sunnahnya, mengakui risalah Allah telah sempurna dan kesemuanya telah disampaikannya, serta menyebarkan ajaran sunnahnya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ

 لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah, Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah)ku, maka Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Ali ‘Imran: 31).

Imam Ibnu Katsir menafsirkan bahwa ayat ini adalah hakim bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah, namun tidak ikut jalan (sunnah) Rasulullah ﷺ, maka dia sedang berdusta sampai dia ikut syariat dan agama Nabi Muhammad ﷺ dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaannya.

Maka konsekuensi dari berpegang pada sunnah Nabi ﷺ, adalah mematikan semua ajaran yang menyimpang dari sunnahnya.

Ketika kita tunduk pada ajaran beliau, melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya, itu semua melazimkan semangat untuk tidak melakukan penambahan dan pengurangan dalam ajarannya.

Karena jika kita menganggap ada perkara ibadah yang boleh diadakan setelah beliau wafat, maka itu seakan menuduh bahwa risalah Nabi ﷺ belum sempurna.

Tentang kelahiran Nabi, para ulama berselisih di dalamnya. Ada yang mengatakan bulan Ramadhan, namun lebih tepat pendapat bulan Rabi’ul Awwal. 

Dan yang jadi perselisihan utama adalah masalah tanggalnya, ada yang mengatakan tanggal 2, 8, 9, 10, 12, 17, ada pula yang berpendapat tanggal 22. 

Maka Syaikh Shafiyurrahman al Mubarakfury mengatakan,

ولد رسول الله  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  بشعب بني هاشم في مكة، 

صبيحة يوم الاثنين، التاسع  ويقال: الثاني عشر  من شهر

 ربيع الأول عامالفيل،  والتاريخ الأول أصح والثاني أشهر – 

وهو يوافق اليوم الثاني والعشرون من شهر أبريل سنة 571 م . 

“Rasulullah shalallahu alaihi wasallam lahir di Bani Hasyim di Makkah, pagi hari senin, tanggal 9 atau ada yang mengatakan tanggal 12 bulan Rabi’ul Awwal tahun gajah. Maka tanggal lahir pertama (9) adalah yang paling tepat, sedangkan tanggal lahir kedua (12) adalah yang paling masyhur, bertepatan 22 April 571 Masehi”.

Para ulama sepakat bahwa senin 12 Rabi’ul Awwal 11 hijriyah adalah wafatnya Nabi, sedangkan hari lahirnya, para ulama berbeda pendapat, hari senin di bulan dan tanggal berapa. Maka ini isyarat bahwa kelahirannya tidak mungkin untuk dirayakan.

Jika kita menelusuri kitab tarikh, perayaan Maulid Nabi tidak kita temukan di masa sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan imam yang empat, sedangkan mereka adalah orang yang paling mencintai Nabi dan paling paham dengan sunnah Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Terdapat kaidah dari para ulama bahwa,

لوكان خيرا لسبقونا إليه.

“Seandainya amalan itu baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita melakukannya”.

Dan ternyata benar, yang mengawalinya adalah dinasti syiah fathimiyah, dimana berbagai khurafat, bi’ah aqidah, dan berbagai hal yang menyelisihi Quran Sunnah banyak muncul di masa ini.

Maka ini seharusnya menjadi renungan bagi kita, bahwa sebenarnya kita yang mengaku cinta Allah dan RasulNya apakah sudah benar-benar cinta dengan ikut dawuhnya, atau sekedar mengikuti adat saja.

Agar mendapat balasan cintaNya, maka cintailah Allah dan RasulNya dengan ilmu dan ketawadhu’an. Perlu kita renungkan, seberapa jauh kita mengikuti sunnahnya, meneladani akhlaknya, dan cara hidupnya.

Bukankah masih banyak sunnah Rasulullah yang terbengkalai dan belum kita sentuh? Maka begitu ironis jika sekian banyak sunnah dilupakan, bahkan dilecehkan, sementara hal yang belum tentu diridhai oleh Allah dan RasulNya justru yang dilestarikan, terlebih banyak kemungkaran di dalamnya. 

Ini momentum bagi kita untuk membuktikan cinta kita kepada Allah dan RasulNya dengan mempelajari ilmu agama lebih serius, meneladani sunnah Rasulullah kemudian menancapkannya dalam hati hingga  tercermin dalam setiap amal perbuatan.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” 

(QS. Al-Ahzaab: 21).

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين،

 والحمد لله رب العالمين

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *