Fikih,  Tazkiyah

Memberi Salam Sesama Muslim, Sunnah Yang Mulai Luntur

Hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda,

ليسلم الصغير على الكبير والمار على القاعد والقليل على الكثير، 

وفي رواية لمسلم: والراكب على الماشي.

“Hendaknya yang muda memberi salam kepada yang lebih tua. Yang berjalan memberi salam kepada yang duduk. Dan yang sedikit memberi salam kepada yang banyak. Dan dalam riwayat Muslim : dan yang berkendara hendaknya memberi salam kepada yang berjalan.

Satu hal yang mengandung manfaat dan pahala yang begitu besar, namun sering dilalaikan kaum muslim adalah menebarkan salam.

Lihat betapa detailnya Islam merinci adab bahkan adab salam sekalipun. Dalam hadits terbagi empat adab : 

Pertama, yang muda memberi salam kepada yang lebih tua, ini wujud rasa hormat kepada yang tua sebagaimana yang tua diperintahkan menyayangi yang muda.

Kedua, yang berjalan memberi salam kepada yang duduk, maka ini wujud sopan santun. Mengucapkan salam sebagai bentuk doa, penghormatan, dan implementasi adab kesopanan.

Ketiga, yang sedikit memberi salam kepada yang banyak. Dan keempat, yang naik kendaraan memberi salam kepada yang berjalan, ini untuk merendahkan hati orang yang berkendara. 

Karena biasanya rasa angkuh tak terasa hinggap pada orang yang berkendara terlebih kendaraannya bagus, dia akan merasa lebih superior daripada yang berjalan, maka adab ini untuk menekan agar keangkuhan itu tidak tumbuh subur di hatinya.

kelima, jika dua orang setara berpapasan, maka berdasar keumuman hadits : وخيرهما الذي يبدأ بالسلام. Yang terbaik adalah yang lebih dahulu memberi salam.

Keenam, jika yang banyak melewati yang sedikit yang sedang duduk, maka yang lebih dahulu memberi malam adalah yang lewat. Ini pendapat Imam An Nawawi, karena orang lewat hukumnya seperti orang yang masuk ke dalam rumah.

Ketujuh, jika seseorang memberi salam kepada sekelompok orang maka hendaknya salam itu untuk semuanya bukan sebagiannya saja. 

Seluruh adab ini sunnah, bukan wajib. Artinya tidak tertib juga tidak berdosa, dulu Anas bin Malik meriwayatkan bagaimana sikap tawadhu’ dan kasih sayang Rasulullah,

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم مر على غلمان فسلم عليهم.

“Rasulullah melewati sekelompok anak kecil, dan beliau pun memberi salam kepada mereka”. (HR Bukhari 6247 Muslim 2168).

Sedangkan menjawab salam adalah fardhu kifayah. Firman Allah,

وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا۟ بِأَحْسَنَ مِنْهَآ أَوْ رُدُّوهَآ ۗ

Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau yang semisalnya. (QS. An Nisa : 86)

Allah perintahkan kita menjawab salam dengan jawaban semisal bahkan lebih baik, dari segi kata dan cara. Jika saudara kita mengatakan “Assalamualaikum” maka minimal jawabnya “waalaikumsalam warahmatullah”. Jika saudara kita memberi salam sembari tersenyum, maka juga harus membalasnya dengan salam dan senyum.

Pada akhirnya, kita lihat hikmahnya bagaimana hanya Islam yang mengatur adab sedetail itu. Salam adalah di antara perekat persaudaraan, maka hadirkan makna dan keindahan salam dalam hati kita. Sebagaimana sabda Nabi,

“Tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman. Dan tidaklah kalian beriman hingga saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian kerjakan niscaya kalian akan saling mencintai? 

Tebarkanlah salam di antara kalian.” 

(HR. Muslim 54).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *