Fikih,  Tazkiyah

Sunnah Menjilati Jari Sesudah Makan & Mengambil Makanan Yang Jatuh

Semua sepakat setan adalah musuh manusia, dan seorang musuh pantas dihalangi untuk mendapat kesenangan. Hadits ini juga menunjukkan bahwa keberkahan makanan itu terletak dalam makanan yang jatuh ke lantai. Karena ini perintah Nabi yang shahih dan sharih, maka jangan sepelekan.

“sesungguhnya setan bersama kalian dalam segala keadaan, sampai-sampai setan bersama kalian pada saat makan. Oleh karena itu jika makanan kalian jatuh ke lantai maka kotorannya hendaknya dibersihkan kemudian di makan dan jangan dibiarkan untuk setan. Jika sudah selesai makan maka hendaknya jari jemari dijilati karena tidak diketahui di bagian manakah makanan tersebut terdapat berkah.” 

(HR Muslim no. 2033 dan Ahmad 14218)

Syaikh al-Utsaimin pernah menjelaskan, bahwa jika ada makanan jatuh, ambillah, bersihkan kotorannya dan makanlah, dan kotorannya tidak perlu dimakan karena kita tidak dipaksa memakan yang tidak kita sukai. 

Nabi bersabda, “Dan janganlah makanan tersebut dibiarkan untuk setan” itu karena setan selalu bersama manusia. Jika ada yang hendak makan/minum maka setan menyertainya, bahkan jika ada yang hendak menyetubuhi istrinya setan pun datang dan menyertainya. Jadi setan itu menyertai orang yang lalai dari Allah.

Maka jika kita berucap bismillah sebelum makan, bacaan ini menghalangi setan untuk bisa turut makan. Setan sama sekali tidak bisa makan jika kita sudah menyebut nama Allah, namun setan masih menunggu makanan jatuh ke lantai.

Oleh karena itu hendaklah persempit ruang gerak setan dan jangan biarkan makanan itu untuk setan.

Dalam hadits lain,

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah satu di antara kalian makan, maka janganlah dia bersihkan tangannya sehingga dia jilati atau dia minta orang lain untuk menjilatinya.” (HR. Bukhari no. 5456 dan Muslim no. 2031)

Dalam riwayat Ahmad dan Abu Dawud dinyatakan, “Maka janganlah dia bersihkan tangannya dengan sapu tangan sehingga dia jilati atau dia minta orang lain untuk menjilatinya.”

Alasan mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan itu dijelaskan dalam hadits yang lain,

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menjilati jari dan piring yang digunakan untuk makan. 

Beliau bersabda, “Sesungguhnya kalian tidak mengetahui di manakah letak berkah makanan tersebut.” 

Maksudnya, makanan yang kita nikmati itu mengandung berkah. Namun kita tidak mengetahui letak keberkahan tersebut. Apakah dalam makanan yang sudah kita santap, ataukah yang tersisa dan melekat di jari, ataukah yang tersisa di piring, ataukah berada dalam suapan yang jatuh ke lantai. 

Maka hendaknya kita memperhatikan itu semua agar mendapatkan keberkahan. Yang dimaksud berkah itu tambahan kebaikan, yakni kebaikan permanen dan kita bisa menikmati kebaikan tersebut. Sedangkan yang dimaksud keberkahan makanan adalah bisa mengenyangkan, tidak menimbulkan gangguan pada tubuh, menjadi sumber energi untuk berbuat ketaatan dan lain-lain.

Syaikh Al Ustaimin mengatakan, “Seyogyanya jika selesai makan, jari yang dipakai untuk makan dijilat sebelum dibersihkan dengan sapu tangan sebagaimana perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” 

Beliau memerintahkan untuk menjilati jari atau meminta orang lain untuk menjilati jari kita. Mengenai menjilati jari sendiri maka ini adalah satu perkara yang jelas. Sedangkan meminta orang lain untuk menjilati jari kita adalah sesuatu hal yang mungkin terjadi. 

Jika rasa cinta suami istri itu sangatlah kuat, maka sangatlah mungkin seorang istri menjilati tangan suaminya, atau seorang suami menjilati tangan istrinya.

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah menyampaikan kebenaran dan beliau mustahil menyampaikan sesuatu yang tidak mungkin. Jadi, melaksanakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas adalah satu hal yang mungkin sekali.

Bahkan para ulama menyatakan bahwa di antara hikmah sunnah menjilatkan kepada orang lain yang dilakukan suami dan istri, atau orang tua kepada anak-anaknya ini dapat terus menyuburkan benih cinta dan kasih sayang di antara mereka. 

Demikianlah adab mulia yang diajarkan Islam. Adab penuh hikmah dan berkah yang tampak sepele namun kemashlahatan di dalamnya begitu berharga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *