Fikih,  Tazkiyah

Bacaan Basmalah Dalam Shalat

Disepakati oleh para ulama bahwa basmalah bagian dari Al Quran, dan tidak dituliskan di awal surat Taubah.  Sebagaimana dulu pernah ditanyakan Ibnu Abbas kepada Ustman bin Affan, dari sini Imam An Nawawi menyebutkan,

وأجمعوا على أنها ليست في أول براءة، وأنها لا تكتب فيها.

Ulama terdahulu sepakat basmalah tidak ada di awal surat Bara’ah, dan basmalah tidak ditulis di surat itu (syarh Shahih Muslim).

Yang menjadi titik perbedaan pendapat para ulama adalah apakah basmalah termasuk bagian dari alfatihah (ayat) atau tidak.

Jika ditinjau dari segi riwayat qira’ah, sebagian menyiratkan basmalah bukan bagian dari Al Fatihah dan sebagian lain menyiratkan bagian dari Al Fatihah.

Pendapat syafi’iyah mengatakan basmalah bagian dari alfatihah. Hadits Nabi,

هِيَ: الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ السَّبْعُ المَثَانِي

surat tersebut adalah ‘Alhamdulillahi rabbil’aalamiin’ yang terdiri dari 7 ayat” (HR. Al Bukhari 4474 , 4647).

Lafadz “shiraathalladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim wa laadh dhaaliin” dihitung 1 ayat, sehingga basmalah termasuk dalam 7 ayat itu.

Dalil lainnya hadits,

إِذَا قَرَأْتُمِ : الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاقْرَءُوا : بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ إِنَّهَا

 أُمُّ الْقُرْآنِ , وَأُمُّ الْكِتَابِ , وَالسَّبْعُ الْمَثَانِي 

, وَبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ إِحْدَاهَا

jika kalian membaca Alhamdulillahi rabbil’aalamiin maka bacalah bismillahir rahmanir rahim, karena ia adalah ummul qur’an, ummul kitab dan 7 rangkaian ayat, dan bismillahir rahmanir rahim salah satunya” (HR. Al Baihaqi : shahih).

Sedangkan Hanafiyah, Hanabilah, Malikiyyah dan jumhur fuqaha berpendapat bahwa basmalah bukan bagian dari Al Fatihah. Dalilnya hadits Abu Hurairah,

قَالَ اللهُ تَعَالَى : قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي 

مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ : {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } قَالَ اللهُ 

تَعَالَى : حَمِدَنِيعَبْدِي

“Allah Ta’ala berfirman, ‘ Aku membagi amalan shalat antara Aku dengan hambaKu dua bagian. Ketika hambaku berkata,’Alhamdulillahi robbil’aalamiin’. Allah Ta’ala berkata, ‘ Hambaku telah memujiKu.’” …dan seterusnya. (HR Muslim 904).

Dalam hadits ini, Allah berfirman al fatihah dimulai dari ayat : Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, bukan basmalah. Disebutkan An Nawawi dalam syarh Shahih Muslim bahwa ini dalil paling tegas yang menunjukkan bahwa basmalah bukan bagian dari Al fatihah.

Maka dengan al fatihah yang 7 ayat, shiraathalladziina an’amta ‘alaihim dihitung satu ayat, dan ghairil maghdhuubi ‘alaihim wa laadh dhaaliin satu ayat.

Tentang jahr atau sirr basmalah dalam shalat, berbeda dengan pembahasan status basmalah yang masuk dalam ranah qira’ah, maka ini masuk dalam ranah fiqh shalat.

Ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Singkatnya, yang melirihkan bacaan berpegang pada hadits Anas bin Malik radhiallahu’anhu, beliau berkata,

أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ وأبا بكرٍ وعمرَ رضي اللهُ عنهما ،

 كانوا يفتتحونَ الصلاةَ : بالْحَمْدِ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, Abu Bakar, Umar, mereka membuka shalat dengan Alhamdulillahi rabbil ‘alamin” (HR. Al Bukhari 743).

Dan dalam riwayat Muslim,

صلَّيْتُ مع رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، وأبي بكرٍ ، وعمرَ ،

 وعثمانَ ، فلم أَسْمَعْ أحدًا منهم يقرأُ بسمِ اللهِ الرحمنِ الرحيمِ

“aku shalat bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman dan aku tidak mendengar mereka membaca bismillahir rahmanir rahim” (HR. Muslim 399)

Sedangkan yang menjahrkan berpegang pada hadits Abu Hurairah dari Nu’aim al Mujmir,

صليت وراء أبي هريرة فقرأ: (بسم الله الرحمن الرحيم). ثم قرأبأم القرآن.

“Aku shalat di belakang Abu Hurairah, beliau membaca : bismillahirrahmanirrahim, kemudian beliau membaca al fatihah”. (HR Nasai 905, Ibnu Hibban 1797)

Ulama memandang hadits Anas lebih kuat jalurnya, keabsahab hadits dari jalur Nu’aim diperselisihkan, terlebih sahabat Anas membersamai Rasulullah lebih lama daripada Abu Hurairah sehingga jumhur ulama berpendapat melirihkan bacaan basmalah dalam shalat lebih mendekati sunnah.

Maka yang lebih tepat dinukilkan oleh Ibnul Qayyim dalam Zaad al Ma’ad bahwa, Rasulullah terkadang menjahrkan basmalah, namun lebih sering melirihkannya. Tidak ragu lagi bahwa Rasulullah tidak pernah merutinkan mengeraskan basmalah dalam shalat malam maupun shalat wajib yang 5, baik safar atau tidak Para khulafa ar rasyidin pun melirihkannya, dan mayoritas sahabat Nabi, dan juga mayoritas penduduk negeri ketika itu di masa generasi utama umat Islam.

Ketika kita mengucapkan basmalah dalam shalat maka seakan kita berkata “saya memulai pekerjaan ini dengan menyebut nama Allah agar mendapat keberkahan di dalamnya”. Sebagaimana perkataan Ibnu Jarir At Thabari,

إن الله تعالى ذكره وتقدست أسماؤه، أدب نبيه محمدا صلى الله 

عليه وسلم بتعليمه تقديم ذكر أسمائه الحسنى أمام جميع أفعاله.

“Sungguh Allah ta’ala mengajarkan adab kepada NabiNya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mendahulukan penyebutan namaNya yang baik sebelum mengerjakan semua kegiatan”.

Kemudian Ar Rahman dan Ar Rahim, Sebenarnya hampir tidak ada transliterasi yang benar-benar pas dalam bahasa Indonesia untuk makna in8z

الرّحمن bentuk hiperbola dari kata rahima (menyayangi). Sehingga maknanya adalah Dzat yang kasih sayangnya begitu luas, meliputi seluruh makhluk, mukmin maupun kafir, sehingga kesejahteraan semua makhluknya terjamin. 

Sementara الرّحيم juga dari kata rahima, yang menunjukkan makna kasih sayangnya sampai kepada objek. Maka Ar Rahim kasih sayang khusus bagi mukmin. Terlebih di akhirat kasih sayang Allah hanya akan diberikan kepada hambaNya yang beriman, sementara yang kafir tidak.

Ibnul Qayyim mengatakan, Ar Rahman menunjukkan sifat Allah, sedangkan Ar Rahim menunjukkan perbuatan. Sifat rahmat Allah sangat luas, dan sifat rahmat yang sampai kepada makhluk, Allah mengasihi para hambaNya yang Dia kehendaki.

Maka hikmah lafadz الرّحمن dan الرّحيم digandeng dengan bacaan بسم الله bahwa semua hamba begitu lemah, amat sangat butuh kasih sayang Allah di dunia dan akhirat. Sedangkan basmalah dibaca untuk mengawali amal, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas izin dan kasih sayang Allah. 

Sedemikian hingga بسم الله الرحمن الرحيم berfungsi untuk mengingatkan kepada kita bahwa Allah dzat yang satu-satunya patut disembah dan dimintai tolong, hanya dengan namaNya kita beramal, dengan bentuk penghambaan terendah bahwa diri ini begitu lemah, dan hanya Allah Yang Maha pengasih dan penyayang yang bisa menolong, sehingga semakin besarlah rasa cinta kita kepadaNya. Allahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *