Aqidah,  Tazkiyah

Husnudzan Kepada Allah

Sudah selayaknya seorang mukmin memiliki kebaikan dalam ibadah dzahirnya dalam kondisi normal, shalat puasa zakat haji, serta amalan sunnah lainnya.

Namun ujian sebenarnya akan muncul tatkala berada pada kondisi genting dan terjepit. Bagaimana kesungguhan kita dalam ibadah akan teruji ketika sakit parah, ketika kekacauan terjadi, bencana atau wabah.

Syariat Allah begitu detail, dalam kondisi perang saja yang sangat genting para sahabat melaksanakan syariat shalat khauf.

Maka di antara amalan yang sering manusia lalai di dalamnya adalah amalan hati. Dalam tiga kondisi, selalu ingat bahwa amalan hati terpenting dan memiliki nilai begitu besar di sisi Allah adalah berhusnudzan kepadaNya.

Pertama, husnudzan kepada Allah tatkala bertaubat dan berdoa. Dan titik nadir paling berbahaya adalah ketika seseorang terjebak talbis iblis sehingga muncul protes keras dari mulutnya, ‘saya sudah lama berdoa, beramal begini begitu tapi tidak dikabulkan jua’.

Lihatlah ketika Ka’b bin Mâlik, Hilal bin Umayyah, dan Murarah bin ar-Rabi’ Radhiyallahu’anhum di hajr, diboikot karena lari dari Perang Tabuk, betapa terhimpitnya hati ketika tahu taubatnya tertangguhkan.

Namun karena cinta dan taat kepada Allah dan RasulNya, meskipun terjepit mereka tetap berhusnudzan kepada Allah. Maka Allah hadiahkan berita gembira bagi mereka,

وَعَلَى ٱلثَّلَٰثَةِ ٱلَّذِينَ خُلِّفُوا۟ حَتَّىٰٓ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ ٱلْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ 

وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنفُسُهُمْ وَظَنُّوٓا۟ أَن لَّا مَلْجَأَ مِنَ ٱللَّهِ إِلَّآ إِلَيْهِ

 ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْلِيَتُوبُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan, hingga bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit, serta mereka tahu tidak ada tempat lari dari Allah, melainkan kepadaNya saja. Lalu Allah terima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah Dia yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. At Taubah 118).

Kedua, husnudzan kepada Allah tatkala menghadapi kematian. Setiap anak manusia betapapun panjang usianya, kelak ia akan dipikul di atas keranda. 

Maka kondisi genting yang sangat genting, tatkala sakit berkepanjangan, atau kondisi kritis apapun jelang kematiannya. Tidak ada obat yang lebih baik selain tawakkal dan berhusnudzan kepada Allah.

“Janganlah salah seorang kalian meninggal kecuali dia berhusnudzan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Muslim)

Ketiga, husnudzan kepada Allah tatkala mendapat cobaan dan masalah berat.

“Sesungguhnya seorang mukmin ketika berbaik sangka kepada Tuhannya, maka ia akan memperbaiki amalnya. Sementara orang buruk, dia berprasangka buruk kepada Tuhannya, sehingga ia melakukan amal keburukan.” (HR. Ahmad).

Dalam sebuah riwayat dikatakan ketika syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengalami kondisi tersulit di masa dakwahnya, maka tak hentinya beliau katakan,

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar”. Maka husnudzan kepada Allah adalah yakin Allah akan memberi rahmat dan ampunan bagi hambaNya.

Husnudzan kepada Allah adalah yakin Allah akan mengampuni hambaNya yang mau bertaubat, yakin Allah akan memberi pahala besar untuk ketaatan, yakin bahwa,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (kebutuhan)nya. (QS. at-Thalaq: 3)

Husnudzan kepada Allah adalah membangun keyakinan bahwa setiap takdir dan keputusan Allah memiliki hikmah yang begitu agung.

وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ

“Tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kamilah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu”. (QS. al-Hijr: 21).

Dalam tiga kondisi terjepit itu, tidak ada obat yang lebih baik selain berhusnudzan kepada Allah. Namun ingat, husnudzan bukan ghurur. Bukan termasuk husnudzan kepada Allah, ketika seseorang mengharap pahala dari Allah, sementara dia tidak beramal.

Ibnul Qoyim mengatakan,

وقد تبين الفرق بين حسن الظن والغرور ، وأن حسن الظن إن حمَل 

على العمل وحث عليه وساعده وساق إليه : فهو صحيح ،

 وإن دعا إلىالبطالة والانهماك في المعاصي : فهو غرور ، 

وحسن الظن هو الرجاء ، فمن كان رجاؤه جاذباً له على الطاعة زاجراً 

له عن المعصية : فهو رجاءصحيح ، ومن كانت بطالته رجاء ورجاؤه

 بطالة وتفريطاً : فهو المغرور

“Jelas berbeda husnudzan dengan ghurur (tertipu). Husnudzan kepada Allah yang benar akan mendorong dirinya untuk beramal, menggiringnya beramal. Namun jika husnudzan membuat dia berdiam diri, bahkan tenggelam dalam maksiat, ini ghurur.

Karena husnudzan adalah membangun harapan. Siapa yang harapannya membuat dirinya makin taat dan menjauhi maksiat, ini harapan yang benar. Sebaliknya, jika diamnya menjadi harapan dan harapannya menyebabkan dia diam dan melanggar syariat, maka ini tertipu”.

Maka tatkala kondisi terhimpit, jangan sampai kita malah bermaksiat, seperti sebagian orang justru minum khamr dan menerjang segala larangan Allah tatkala depresi. Tetaplah beramal dan berhusnudzan kepada Allah. Sebuah hadits dari Abu Hurairah,

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي

“Allah Ta’ala berfirman, “Aku sesuai sangkaan hambaKu kepadaKu. Dan Aku bersamanya, jika dia mengingatKu.” (HR. Bukhari 7405 & Muslim 6981).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *