Fikih,  Tazkiyah

Tiga Fenomena Sedekah Jaman Now

Infaq, sedekah, dan wakaf adalah ibadah. Di dalamnya terdapat unsur khauf, radja, hubbu, tawakkal dan beberapa hal lainnya yang kesemuanya ditujukan kepada Allah.

Hari ini kami berbincang tentang tiga fenomena sedekah jaman now yang sering terjadi.

Pertama, kami diperingatkan dari orang yang beramal akhirat untuk dan dunia. Ada yang mengajar ilmu hanya untuk punya nama, hanya untuk kaya, ada juga yang bersedekah harta namun hanya untuk kaya, hanya agar rizkinya ditambah. Sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan,

“Andai kehidupan dunia di sisi Allah senilai sayap nyamuk niscaya Allah tidak mungkin membiarkan orang kafir menikmati walau hanya seteguk air.”  (HR. At Tirmidzi).

وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ

Dan carilah (kebahagiaan) negeri akhirat dengan kekayaan yang telah Allah anugerahkan kepadamu, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi.”  (QS. Al-Qashash: 77).

Perhatikan ayat ini, Allah perintahkan kita untuk cari akhirat dan jangan lupa dunia. Sedangkan mayoritas prinsip orang sekarang justru bertentangan dengan Al Quran, mereka katakan cari dunia jangan lupa akhirat.

Memang betul janji Allah untuk orang bersedekah itu di dunia plus di akhirat. Namun bukan berarti menjadi pembenaran balasan di dunia sebagai obsesi utama ketika beramal. 

Allah tidaklah pelit tidaklah kikir. Jika kita selalu lapangkan urusan orang, maka pastilah Allah membalas dengan yang serupa.

Keuntungan dunia itu bonus, sedangkan berharap wajah Allah, menjaga keikhlasan, berharap akhirat adalah syarat diterimanya amalan.

Maka sepatutnya kita tanya dalam diri kita, layakkah jika keuntungan dunia dari beramal shalih lebih menguasai hati dibanding keuntungan akhirat? Pantaskah orang yang beriman terhadap hari akhir berpikir sependek ini?.

Maka di antara sikap terbaik dalam mencari kekayaan dunia adalah jangan sampai menjadikan amalan akhirat sebagai sarana mencari dunia. 

وَٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ

Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS Al A’la : 17).

Jangan sampai kita terpedaya dunia, jangan sampai kita terpedaya dengan nikmat yang segera namun sekali habis.

Kedua, kami diperlihatkan semangat ibu-ibu dalam beramal shalih. Mereka berinisiatif berwakaf dengan arisan.

Arisan termasuk urusan muamalat manusia, prinsipnya taawun, tolong menolong. Dan kaidah asal dalam muamalah adalah boleh sampai ada dalil yang melarangnya.

Sedangkan wakaf hukumnya sunnah. Sehingga wakaf arisan berarti saling membantu bergantian meminjamkan / memberi hutang kepada sebagian anggota lain sebagian harta untuk diwakafkan.

Maka prinsip awalnya.

  تقدم الفرائض على النوافل

‘Didahulukan yang wajib sebelum yang anjuran’.

Hutang adalah wajib, sedangkan wakaf adalah sunnah. Terdapat keterangan Ibnu Qudamah,

ومن عليه دين لا يجوز أن يتصدق صدقة تمنع قضاءها ؛ 

لأنه واجب فلم يجز تركه

Siapa yang memiliki utang, tidak boleh bersedekah yang menyebabkan dia tidak bisa membayar utang. Karena membayar utang itu wajib yang tidak boleh dia tinggalkan.

Namun pengecualian jika tidak memberatkan dimungkinkan setiap anggota mampu melunasi (bergiliran). Kata syaikh Utsaimin,

أما إذا كان الدين مؤجلاً، وإذا حل وعندك ما يوفيه : 

فتصدق ولا حرج ؛ لأنك قادر

“Jika utangnya jatuh tempo masih jauh, dan waktu jatuh tempo anda memiliki dana untuk melunasinya, silahkan sedekah, tidak ada masalah. Karena anda terhitung mampu..”.

Maka Allahu a’lam, boleh saja arisan wakaf, atau berwakaf sebelum membayar hutangnya, selama lima rukunnya terpenuhi, yakni waqif, mauquf, mauquf alaih, sighat, nazhir. Dan selama tidak memberatkan salah satu anggotanya.

Ketiga, semangat ibu-ibu juga, sedekah ke suatu lembaga yatim dan penghafal Quran. Namun belakangan baru diketahui ternyata lembaga tersebut banyak mengadakan acara-acara yang kurang berfaedah dan kurang bersesuaian dengan sunnah.

Sedemikian hingga timbul pertanyaan bagaimana dengan sedekah yang tidak tepat sasaran apakah tetap berpahala.

Maka para ulama mengatakan yang intinya kita melihat secara dhahir di awal. Secara asal  kita cari lembaga yang benar terpercaya, transparan, dan bertanggung jawab. Kalaupun misalnya di hari kemudian ternyata tidak tepat sasaran, maka itu tanggung jawab pelaksana, dan orang yang  telah bersedekah tetap mendapatkan pahala sesuai dengan keikhlasannya.

Sebagaimana kisah Yazid yang bersedekah lalu diambil oleh anaknya sendiri, Ma’an bin Yazid radhiallahu ‘anhuma, padahal niatnya untuk orang lain yang lebih membutuhkan. Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda;

لَكَ مَا نَوَيْتَ يَا يَزِيدُ ، وَلَكَ مَا أَخَذْتَ يَا مَعْنُ

“Engkau (Yazid) dapati apa yang engkau niatkan. Sedangkan (Ma’an), engkau boleh mengambil apa yang engkau dapati” (HR. Bukhari 1422).

Begitulah, ketiganya adalah fenomena dalam sedekah jaman now, ketiganya diliputi semangat dan inisiasi. Ada yang positif ada yang negatif, dan di sisi Allah tentu kedudukannya bertingkat-tingkat sesuai kadar ikhlasnya kepada Allah dan ittiba’nya kepada tuntunan Rasulullah. Allahul musta’an.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *