Tazkiyah

Para Salaf Mengikat Ilmu Dengan Istiqamah Beramal

Hal paling mudah menghafal ayat, qaul, dawabith, dan semua ilmu adalah dengan mengamalkannya. Dan amalan yang diberkahi adalah yang didawamkan walaupun sedikit. Tentu semua tahu hadits Nabi,

أحب الأعمال إلى الله تعالى أدومها وإن قل.

”Amalan yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinyu walaupun sedikit.”

Dan di antara kaidah para salaf,

من ثواب الحسنة الحسنة بعدها، ومن جزاء السيئة السيئة بعدها.

“Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan berikutnya dan di antara balasan keburukan adalah keburukan berikutnya.”

Maka inilah resep terbaik para salafus shalih dibalik langgengnya karya-karya mereka, mereka selalu bersegera mengamalkan setiap ilmu yang di dapat dan menjadikannya kontinyu, sedemikian hingga kebaikannya berlipat-lipat setelahnya.

Salah seorang guru Imam Syafi’i, Waki’ bin Jarrah pernah mengatakan,

كنا نستعين على حفظ الحديث بالعمل به، وكنا نستعين

 على طلبه بالصوم.

Kami terbiasa ‘mensupport’ hapalan hadits kami dengan mengamalkannya. Dan kami juga terbiasa berpuasa agar mudah mempelajari hadits.

Diceritakan pula bahwa Imam Malik penulis kitab hadits tertua, Al Muwatha’ yang kita pakai hingga kini,

مكث مالك بن أنس ستين سنة يصوم يوماً ويفطر يوماً 

وكان يصلي في كل يوم ثمانمائة ركعة

Imam Malik bin Anas istiqamah puasa daud selama 60 tahun, sehari puasa sehari berbuka. Dan setiap hari, beliau shalat 800 rakaat.

Abdullah bin Ahmad, anak imam Ahmad yang meneruskan perjuangan ayahnya dalam penulisan kitabnya, pernah bercerita,

كان أبي يصلي في كل يوم وليلة ثلاث مئة ركعة. فلما مرض 

من تلك الأسواط أضعفته، فكان يصلي في كل يوم وليلة مئة 

وخمسين ركعة، وقدكان قرب من الثمانين

Ayahku shalat sehari semalam 300 rakaat. Ketika beliau sakit karena dicambuk penguasa dzalim dan mulai lemah, sehari semalam beliau shalat 150 rakaat, sedangkan usianya hampir 80 tahun.

Dan tahukah kita mengapa Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib dipanggil Zainul Abidin (hiasan ahli ibadah)?. Al-Hafidz al- Mizzi menceritakan,

ذو الثفنات علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب 

زين العابدين سمي بذلك لأنه كان يصلى كل يوم ألف ركعة فصار

 في ركبتيه مثل ثفناتالبعير

“Pemilik benjolan di lutut, Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, hiasan ahli ibadah (Zainul Abidin), disebut demikian karena dalam sehari beliau shalat 1000 rakaat, sehingga di lututnya terdapat benjolan seperti benjolan onta”.

Begitulah ibadahnya para salaf, yang di antara sebab itulah amal jariyah dari ilmu mereka bisa langgeng hingga sekarang dan nanti. 

Semoga Allah mudahkan kita meniru mereka, serta Allah jauhkan kita dari sifat berilmu namun tak beramal, atau beramal tanpa ilmu. Wallahul muwafiq.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *