Fikih

Ushul Fikih Itu Memudahkan

Ilmu ushul fikih pada hakikatnya merupakan sebuah kaidah yang bisa mengantarkan kepada hukum fikih berdasar dalil terperinci.

Di antara kitab ushul fikih adalah kitab Al Ushul Min Ushul milik syaikh Al Utsaimin rahimahullahu, juga kitab Ma’alimu Ushul Fiqh Inda Ahlu Sunnati Wal Jamaah Syaikh Muhammad Husain Al Jizani hafidzahullahu.

Ushul fikih memiliki peran penting bagi ulama dalam mentarjih pendapat fikih, baik antar jenis dalil, nash dengan nash, juga qiyas dengan qiyas. 

Terdapat banyak kaidah Ushul fikih. Misalnya, pertama, kaidah dari sisi sanad hadits, antaranya :

Hadits yang lebih banyak diriwayatkan akan lebih didahulukan dari yang lain, atau juga terkait dengan riwayat pelaku kejadian, dan seterusnya.

Kedua, kaidah dari sisi matan, di antaranya :

manthuq didahulukan daripada mafhum, dalil khusus lebih didahulukan daripada dalil umum, dalil umum mahfuz lebih didahulukan daripada dalil makhsus, nash didahulukan daripada makna dhahir, dalil umum yang mutlak tanpa menyebutkan sebab lebih didahulukan, dalil yang mengharamkan didahulukan daripada dalil yang menghalalkan, dan dalil penetapan didahulukan daripada penafian.

Contoh kasus, soal Nabi apakah pernah shalat di dalam Ka’bah. Terdapat hadits,

قال ابن عمر :

سألت بلالا، حين خرج: ما صنع رسول الله ﷺ؟ قال:

جعل عمودين عن يساره، وعمودا عن يمينه، وثلاثة أعمدة وراءه- 

وكان البيت يومئذ على ستة أعمدة-ثم صلّى.

Sedangkan terdapat hadits lain,

عن ابن عباس، قال:

لما دخل النبي ﷺ البيت، دعا في نواحيه كلها، ولم يصل حتى خرج منه.

Keduanya sama-sama shahih, riwayat bukhari. Maka dengan ilmu ushul kita mudah mentarjih, bahwa hadits pertama yakni yang dari Bilal sifatnya penetapan dan pelaku kejadian, sedangkan hadits kedua sifatnya penafian dan bukan pelaku kejadian. Sedemikian hingga kita lebih 

merajihkan hadits yang pertama.

Contoh kasus lain yang sebelumnya juga pernah kita bahas, soal tahiyatul masjid di waktu terlarang. Terdapat hadits dari Qatadah,

إذا دخل أحد المسجد فلا يجلس حتى يصلي ركعتين

“Jika masuk masjid, maka jangan duduk sampai shalat dua rakaat terlebih dahulu”.

Sementara kita tahu ada hadits lain dari Abu Sa’id Al Khudri,

لا صلاة بعد الصبح حتى تطلع الشمس

“Tidak ada shalat setelah subuh sampai terbit matahari”.

Keduanya shahih, sharih, diriwayatkan marfu’, riwayat bukhari. Maka disinilah peran ilmu ushul fikih dalam mentarjih. Keduanya sama umum, namun keumuman hadits pertama lebih kuat daripada hadits kedua. Hadits Qatadah belum ada takhsis, sedangkan hadits Abu Sa’id Al Khudri terdapat banyak takhsis, misalnya shalat qadha’, shalat jenazah, shalat sunnah thawaf, shalat gerhana, dan seterusnya. Sehingg akita memahami hadits kedua makna larangannya adalah shalat sunnah mutlak.

Sedemikian hingga kita tetap shalat tahiyatul masjid ketika datang ke masjid walaupun ba’da shalat subuh, meskipun sebaiknya secara asal tetap dihindari.

Ketiga, kaidah tarjih antar dua makna dari sebuah kata, maka makna dzahir didahulukan daripada makna ta’wil, hakiki didahulukan daripada majazi, berurutan hakekat syar’iyah – urfiyah – baru setelahnya lughowiyah, makna ta’sis didahulukan daripada ta’kid, dan makna tanpa idhmar didahulukan daripada makna dengan idhmar.

Keempat, kaidah ushul dalam mentarjih hadits, di antaranya : Hadits qauli didahulukan daripada fi’li, hadits yang sesuai dengan dzahir Quran kebih kuat, hadits yang sesuai dengan qiyas lebih kuat, hadist yang diamalkan jumhur salaf lebih kuat.

Contoh kasus, soal shalat sunnah ba’diyah ashar. Terdapat Hadits dari ibunda Aisyah,

ركعتان لم يكن رسول الله ﷺ يدعهما سرا ولا علانية : 

ركعتان قبل صلاة الصبح، وركعتان بعد العصر.

“Dua rakaat yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah adalah dua rakaat sebelum shubuh dan dua rakaat setelah ashar”.

Namun ada hadits lain, Abu Said Al Khudri secara marfu’,

لا صلاة بعد العصر حتي تغرب الشمس.

“Tidak ada shalat setelah ashar hingga matahari terbenam”.

Kedua hadits ini seakan bertentangan, padahal sama-sama sharih dan shahih, riwayat bukhari. Maka ushul fikih memudahkan para ulama mentarjihnya.

Hadits ibunda Aisyah adalah fi’li, sikap kebiasaan Nabi, sedangkan yang diriwayatkan Abu Said Al Khudri adalah hadits qauli. Maka kita katakan hadits pertama adalah kekhususan Nabi, sebagaimana banyak kekhususan Nabi lainnya. Sedangkan hadits kedua yang qauli, dawuh Nabi adalah untuk ummatnya. 

Sedemikian hingga mengacu pada kedua hadits ini ulama menyimpulkan bahwa tidak ada shalat sunnah ba’diyah ashar.

Kelima, kaidah ushul dalam tarjih antar qiyas, di antaranya : qiyas fi ma’nal ashl lebih kuat daripada qiyas illat, qiyas illat lebih kuat daripada qiyas syabah, qiyas illat manshus lebih kuat daripada yang tidak manshus, qiyas yang maknanya sesuai dzahir Quran sunnah lebih kuat.

Tentu kaidah qiyas ma’al fariq  tidak dipakai di sini ya. Hehehe. Meskipun banyak yang pakai, tetap saja batil.

Maka dengan kaidah ushul fikih kita akan mudah mentarjih dan melihat mana dalil yang lebih kuat tatkala terdapat dalil yang seakan terlihat ada pertentangan.

Demikian selayang pandang faedah ustadzuna Dr. Musyaffa Ad Dariny, M.A dalam دور أصول الفقه في تنمية القدرةعلى الترجيح kemarin. زادنا الله علما وحرصا.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *