Aqidah,  Tazkiyah

Ibnu Taimiyah Dan Udzur Bil Jahil

Dalam Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membedakan secara tegas antara takfir muayyan (individual) dan takfir mutlaq (terkait perbuatan dan sifat). Dan itu ditulis dalam beberapa bab yang berbeda.

Yang intinya kita harus memisahkan kedua hal tersebut. Singkatnya sebagai contoh, kita harus meyakini bahwa perbuatan menyembah kuburan adalah kekufuran, namun tak semua orang yang kita lihat pernah menyembah kubur langsung kita vonis sebagai kafir.

Beliau menuliskan,

هذا مع أنّي دائما ومن جالسني يعلم ذلك منّي: أنّي من أعظم

 الناس نهيا عن أن ينسب معين إلى تكفير وتفسيق ومعصية، إلا إذا 

علم أنّهقد قامت عليه الحجة الرسالية التي من خالفها كان 

كافرا تارة وفاسقا أخرى وعاصيا أخرى.

“Aku (sebagaimana yang diketahui mereka yang sering duduk bersamaku) sangat melarang keras vonus kafir, fasik, atau maksiat kepada individu tertentu, kecuali jika dipastikan tegaknya hujjah Islam atasnya, yabg dengan menyelisihinya ia bisa divonis kafir, fasik, atau pelaku maksiat”. (3/229).

Kemudian beliau juga mengatakan,

فإذا رأيت إماما قد غلظ على قائل مقالته أو كفره فيها فلا يعتبر 

هذا حكما عاما في كل من قالها إلا إذا حصل فيه الشرط الذي 

يستحق بهالتغليط عليه والتكفير له ؛ فإن من جحد شيئا من 

الشرائع الظاهرة وكان حديث العهد. بالإسلام أو ناشئا ببلد جهل 

لا يكفر حتى تبلغه الحجةالنبوية.

“Jika kau dapati seorang imam menyalahkan dengan keras atau memvonis kafir sebuah perkataan, janganlah engkau menganggap sebuah vonis umum bagi setiap orang yang mengatakannya, sampai terpenuhi pada orang tersebut syarat dan tidak adanya penghalang vonis salah atau kafir tersebut.

Misalnya, seorang yang menentang salah satu kewajiban yang sudah jelas dalam Islam, namun ternyata ia seorang yang baru saja memeluk Islam, atau ia di wilayah yang terasing dari ilmu, maka ia tak boleh divonis kafir, hingga disampaikan hujjah kepadanya dan penjelasan syaruat terkait ucapan tersebut. (6/60-61).

Beliau juga mengatakan,

كلّما رأوهم قالوا: من قال كذا فهو كفر اعتقد المستمع أنّ هذا

 اللفظ شامل لكلّ من قاله ولم يتدبّروا أنّ التكفير له شروط وموانع 

قد تنتقي فيحقّ المعيّن وأنّ تكفير المطلق لا يستلزم تكفير المعين إلاّ 

إذا وجدت الشروط وانتفت الموانع يبيّن هذا أنّ الإمام أحمد وعامّة 

الأئمّة: الذين أطلقواهذه العمومات لم يكفروا أكثر من تكلم 

بهذا الكلام بعينه.

“Setiap ada ucapan ‘siapa yang mengatakan begini dan begitu, berarti dia telah kafir’, yang mendengar menyangka bahwa vonis itu mencakup siapa saja yang mengatakan itu. Mereka tak paham bahwa vonis kafir memiliki syarat dan penghalang tertentu, yang bisa jadi tidak terpenuhi pada individu tertentu. Mereka juga tak paham bahwa pengkafiran mutlak tidaklah berarti takfir muayyan, tanpa memperhatikan terpenuhinya syarat dan penghalang pada individu yang hendak divonis itu. Lihatlah bagaimana Imam Ahmad dan para imam kaum muslimin lain, mereka menyatakan berbagai vonis pengkafiran mutlak atas perbuatan dan perkataan tertentu namun pada prakteknya mereka tidak memvonis kafir mayoritas individu yang melakukan atau mengatakannya”. (12/487-488).

Bahkan dalam Syarh Al Umdah, Syaikul Islam mengakui adanya udzru bil jahil, bahkan bagi mereka yang mengingkari kewajiban Islam yang pasti dan jelas,

فيمن جحد وجوب الصلاة بجهل أنه يعرف كحديث العهد ومن نشأ 

في بادية هي مظنة الجهل وإن عاند كفر وقال إن هذا أصل

 مطرد فيمباني الإسلام الخمسة وفي جميع الأحكام الظاهرة

 المجمع عليها لأن أحكام الكفر والتأديب لا تثبت إلا بعذ بلوغ الرسالة 

لا سيما لايعرفبالعقل.

“Terkait seorang yang mengingkari kewajiban shalat karena dia jahil, maka kita harus memberitahukan maklumat kepadanya, layaknya mereka yang baru masuk Islam, atau yang tinggal dipedalaman yang terasing dari ilmu. Jika setelah itu masih juga menentang, berarti ia telah kafir. Demikianlah kaidah yang berlaku bagi mereka yang mengingkari rukun Islam yang lima, demikian pula pada seluruh ajaran syariat Islam yang dzahir dan disepakati keabsahannya. Karena vonis kafir dan hukuman tidaklah bisa dijatuhkan kecuali setelah sampainya hujjah dan maklumat syariat, terlebih lagi terkait ajaran syariat yang sama sekali bukan ranah logika manusia”.

Bahkan pula Syaikhul Islam tetap memberlakukan udzur bil jahil pada kekafiran karena perbuatan syirik yang tampak, dan juga pada kekafiran karena penyimpangan aqidah terkait sifat-sifat Allah. Dalam bantahannya terhadap tokoh jahmiyyah beliau mengatakan,

لهذا كنت أقول للجهميه من الحلولية والنفاة الذين نفوا أن الله تعالى 

فوق العرش لما وقعت محنتهم أنا لو وافقتكم كنت كافرا لأني أعلم 

أنقولكم كفر وأنتم عندي لا تكفرون لأنكم جهال وكان هذا خطابا 

لعلمائهم وقضاتهم وشيوخهم وأمرائهم وأصل جهلهم شبهات

 عقلية حصلتلرؤوسهم في قصور من معرفة المنقول الصحيح 

والمعقول الصريح الموافق له وكان هذا خطابنا، فلهذا لم نقابل 

جهله وافتراءه بالتكفير بمثله.

“Selalu kukatakan kepada para Jahmiyyah, baik yang dari sekte huluuliyyah maupun yang mengingkari istiwa’ Allah di atas arsy, ketika fitnah kesesatan mereka merajalela, ‘seandainya aku menyetujui keyakinan kalian, berarti aku telah kafir, karena aku tahu pasti bahwa keyakinan kalian adalah kekafiran. Adapun kalian menurutku tidak kafir, karena kalian jahil. Begitulah yang bisa kukatakan pada para ulama, hakim, syaikh, dan para pemimpin yang terpengaruh ideologi jahmiyyah yang sesat lagi kafir. Dan sebab utama kejahilan mereka adalah berbagai syubhat logika yang menyerang akal mereka, ditambah minimnya pengetahuan akan nash syariat yang shahih serta pola pikir yabg mendukung dan sesuai dengannya. Demikianlah yang selalu kusampaikan pada mereka, dan aku tak pernah menyikapi kejahilan dan sikap mereka yang mengada-ada dalam agama ini dengan vonis kafir”. 

(Istighatsag fi ar Radd ala Al Bakri).

Maka inilah muamalah yang diterapkan oleh Ibnu Taimiyah terhadap mereka. Bahkan mungkin Syaikhul Islam bahkan nyaris tidak pernah mengkafirkan, kalaupun ada mungkin hanya Ibnul Arabi karena terlampau parah kesesatannya. Allahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *