Fikih,  Tazkiyah

Merenungkan Gerakan dan Bacaan I’tidal

Setelah rukuk disyariatkan bagi seorang hamba Allah untuk memuji Rabbnya serta menyanjungNya atas segala nikmat Allah yang dianugerahkan kepadanya. Yakni, ketika berdiri i’tidal dan kembali ke posisi terbaiknya dengan badan tegak dan lurus.

Secara bahasa i’tidal (الإعتدال) dari kata Al Adl yang artinya adil. Sedemikian hingga maknanya pertengahan, seimbang, sesuai aturan atau tidak ekstrim. Maka i’tidal bisa dikatakan berlaku untuk semua gerakan shalat, sebagaimana hadits,

اعتدلوا فى السجود ولا يبسط أحدكم ذرا عيه انبساط الكلب.

“Bersikaplah i’tidal ketika sujud, jangan bentangkan lengan kalian di tanah seperti anjing”. (Muttafaq alaih).

Kemudian dalam kajian fiqh, i’tidal lebih sering digunakan untuk menyebut gerakan bangkit setelah rukuk. Maka dari sinilah, dari berbagai redaksi hadits para ulama mengatakan bahwa posisi i’tidal adalah sampai benar-benar tegak sempurna dan tidak condong.

Dalam hadits,

إن الله لا ينظرُ يوم القيامة إلى مَن لا يقيم صُلبَه بين ركوعه وسجودِه

“Sesungguhnya di hari kiamat Allah tidak akan memandang orang yang tidak meluruskan tulang sulbinya di antara rukuk dan sujud” (HR. Tirmidzi 2678)

Inti i’tidal adalah bangkit dan kembali ke posisi sebelum rukuk, sedemikian hingga jika shalatnya duduk maka i’tidal sempurna baginya adalah kembali ke posisi duduk.

Dianjurkan mengangkat tangan ketika i’tidal sebagaimana sabda Nabi,

أنّ النبيّ صلّى الله عليه وسلّم كان يرفع يديه حذو منكبيه؛ 

إذا افتتح الصلاة، وإذا كبّر للركوع، وإذا رفع رأسه من الرّكوع.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasanya ketika memulai shalat, ketika takbir untuk ruku’ dan ketika mengangkat kepala setelah ruku’, beliau mengangkat kedua tangannya setinggi pundak”. (HR. Bukhari 735).

Namun ini sunnah dan tidak sampai wajib karena ada qarinah, sebagian sahabat terkadang meninggalnya. Sehingga lebih sesuai sunnah jika kita dominan mengangkat tangan dan sesekali tidak. Imam Mujahid mengatakan,

صلّيت خلف ابن عمر رضي الله عنهما فلم يكن يرفع يديه 

إلّا في التكبيرة الأولى من الصلاة.

“Aku pernah shalat bermakmum ke Ibnu Umar, beliau tidak mengangkat kedua tangannya kecuali saat takbiratul ihram”. (HR. At Thahawi, sanadnya shahih).

Pada posisi i’tidal kita memuji dan menyanjung Allah yang telah melimpahkan taufiqNya sehingga kita bisa tunduk dan taat, mendapatkan kenikmatan dalam shalat kita dan segala bentuk ketaatan kepadaNya. 

Dua bacaan dalam i’tidal terbagi menjadi tasmi’ dan tahmid. Hadits dari Abu Hurairah,

ان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم إذا قامَ إلى الصَّلاةِ يُكبِّرُ حينَ يقومُ، 

ثم يُكبِّرُ حينَ يركَعُ، ثم يقولُ: سمِعَ اللهُ لِمَن حَمِدَه، حين يرفَعُ 

صُلْبَه مِنالرُّكوعِ، ثم يقولُ وهو قائمٌ: ربَّنا ولك الحمدُ

Rasulullah shallallahu’ alaihi wasallam ketika berdiri untuk shalat beliau bertakbir ketika berdiri, dan bertakbir ketika rukuk kemudian mengucapkan: sami’allahu liman hamidah. Kemudian bangun dari rukuk hingga meluruskan tulang sulbinya kemudian mengucapkan: rabbana walakal hamdu” (HR. Bukhari 789, Muslim 392).

Pendapat hanafiyah dan malikiyah, Imam disyariatkan membaca tasmi’ saja, sedangkan pendapat syafi’iyah dan hambali imam disyariatkan membaca tasmi’ dan tahmid, sebagaimana orang yang shalat munfarid. Sedangkan makmum hanya disyariatkan membaca tahmid setelah imam bertasmi’, sebagaimana hadits,

وإِذا قال: سمع الله لمن حمده، فقولوا: ربّنا ولك الحمد

Jika ia (imam) mengucapkan: sami’allahu liman hamidah. Maka ucapkanlah: rabbana walakal hamdu” (HR. Bukhari 361, Muslim 411).

Satu lagi hal penting yang harus kita renungkan bahwa tatkala kita menyambut tasmi’ imam dengan tahmid, bayangkan dosa kita bisa terampuni ketika i’tidal. Hadits dari Abu Hurairah,

إنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال: إذا قال الإمامُ: سمِعَ اللهُ 

لِمَن حمِدَه، فقولوا: ربَّنا لك الحمدُ؛ فإنَّه مَن وافَقَ قولُه قولَ الملائكةِ، 

غُفِرَ له ماتقدَّمَ مِن ذَنبِه

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: jika imam mengucapkan: sami’allahu liman hamidah, maka ucapkanlah: rabbana lakal hamdu. Barangsiapa yang ucapannya tersebut bersesuaian dengan ucapan Malaikat, akan diampuni dosa-dosanya telah lalu” (HR. Bukhari 796, Muslim 409).

Bahkan berbagai permintaan kita dalam shalat, meminta petunjuk dan jalan lurus ketika membaca alfatihah, petunjuk hidayah dan taufiq dalam menjalani segala lika-liku hidup, mendidik anak hingga mencari nafkah dan seterusnya, itu semua berpeluang besar untuk diijabah oleh Allah. Hadits Abu Musa Al Asy’ari,

وإذا قال سمع الله لمن حمده فقولوا اللهم ربّنا ولك الحمد يسمع الله 

لكم فإنّ الله قال على لسان نبيه -صلى الله عليه وسلم- سمع الله لمنحمده.

“Jika imam membaca ‘sami’allahu liman hamidah’ ucapkanlah ‘Allahumma Rabbana lakal hamdu’, semoga Allah mengijabah doa kalian. Karena Allah berfiman lewat lisan NabiNya shallallahu ‘alaihi wasallam ‘Allah mengijabahi orang yang memujinya’. (HR. Nasai 1072, shahih).

Makna سمع dalam bahasa Quran dan hadits bisa mendengar dalam arti menangkap suara (idraj al masmu’at), mengerti dan memahami, menerima dan mengikuti, atau سمع dalam arti mengijabah dan mengabulkan apa yang diminta sebagaimana doa setelah rukuk ini.

Dalam posisi i’tidal terdapat sentuhan dan kondisi khusus yang dirasakan hati, dimana posisi ini adalah salah satu rukun shalat yang kedudukannya sama dengan rukuk dan sujud. Maka di antara sunnah yang mulai ditinggalkan adalah memperlama i’tidal. Sebagaimana hadits Al Baraa’ bin Azib,

أنّ رسول الله صلى الله عليه وسلم كان ركوعه وإذا رفع رأسه 

من الركوع وسجوده وبين السجدتين قريباً من السواء.

“Ketika Nabi shalat, rukuk, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud beliau, semua hampir sama panjangnya”. (HR. Abu Daud).

Cara memperlama i’tidal adalah dengan mengulang bacaan i’tidal. Dan di antara bacaan tahmid adalah :

ربَّنا ولك الحمدُ حمدًا كثيرًا طيِّبًا مبارَكًا فيه

(HR. Bukhari 799).

Dalam hadits ini seorang shahabat membaca doa ini, dan ketika selesai shalat Rasulullah mengatakan bahwa beliau melihat tiga puluh lebih malaikat berebut untuk saling berusaha terlebih dahulu menulis amalan tersebut.

Tahmid yang singkat ini mengandung pujian yang berkah dan tak terputus, karena nikmat Allah kepada kita tidak pernah putus, sehingga sudah sepatutnya pujian kita juga tak pernah putus meskipun baru sebatas niat dan keyakinan.

Doa tahmid i’tidal lainnya yang biasa Rasulullah lakukan dalam HR. Muslim 476,

 اللهمَّ ربَّنا لك الحمدُ، مِلْءَ السَّمواتِ، ومِلْءَ الأرضِ، 

ومِلْءَ ما شِئتَ مِن شيءٍ بعدُ

“… Ya Allah segala puji bagiMu, pujian sepenuh langit, sepenuh bumi, sepenuh apa yang Engkau inginkan lebih dari itu semua”.

Juga dari redaksi hadits dari Abu Sa’id Al Khudri,

ربَّنا لك الحمدُ، مِلْءَ السَّمواتِ والأرضِ، ومِلْءَ ما شِئتَ مِن شيءٍ بعدُ، 

أهلَ الثَّناءِ والمجدِ، أحقُّ ما قال العبدُ، وكلُّنا لك عبدٌ، اللهمَّ لا 

مانعَ لِماأعطَيتَ، ولا مُعطيَ لِما منَعتَ، ولا ينفَعُ ذا الجَدِّ منك الجَدُّ

“Ya Allah segala puji bagiMu, pujian sepenuh langit, sepenuh bumi, sepenuh apa yang Engkau inginkan lebih dari itu semua, wahai Dzat yang memiliki semua pujian dan kebaikan. Demikianlah yang paling berhak diucapkan oleh setiap hamba. Dan setiap kami adalah hambaMu. Ya Allah tidak ada yang bisa menghalangi apa yang Engkau berikan. Dan tidak ada yang bisa memberikan apa yang Engkau halangi. Dan segala daya upaya tidak bermanfaat kecuali dengan izinMu, seluruh kekuatan hanya milikMu”. (HR. Muslim 477).

Dalam bacaan doa ini terdapat kandungan ketauhidan yang begitu tinggi. Ketika membaca kalimat اللهمَّلا مانعَ لِما أعطَيتَ، ولا مُعطيَ لِما منَعتَ berarti kita sedang menyatakan keEsaan Allah, bahwa Dialah satu-satunya yang memberi dan mecegah, tak ada seorangpun yang bisa menghalangiNya. 

Semoga bermanfaat. Allahul musta’an.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *