Aqidah,  Fikih,  Tazkiyah

Faedah Terkait Kucing & Anjing Dalam Quran Sunnah

Tentang kucing, Kalau memajang patung kucing dianggap mendatangkan keberuntungan atau menabrak kucing dianggap sebagai kesialan maka kita tahu itu syirik, tamimah dan tathayur.

Kalau memelihara kucing dianggap sebagai sunnah karena konon Rasulullah memelihara kucing bernama muezza/mu’izzah, maka kami belum menemukan riwayat yang tsabat sampai ke Nabi tentang ini, sehingga kita bisa golongkan sebagai hadits palsu. 

Kalau hadits tentang wanita yang di neraka karena menyiksa kucing, dia mengurungnya dan tidak memberi makan-minum hingga mati, maka haditsnya shahih, Muttafaq’alaih. Redaksinya,

عذّبت امرأةٌ فى هرّة سجنتها حتّى ماتت، فدخلت فيها النّار،

 لا هى أطعمتها ولا سقتها إذ حبستها، ولا هى تركتها تأكل 

من خشاش الأرض.

Maka ini masuk dalam bab syariat menyayangi alam semesta, bukan sunnah menyayangi kucing secara khusus. Sekaligus ini bukti nyata bahwa Islam sangat menjunjung tinggi kasih sayang kepada segenap makhluk, termasuk orang kafir, bahkan kepada kucing sekalipun.

Faedah dari Imam Nawawi dalam Syarh Muslim, ini menunjukkan haram membunuh kucing apalagi mengurungnya tanpa makan minum. Dan masuknya dia ke neraka menunjukkan bahwa wanita itu muslim, namun bisa masuk neraka hanya karena menyiksa kucing. Hal ini juga menyiratkan bahwa maksiat seperti ini bahkan bisa menjadi dosa besar terlebih jika dilakukan terus-menerus.

Kemudian tentang anjing, ada hadits wanita pezina dari bani Israil yang masuk surga hanya karena memberi minum anjing kehausan. Haditsnya shahih, Muttafaq’alaih. Redaksinya,

بينما كلبن يطيف بركيّة كاد يقتله العطش إذ رأته بغيّ من بغايا 

بني إسرائيل فنزعت موقها فسقته فغفر لها به.

(HR. Bukhari 3467 Muslim 2245).

Hadits ini menyiratkan bentuk kasih sayang dalam syariat Islam. Sebagian tabi’in mengatakan bahwa siapa yang banyak dosanya hendaklah dia suka memberikan minum. Jika dosa orang yang memberikan minum ke anjing saja terampuni, maka apalagi jika memberikan minum kepada orang yang bertauhid sehingga hal itu membuatnya tetap bertahan hidup.

Hadits ini juga menyiratkan pentingnya keikhlasan dalam suatu amalan. Amalannya tampak sepele, namun dengan keikhlasan murni karena Allah tatkala menolong anjing, bisa mengantarkannya ke surga.

Keikhlasannya tampak karena : pertama, tak ada seorangpun melihat dia menolong anjingnya kecuali Allah Dzat Yang Maha Melihat. 

Kedua, Amalan yang cukup berat bagi seorang wanita, dimana dia harus turun ke sumur, mengisi air ke sepatunya, dan harus naik lagi, ini berat bagi wanita namun bisa menjadi ringan karena ikhlas. 

Ketiga, wanita ini sama sekali tidak berharap ucapan terima kasih atau balas jasa dari hewan yang hina seperti anjing.

Maka sinar tauhid yang ada di hatinya menjadi pembakar dosa zina yang sudah dia lakukan, sedemikian hingga Allah pun mengampuninya.

Kemudian tentang anjingnya pemuda kahfi, sebagaimana firman Allah,

وَكَلْبُهُم بَٰسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِٱلْوَصِيدِ

“.. sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. ..”.

Anjing ini menjadi istimewa karena disebut dalam Al Quran, berulang-ulang sampai empat kali. Maka ini menjadi keistimewaan bagi seekor hewan yang asalnya najis, tidak lain karena dia berteman dengan orang shalih.

Anjing ini disebut dalam Al Quran sedangkan kita sekalipun tak ada. Anjing ini pun disebutkan para ulama juga mendapat “karomah” karena dia juga ikut tertidur 300 tahun dan ketika terbangun ternyata masih normal dan ikut terbangun. Karena seandainya  anjing ini sudah jadi tulang belulang maka pasti mereka akan kaget. 

Maka inilah keuntungan besar bergaul dengan orang shalih, pasti ada manfaatnya, setidaknya terkena wanginya.

Imam Al Alusi dalam Ruhul Ma’ani menyebutkan bahwa anjing itu adalah anjing pemburu salah seorang shalih dari mereka, ada juga yang mengatakan anjing ternak. Yang intinya anjing itu bukan anjing penjaga rumah atau anjing yang dipelihara di rumah.

Maka ini sejalan dengan syariat Islam terkait hukum anjing, bahwa anjing hanya boleh dipelihara untuk menjaga hewan ternak, kebun, atau untuk berburu. Dalam hadits,

من اقتنى كلبا لا يغني عنه زرعا، ولا ضرعا نقص كلّ يوم من عمله قيراط.

“Siapa yang punya anjing bukan untuk menjaga kebun, bukan untuk ternak, maka berkurang pahalanya satu qiraath setiap hari”. (HR Bukhari 3325 Muslim 1576).

Dalam hadits ini, Nabi tidak mengecualikan anjing penjaga rumah, sehingga hukum asalnya terlarang kecuali dalam kondisi darurat. Terlebih lagi malaikat rahmat tidak mau masuk ke dalam rumah yang ada anjingnya.

Begitulah sedikit faedah soal kucing dan anjing. Tergelitik menuliskannya di sini setelah melihat kemesraan anjing dan kucing dengan majikannya. Semoga bisa menjadi bahan tafakkur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *