Fikih

Sarana Itu Ditimbang Dengan Tujuannya

Seorang mukmin pasti punya ghirah, bahkan akan marah jika melihat Tuhannya disekutukan dengan makhlukNya, terlebih yang dituhankan adalah benda hina yang tak bisa apa-apa.

Maka secara asal dibolehkan bahkan dianjurkan ketika dibutuhkan untuk mencela tuhannya orang musyrik yang disekutukan bersama Allah.

Namun dalam kondisi tertentu, Allah melarang melakukannya, karena celaan itu malah membuka jalan bagi mereka untuk mencela Allah, sedangkan Dia harus disucikan dari segala aib, cacat, celaan, dan hinaan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ 
كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa ilmu. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”. (Surat Al-An’am Ayat 108).

Dikatakan بِغَيْرِ عِلْمٍ, tanpa ilmu, kemudian dilanjutkan dengan كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ menyiratkan secara tegas bahwa Allah sengaja menghiasi amal setiap umat sehingga yang benar maupun salah, keduanya merasa amalannya baik, dan mereka akan membela dan memperjuangkannya, sebagai bentuk dari ujian. 

Kemudian nanti tatkala menghadap kepada Allah, amal-amal disodorkan maka dijelaskan mana yang baik atau buruk yang telah mereka lakukan. 

Maka di antara hal yang bisa menyelamatkan kita agar tidak terjerumus dengan pembelaan yang salah adalah dengan ilmu dan ketawadhu’an.

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa ghirah, iman, serta dakwah harus diikuti dengan ilmu dan pertimbangan yang matang. 

Sekaligus ini dalil bagi kaidah syar’i bahwa sarana itu ditimbang dengan tujuannya. Maka sarana kepada yang haram, walaupun secara asal dibolehkan, akan menjadi haram jika ia menyeret kepada keburukan.

Sebagaimana kaidah ushul dikatakan,

أن لا يترتب إنكار المنكر على المفسدة الأعظم

Mengingkari kemungkaran tidak boleh dengan kemungkaran yang lebih besar“.

Maka Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan,

إذا كان إنكار المنكر يستلزم ما هو أنكر منه ، وأبغض إلى الله 

ورسوله فإنه لا يسوغ إنكاره ، وإن كان الله يبغضه ، ويمقت أهله .

“Apabila mengingkari kemungkaran menyebabkan kemungkaran yang lebih besar serta kemungkaran yang lebih dibenci oleh Allah dan RasulNya, maka tidak boleh dilakukan. Meskipun sebenarnya Allah membenci dan memurkai pelaku kemungkaran tersebut”.

Semoga bermanfaat. Allahul musta’an.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *