Fikih,  Tazkiyah

Diksi Dakwah Tauhid Nabi Ibrahim & Rasulullah

Sebenarnya banyak komunikasi dakwah tauhid Nabi Ibrahim alaihissalam yang hikmah dan tetap bertahap, tidak serta merta menghancurkan patung. Di surat Maryam tatkala mendakwahkan tauhid ke ayahnya banyak sekali beliau menggunakan diksi يا أبت.

يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا

“Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (QS Maryam: 43).

Beliau menggunakan diksi kasih sayang yang begitu tinggi, agar tidak menyinggung perasaannya ayahnya. Juga diungkapkan: ‘Telah datang kepadaku sebagian ilmu yang tidak datang kepadamu’. Tidak dikatakan misalnya : ‘aku pintar kamu bodoh’ atau diksi frontal semacamnya.

Bahkan di ayat 43 beliau menyebut ar-Rahman bersamaan dengan kedurhakaan, ‘Sesungguhnya setan itu durhaka kepada ar-Rahman’, yang ini sering dibutuhkan tatkala kita berhadapan dengan ahli maksiat, seakan dikatakan ‘ayo kembali ke Allah, Allah Maha Rahman kok’. Bahkan pula tatkala beliau dimaki dengan perkataan ‘Lain lam tantahi la arjumannaka’, jawaban beliau tetap begitu lembut,

قَالَ سَلَٰمٌ عَلَيْكَ ۖ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّىٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ بِى حَفِيًّا

“Ibrahim Berkata: Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya dia sangat baik kepadaku.”

Maka di antara fiqh atau manhaj dakwah adalah sebagaimana nasehat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,

إن من المستحب ترك المستحب لتأليف القلوب

“Di antara perkara mustahab adalah meninggalkan perkara yang dianjurkan demi ta’liful qulub”.

Ketika ada perkara yang dianjurkan dalam syariat namun tak sampai wajib, sedangkan ada resiko besar dapat menimbulkan fitnah, maka menundanya sementara hingga tepat waktunya dalam rangka ta’liful qulub ke masyarakat, maka itu termasuk perkara baik.

Terdapat sebuah hadits,

لولا أن قومك حديث عهد بكفر؛ لأسست الكعبة على قواعد إبراهيم

Kalau bukan karena kaummu yang baru saja lepas dari kekufuran, akan aku bangun kembali pondasi Ka’bah sesuai dengan dibuat oleh Ibrahim” (HR. Bukhari & Muslim).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menunda pengembalian pondasi Ka’bah, karena khawatir membuat heboh kaum Quraisy atau sebagian mereka lari, karena ketika itu mereka baru saja mereka mendapatkan hidayah kepada al haq.

Begitu kira-kira. Dalam manhaj dakwah, ada kalanya kita harus lembut, terlebih ke orang awam, kerabat, ke yang hatinya masih lemah, saat ‘babat alas’, dan seterusnya, adakalanya pula tidak demikian. Allahul musta’an.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *