Fikih

Status Hadiah Dari Harta Haram

Yang paling sering terjadi, saat kita bermuamalah dengan orang lain yang bermacam-macam adat dan kebiasaannya, was-was muncul tatkala kita mendapat hadiah atau menerima harta dari orang yang pekerjaannya rentan dengan batas-batas syariat dan keharaman. 

Ini juga yang sering ditanyakan rekan-rekan, terutama sesama pedagang. Maka semoga ringkasan ini bisa membantu. 

Harta haram terbagi menjadi dua : pertama  haramnya li’anihi, yaitu harta haram yang diperoleh dengan cara dzalim, seperti mencuri, menipu, korupsi, dan sebagainya. Statusnya tetap haram meskipun berpindah ke manapun.

Maka harta seperti ini, tidak boleh diberikan kepada siapapun. Tidak boleh diterima jika penerima tahu statusnya haram li’anihi.

ما كان محرم العين كالمال المسروق والمغصوب ، وهذا لا يجوز قبوله 

من أحد ؛ لأنه يجب رده إلى أهله

“Harta yang haram dzatnya, seperti hasil mencuri, merampas, tak boleh diterima sama sekali. Karena harta ini wajib dikembalikan ke pemiliknya.

Kedua, haramnya likasbihi, yaitu haram cara memperolehnya namun didapat dengan cara saling ridha. Seperti hasil jual beli barang haram semisal rokok, atau kerja di pabrik khamr, atau dari hasil riba di bank, dan lain-lain.

Transaksi muamalahnya saling ridha, tidak ada paksaan sama sekali, namun menjadi haram karena melanggar aturan syariat. Maka para ulama berbeda pendapat dalam hal ini.

Pertama, pendapat ulama Malikiyah, boleh jika hartanya bercampur, dan dominan halal.

Kedua, pendapat ulama syafi’iyah, makruh bermuamalah dengan orang yang dominan hartanya haram, selama tidak tahu bahwa harta yang diserahkan itu haram. As-Suyuthi mengatakan,

معاملة من أكثر ماله حرام، إذا لم يعرف عينه 

لا يحرم في الأصح لكن يكره

“Bertransaksi dengan orang yang dominan hartanya haram, jika tidak tahu status hartanya, hukumnya tidak haram menurut pendapat yang benar, namun makruh. (al-Asybah wa an-Nadzair).

Ketiga, boleh secara mutlak. Ini berdasarkan qaulnya Ibnu Mas’ud dalam Jami’ul Ulum Wal Hikam,

أجيبوهُ ، فإنَّما المَهْنأُ لكم والوِزْرُ عليه

“Silahkan datangi, pemberian itu milik kalian, sementara dosanya, dia yang menanggung”.

Ijtihad para ulama, terlebih ulama salaf tentu berdasarkan dalil dan pertimbangan yang panjang dan matang, begitu juga para sahabat. 

Namun para ulama mentarjih tatkala seakan ada perbedaan, maka yang lebih mendekati adalah ijtihad sahabat.

Ditambah pula kaidah para ulama dalam hal ini,

أن ما حُرِّم لكسبه فهو حرام على الكاسب فقط، دون مَن أخذه منه بطريق مباح.

“Sesuatu yang haram karena cara memperolehnya, maka itu haram bagi pelakunya saja, bukan pada orang yang mengambil darinya dengan cara mubah”.

Sedemikian hingga, jumhur ulama berpendapat bahwa yang paling rajih adalah pendapat ketiga. Allahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *