Aqidah,  Tazkiyah

6 Prioritas Syaitan Dalam Menjebak Manusia

Satu di antara talbis atau jebakan iblis yang begitu membahayakan manusia adalah ketika membuat maksiat tampak indah. Mereka menghiasi maksiat yang seharusnya buruk dan menjijikan menjadi seakan-akan nikmat. Dan jangan dikira mereka tak memiliki manajemen yang baik tatkala menggoda manusia, bahkan syaitan memiliki skala prioritas dalam menjerumuskan manusia. Allah berfirman,

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

“Iblis berkata, ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Al-Hijr: 39)

Prioritas pertama jebakan iblis, mereka akan berusaha menjerumuskan seseorang dalam kekufuran, syirik, dan kemunafikan. Bahkan begitu halusnya sampai sebagian kaum muslimin bermudah-mudahan melalukan kesyirikan dan ia tak merasa berbuat syirik. Contoh paling sederhana, betapa banyak pemuda yang dengan gampangnya membaca hoax dari ramalan zodiak tanpa takut dirinya terjerumus dalam kesyirikan. Padahal para ulama mengatakan bahwa membaca saja sama seperti mendatangi dukun sehingga terancam shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari. Sedangkan jika sampai membenarkan maka sama dengan membenarkan dukun dan ini kekufuran. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

مَنْ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ، اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ

“Barangsiapa mempelajari sebagian dari ilmu nujum (perbintangan), maka ia telah mempelajari bagian dari sihir. Semakin bertambah ilmu yang dia pelajari, semakin bertambah sihir yang dia pelajari.”

Ilmu perbintangan itu terbagi dua. Pertama, ilmu ta’sir, yakni ilmu yang mengklaim bahwa gerakan bintang-bintang dan gugusannya mempengaruhi kejadian di bumi, seperti nasib manusia dan semacamnya. Maka jika pelakunya yakin bintang itu yang punya kehendak maka syirik akbar, begitupun meyakini bintang itu sekedar sebab maka itu juga syirik akbar. Kedua, ilmu tasyir, yakni ilmu yang mempelajari gugusan bintang sebagai bantuan penunjuk arah atau musim, maka sebagian mengatakan makruh dan jumhur pendapat membolehkannya.

Prioritas kedua jebakan iblis, jika tak bisa prioritas pertama maka mereka akan menggiring manusia pada perbuatan bid’ah. Mereka tahu betul bahwa bid’ah lebih berbahaya daripada maksiat. Dalam Jami’ Bayan al ‘Ilm li Ibn Abd al Bar, dulu Imam Malik pernah ditanya, 

“Wahai Abu Abdillah, dari manakah saya berihram?”. Beliau menjawab, “Berihramlah dari Dzul Hulaifah sebagaimana Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berihram”. Laki-laki tersebut berkata, “Saya ingin berihram dari masjid di sisi kuburan itu”. Maka Imam Malik berkata, “Jangan engkau lakukan, aku takut engkau ditimpa fitnah”. Laki-laki itu kemudian menimpali, “Fitnah apa dalam masalah ini ? Saya hanya menambah jarak beberapa mil saja”. 

Lihatlah apa jawab Imam Malik, “Fitnah manalagi yang lebih besar dibanding engkau melihat dirimu meraih keutamaan yang tidak diketahui Rasulullah shalallahu alaihi wasallam”. Dalam kesempatan lain Imam Malik pun pernah mengatakan, “Siapa yang menganggap syariat belum sempurna maka seakan akan dia menuduh Rasulullah menyembunyikan risalahnya.”

Dalam contoh masalah lain, pernah seorang dai menjelaskan illat mengapa Rasulullah balik badan setelah shalat, dalam fathul bari dijelaskan bahwa maksudnya untuk mempertegas bahwa shalat telah selesai, dan ini mirip halnya dengan hadits ketika Rasulullah menegur agar shalat wajib ke shalat sunnah disuruh berpindah. Sehingga beliau berkesimpulan bahwa sekarang tak perlu balik badan dan menggantinya dengan mengeraskan istighfar untuk memberi isyarat bahwa shalat telah selesai. Maka disinilah syaitan bermain untuk menggiring muslim kepada bid’ah bahkan kepada orang berilmu sekalipun. 

Memang betul salah satu illatnya adalah sebagai isyarat bahwa shalat telah usai, namun tak cukup sampai disitu. Para ulama mengatakan, illat lainnya adalah untuk menunjukkan status keimamannya telah gugur sehingga ia tidak berhak lagi berada dalam posisi imam, juga agar menjaga imam dari penyakit riya’ karena posisi imam adalah posisi yang rawan mendatangkan perasaan sombong dan ingin dimuliakan, juga berbalik posisi menghadap makmum merupakan bentuk perhatian imam kepada makmumnya. Bukankah terdapat hadits dari Barra’ bin Azib,

كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَحْبَبْنَا أَنْ نَكُونَ عَنْ يَمِينِهِ ، يُقْبِلُ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ

“Dahulu jika kami sholat di belakang Rasulullah ﷺ, kami senang jika berada di sof sisi kanan beliau. Supaya beliau menghadapkan wajahnya kepada kami.” (HR. Muslim)

Maka ketika hanya melihat satu illat saja kemudian memutuskan tak perlu berbalik badan, secara tak sadar ia akan menghapus sunnah fi’liyah Nabi, sekaligus menghapus sunnah-sunnah dalam hadits lainnya. Maka sudah seharusnya bagi kita, sekalipun mengerti illatnya namun bukan berarti kemudian bermudah-mudahan atau merubah suatu bentuk ibadah. Sebagaimana aqiqah, 2 kambing untuk lelaki dan 1 kambing untuk wanita yang di antara hikmahnya adalah untuk sedekah namun pendapat yang mengatakan bisa diganti dengan ayam tetaplah pendapat syadz. Karena dalam hal ibadah, kaidah yang berlaku adalah,

الأصل في العبادة التوقف

“Hukum asal ibadah adalah tawaquf (menunggu sampai datangnya dalil)”.

Prioritas ketiga iblis dalam menjebak manusia, dijerumuskan dalam dosa-dosa besar. Kalau tak bisa juga, maka lanjut prioritas keempat, yakni meremehkan dosa-dosa kecil. Satu bentuk meremehkan maksiat yang sering dilakukan adalah berencana taubat setelah melakukan maksiat. Ingatkah kita perkataan saudara Nabi Yusuf, ketika mereka ingin membuangnya, dalam surat Yusuf ayat 9 disebutkan,

ٱقْتُلُوا۟ يُوسُفَ أَوِ ٱطْرَحُوهُ أَرْضًا يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ وَتَكُونُوا۟ مِنۢ بَعْدِهِۦ قَوْمًا صَٰلِحِينَ

“Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia kesuatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik.”

Bayangkan mereka berniat begitu jahat, membunuh Yusuf atau membuangnya, kemudian dengan gampangnya mereka berencana akan bertaubat dan menjadi orang shalih. Perbuatan jahat bisa jadi terlihat ringan ketika dibalut dengan rencana pertaubatan setelahnya.

Begitu juga dalam kasus lain pada sebagian pemuda muslim, terkadang mereka sudah tahu bahwa permainan capit boneka dan yang semisalnya, baik jika dimainkan menggunakan uang ataupun tanpa uang, hukumnya tidak diperbolehkan karena termasuk gharar (ketidakjelasan) dan maysir (judi). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mengatakan, 

الميسر كل عقد يكون فيه العاقد إما غانما وإما غارما

“al maysir adalah semua akad yang pelaku akadnya bisa jadi untung atau bisa jadi buntung (rugi)” (At Ta’liq ‘alal Qawa’id wal Ushul Al Jami’ah, 117).

Sedangkan Allah telah melarang maysir, Allah berfirman,

إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ 

أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَفِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, judi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” (QS. Al-Maidah : 90).

Allah ta’ala juga berfirman,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا 

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar (minuman keras) dan judi. Katakanlah, pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya” (QS. Al-Baqarah : 219).

Seorang mukmin seharusnya memiliki semangat membenci sesuatu karena Allah membencinya sebagaimana dulu para sahabat mencintai khamr namun begitu dilarang sahabat langsung berbalik 180 derajat membencinya dan serentak khamr-khamr itu dibuang hingga membanjiri jalan.

Prioritas kelima iblis dalam menjerumuskan manusia, menjadikan manusia terlalu sibuk pada perkata yang mubah. Ini yang sering terjadi. Seseorang akan digoda oleh setan untuk menghabiskan mayoritas waktunya untuk bermain, atau jalan-jalan, atau berlama-lama di mall dan cafe, dan semacamnya. Ini perkara mubah, namun ketika seseorang terjebak menghabiskan mayoritas waktunya untuk perkara tersebut maka ini adalah jerat setan agar kita menghabiskan waktu sehingga amal ibadah kita sangat sedikit. Akhirnya tak sempat shalat malam, tak sempat berbakti kepada orang tua secara maksimal, tak sempat untuk berdzikir, baca Al-Qur’an, dan amalan-amalan lainnya pun akan tertinggal.

Dan terakhir, prioritas keenam jika kelima prioritas itu tak bisa dilakukan, memutar balikkan prioritas amalan. Syaitan akan menyibukkan manusia dengan amalan yang kurang utama. Ini juga paling sering terjadi. Terkadang seseorang sibuk dengan yang sunnah sampai melalaikan yang wajib. Ia fokus shalat malam sehingga shalat shubuhnya kesiangan, atau ia sibuk mengurus anak yatim sementara orang tuanya terlupakan. Maka penting bagi kita bahwa taqwa itu butuh tunduk, namun tak cukup tunduk dan taat melainkan harus disertai kesabaran, dan tak cukup dengan sabar melainkan juga dengan ilmu. 

Teruslah telaah dan evaluasi apakah prioritas amalan kita sudah benar atau belum. Teladanilah para sahabat dimana mereka selalu bertanya kepada Rasulullah tentang amalan yang paling utama. Kesempatan dan umur kita terbatas, maka ketika kita diberi kesempatan oleh Allah ta’ala beramal shalih yang utama, jangan kita lalaikan kesempatan tersebut. Jangan beri celah sedikitpun untuk syaitan dalam menghancurkan amalan kita. Allahul musta’an.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *