Tazkiyah

Nikmat Itu Bernama Ketentraman

Secara asal, bertahan di tempat dingin itu lebih susah daripada di daerah tropis. Pada kondisi normal saja, untuk keluar rumah ke tempat yang dekat seperti ke masjid atau ke supermarket pun harus berpakaian lengkap dan berlapis, pemanas air dan pemanas ruangan jadi kebutuhan pokok, kalau mau berangkat pakai mobil setelah hujan salju harus disikat dulu, tak bisa langsung pakai wiper karena saljunya sudah mulai mengeras, dan seterusnya. Maka apatah lagi ketika bencana. 

Ketika mendarat di Istanbul hava, mendapat kabar saudara kita di Hatay mengalami gempa susulan, karena begitu gentingnya tak semua sipil bisa masuk ke sana. Sungguh sangat berat ujian mereka dan semoga Allah menggantinya dengan balasan nikmat dunia akhirat yang jauh lebih besar dari musibahnya bagi kaum muslimin di sana.

Terlalu panas pasti tak nyaman, terlalu dingin pun tak akan nyaman. Maka ingat ketika Allah katakan tentang kebiasaan orang Quraisy, 

إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ

“kebiasaan mereka rihlah pada musim dingin dan musim panas”.

Kaum Quraisy adalah semua keturunan An Nadhar bin Kinanah atau sebagian lagi mengatakan bani Fihir bin Malik, yang merupakan kaum yang besar yang diberi nikmat keamanan dan kenyamanan oleh Allah sehingga ketika musim dingin mereka bisa leluasa ke selatan (Yaman), dan musim panas ke utara (Syam) untuk bisnis sekaligus mendapatkan suhu yang nyaman.

Jika seandainya keamanan dan kenyamanan itu dicabut maka hancur dan tercerai-berailah urusan dan persatuan mereka. Dalam ayat selanjutnya Allah berfirman,

الَّذِي أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَآمَنَهُم مِّنْ خَوْفٍ

“Yang telah memberikan makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan.”

Lihatlah ini nikmat yang begitu besar dari Allah. Sekalipun gersang namun penduduk Mekkah tak pernah kelaparan. Pun tidak juga ditimpa ketakutan atas ancaman negeri lain karena manusia menghormati penduduk Mekkah. Maka sungguh nikmat ketentrataman dan keamanan itu kenikmatan tersendiri yang bahkan ketika seseorang punya banyak harta tapi tidak aman maka diapun tak akan hidup tenteram. Seseorang dikatakan tenteram jika kebutuhan duniawinya terpenuhi dan dia merasa aman. Itulah mengapa Nabi bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan sehat badannya, aman pada keluarganya, dia memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya.” (HR Ibnu Majah 4141)

Inilah hakikat ketenteraman. Dan inilah pula makna ketika seseorang yang sudah punya harta banyak terkadang mereka akan mengatakan “uang tidak bisa membeli kebahagiaan”, karena memang hakikatnya begitu, mereka baru sadar ternyata ada kebutuhan yang jauh lebih besar daripada sekedar harta, yakni nikmat ketentraman. 

Ketentraman mungkin bisa dengan harta, namun ketentraman lebih bisa didapat dari keamanan dan kenyamanan, namun ternyata itupun tak langgeng. Maka satu-satunya ketentraman yang paling tinggi adalah dengan mentauhidkan Allah. Dengan iman dan tauhid, sekitarnya gonjang-ganjingpun dia tetap akan semakin getol menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya. Sudahkah kita memiliki nikmat yang seperti ini?.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *