Fikih

Apakah Cicak Dan Kotorannya Najis?

Pernah suatu ketika mendapat dua mandat dari zaujati. Pertama, ditugasi mengambil bangkai cicak yang terlanjur ikut tercuci di dalam mesin cuci bersama baju bersih. Kedua, menjawab pertanyaan apakah cucian harus dicuci ulang serta menjelaskan detail hukumnya.

Setelah tugas pertama selesai maka tugas kedua kami tuliskan di sini agar bisa diambil dan dibedah bersama faedahnya.

Pertama, kita pegang terlebih dahulu bahwa terdapat kaidah dasar dalam fiqh bahwa hewan yang memiliki darah mengalir dan tidak halal dimakan maka kotorannya najis.  

Kedua, sebaliknya, para ulama mengatakan bahwa hewan yang tak memiliki darah mengalir atau darah merah, seperti serangga dan yang semisal maka bangkainya tidak najis. Dalam Al Mughni Ibnu Qudamah rahimahullahu mengatakan,

ما لا نفس له سائلة، فهو طاهر بجميع أجزائه

“Hewan yang tak memiliki darah mengalir maka ia suci seluruh tubuhnya, pun juga apa yang keluar dari tubuhnya.”

Maka yang menjadi titik fokus selanjutnya, mengklasifikasikan cicak apakah termasuk hewan yang darahnya mengalir atau tidak. 

Jumhur pendapat mengatakan cicak bukan hewan dengan darah mengalir. Qaul An Nawawi rahimahullahu dalam Al Majmu’,

وأما الوزغ فقطع الجمهور بأنه لا نفس له سائلة

“Mayoritas ulama menegaskan bahwa cicak termasuk hewan yang tak memiliki darah merah mengalir.”

Namun sebagian ulama lainnya mengelompokkan cicak dengan ular yang memiliki darah yang mengalir, sehingga bangkai dan kotorannya juga najis. 

Adapun al faqir, lebih condong kepada pendapat bahwa cicak bukan hewan dengan darah mengalir sehingga ia bangkai dan kotorannya tidak najis. Ditambah pula terdapat kaidah ushul bahwa najis yang sangat sedikit dan menempel di badan dari hewan yang sulit dihindari, maka itu termasuk najis yang dima’fu (dimaafkan / boleh tak dicuci). Allahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *