Aqidah,  Tazkiyah

Berdosa Tapi Tak Menyadari

Ada tiga corong krusial yang paling bisa mempengaruhi kondisi hati. Penglihatan, pendengar, serta lisan. Secara asal fitrahnya bisa membedakan antara baik dan buruk, sampai lingkungan merusak hatinya lewat ketiga corong ini.

Ketika fitrahnya rusak, ia pun mudah terjerumus dosa terus-menerus namun dirinya tak menyadarinya. Sampai ada yang lisannya bersenandung menyanjung Nabi namun tangannya begitu ringannya memencet layar aplikasi judi. Ada pula yang merasa Islamnya sudah benar namun begitu ringannya lisannya menyebut ‘instan karma’.

Ada pula yang berpuasa namun dengan mudahnya bermesraan mengumbar auratnya lewat layar vc dengan orang asing. Padahal Nabi bersabda,

لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

“Janganlah kalian melarang istri-istri kalian untuk ke masjid, namun shalat di rumah mereka (para wanita) tentu lebih baik.

Coba kita perhatikan, banyak kebaikan muncul dari masjid, itulah mengapa Nabi mengatakan ‘لا تمنعوا’, jangan larang. Namun kemudian Nabi menyebutkan shalatnya wanita di rumah lebih baik. Mengapa diisyaratkan begitu?. Di antara sebabnya kata para ulama, karena mudharat fitnah wanita itu jauh lebih berbahaya dibanding mudharat tidak ke masjid.

Itulah mengapa di antara obat penjaga hati, pertama, yaitu dengan senantiasa membersihkan hati. Membersihkannya dengan mengenal Allah dan asma wa shifatnya, kemudian memohon sungguh-sungguh agar diampuni olehNya. 

Di antara syarat asma al husna adalah, bisa berdoa dengan nama-nama tersebut, datang dari Al Quran dan As Sunnah, dan nama-nama itu secara dzat menunjukkan puncak keindahan dan pujian. Firman Allah,

وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu” (QS. Al Isra’ : 180)

Para ulama menyebutkan korelasi antara lafal فادعوه بها dengan asma al husna, bahwa doa terbagi menjadi dua. Satu, du’a al mas’alah, yakni berdoa kepada Allah dengan menyebut nama Allah yang sesuai dengan kandungan doanya. Ketika memohon rizki kita bertawasuk dengan nama Allah Ar Razzaq, dan seterusnya.

Dua, du’a al ibadah, dan di antara implementasinya dengan meyakini kandungan nama tersebut, misalnya ketika kita putus asa kita ingat bahwa Allah Ar Rahim, Allah lebih sayang daripada ibu kita sendiri. Ketika kita taubat dari maksiat, kita tahu Allah Maha Pengampun, dan seterusnya. Begitu juga implementasinya adalah dengan merenungi dan mentadabburi ciptaanNya. 

Pada intinya, analoginya agar kita dicintai seseorang maka kita harus tahu sifatnya, apa yang ia suka dan ia benci. Maka apatah lagi dengan sang Khalik, bagaimana mungkin doa kita diijabah sedangkan kita secara detail belum mengenalNya.

Kedua, dengan senantiasa berusaha untuk belajar dan mengilmui. Ibarat orang awam yang tak mengerti mesin mobil, mesin V8, supercharger, atau mesin 3 silinder baginya akan sama saja. Namun tidak bagi yang mengerti, ia akan begitu takjub dan merasa istimewa dengan mesin dihadapannya.

Dengan permisalan yang lebih tinggi, maka perkara iman, akan sulit bergetar hatinya jika ia tak mengilmui tentang nama dan sifat Tuhannya, begitu detail dan adil syariatNya, atau tak pernah mentadabburi ciptaanNya. 

Itulah mengapa kita harus mau belajar agama. Karena hidup tak hanya sekali, akan ada kehidupan kedua yang isinya hisab dan tak ada lagi amal, dan kita perlu tahu cara agar bisa selamat di akhirat. Dan salah satu penyesalan penduduk neraka, karena mereka tak mau mendengarkan pelajaran agama selama hidupnya. Lihatlah firman Allah,

وَقَالُوا۟ لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِىٓ أَصْحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ

Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. (QS. Al Mulk : 10).

Tak ada manusia terlahir langsung paham ilmu. Selain para anbiya dan rasul yang mendapatkan ilmu dari wahyu, maka ia harus mendapatkan ilmunya dengan cara belajar. Firman Allah,

وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An Nahl : 78).

Maka dengan kedua instrumen ini, senantiasa membersihkan hati dan senantiasa berusaha untuk belajar dan mengilmui, semoga bisa menyelamatkan dan menjauhkan kita dari keadaan berdosa tapi tak menyadari. Allahul musta’an.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *